Jeju - Haenyeo, penyelam perempuan Pulau Jeju, Korea Selatan, menjaga tradisi turun-temurun dengan menyelam tanpa tabung oksigen mencari hasil laut. Begini aksinya.
Foto Travel
Haenyeo, Penyelam Perempuan Tangguh Penjaga Tradisi Jeju
Di balik pesona alam Pulau Jeju, Korea Selatan, terdapat komunitas perempuan tangguh yang selama berabad-abad menggantungkan hidup dari laut. Mereka dikenal sebagai haenyeo, penyelam tradisional yang mencari hasil laut tanpa menggunakan tabung oksigen.Β Getty Images/Chung Sung-Jun
Kemampuan menyelam hingga kedalaman belasan meter hanya dengan mengandalkan satu tarikan napas menjadikan mereka salah satu simbol ketangguhan perempuan Korea Selatan.Β Getty Images/Atlantide Phototravel SRL
Tradisi haenyeo telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Jeju. Para penyelam biasanya memanen hasil laut seperti abalon, gurita, bulu babi, kerang, hingga rumput laut. Selain menjadi mata pencaharian, aktivitas tersebut turut menjaga keseimbangan ekosistem laut karena para haenyeo menerapkan aturan adat mengenai ukuran dan musim panen sehingga sumber daya laut tetap lestari. Getty Images/Chung Sung-Jun
Berbeda dengan penyelam modern, haenyeo hanya menggunakan perlengkapan sederhana seperti masker, sirip, pakaian selam, jaring, dan pelampung. Mereka mampu menyelam hingga kedalaman sekitar 10β20 meter dan menahan napas selama satu hingga dua menit sebelum kembali ke permukaan. Saat muncul ke atas air, para penyelam mengeluarkan suara khas yang disebut sumbisori, teknik pernapasan untuk mengeluarkan karbon dioksida sekaligus menghirup oksigen sebelum menyelam kembali. Getty Images/Chung Sung-Jun
Profesi haenyeo juga mencerminkan kuatnya peran perempuan dalam masyarakat Jeju. Sejak abad ke-18, perempuan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga melalui hasil tangkapan laut, sementara laki-laki lebih banyak bekerja di sektor lain atau pergi berlayar. Kondisi tersebut membentuk budaya yang memberi perempuan posisi penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Getty Images/Chung Sung-Jun
Keunikan tradisi ini membuat budaya Haenyeo Jeju ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2016. Pengakuan tersebut diberikan karena haenyeo tidak hanya merepresentasikan keterampilan menyelam tradisional, tetapi juga nilai solidaritas, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan perempuan yang telah bertahan selama ratusan tahun.Β Getty Images/Chung Sung-Jun
Namun, keberadaan haenyeo kini menghadapi tantangan besar. Mayoritas penyelam yang masih aktif telah berusia lanjut, sementara semakin sedikit generasi muda yang memilih melanjutkan profesi tersebut karena risiko pekerjaan yang tinggi dan peluang kerja lain yang lebih menjanjikan. Saat ini jumlah haenyeo diperkirakan hanya tersisa sekitar 3.000 orang, jauh menurun dibandingkan beberapa dekade lalu. Getty Images/Chung Sung-Jun
Di sisi lain, perubahan iklim dan kerusakan lingkungan laut turut mengancam keberlangsungan profesi ini. Berkurangnya hasil tangkapan akibat perubahan ekosistem mempersulit kehidupan para penyelam tradisional, sehingga berbagai upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan dan masyarakat Jeju melalui pendidikan, museum, hingga promosi budaya kepada wisatawan.Β Getty Images/Atlantide Phototravel SRL











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA