Pekan lalu, detikTravel bersama rombongan dari Indonesia berkunjung ke kawasan yang berada di dekat pelabuhan dan Sydney Harbour Bridge tersebut. Kami ditemani Margot Cuthill, perwakilan Destination New South Wales, biro pariwisata Negara Bagian New South Wales.
Cuaca sedikit mendung. Sinar matahari sesekali menerpa, lalu hilang terhalang awan. Suhu berkisar 10-15 celcius. Dinginnya agak menusuk saat angin laut berembus. Maklum, Australia sedang musim dingin saat ini.
Kawasan The Rocks mirip kota tua Jakarta. Di sinilah cikal bakal kota metropolitan Sydney. Bangunan-bangunan berumur ratusan tahun berdiri gagah. Hampir semuanya bercat merah bata dan krem. Di sisinya terdapat satu dua pohon menjulang dengan daun yang tak rimbun.
Saat kami datang, sekitar pukul 12.20 waktu setempat, suasana cukup ramai. Ratusan orang lalang lalang dengan leluasa. Tak perlu berhimpitan karena akses cukup lebar dan banyak. Penduduk lokal lebih dominan dibanding turis.
Meski sifatnya pasar kaget, struktur PKL tampak rapi. Tidak ada yang asal buka lapak. Sebagian besar di antaranya dinaungi tenda besar berwarna putih, hanya beberapa yang berjualan di tempat terbuka. Pedagang aksesoris dan suvenir berada di titik tertentu. Pedagang makanan di titik lainnya.
Harga barang di pasar dadakan ini jelas relatif lebih murah beberapa dolar dibanding toko. Tapi jika dirupiahkan, bisa dibilang harganya agak mahal. Bumerang misalnya, dibanderal dengan harga AUD 35 atau setara dengan Rp 400-an ribu. Perhiasan berupa permata dan mutiara dijual seharga AUD 20-45. Karena namanya pasar, tentu saja tidak diharamkan tawar-menawar. Apalagi jika ingin membeli lebih dari satu. Jatuhnya lebih murah.
Harga pakaian atau kaos terbilang standar. Berkisar AUD 10-30. Sebagian besar memang tidak bermerek tapi kualitas bahannya cukup bagus. Sepadan dengan harga jualnya. Hanya aksesori yang dijual murah, berkisar AUD 5 atau di bawahnya.
Di antara pedagang aksesoris dan barang-barang modern serta makanan ala kota, ada yang berjualan jagung rebus. Jangan dibayangkan penjualnya membawa gerobak dorong dan panci besar dengan uap mengepul. Di kawasan tersebut, penjual cukup memajang jagung-jagung mentah sebagai penarik perhatian. Beberapa orang, termasuk turis asal Asia Timur, tampak antusias menggerogoti menu yang mantap disikat saat cuaca dingin tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk menikmati pasar kaget The Rocks. Apalagi jika tidak berniat berbelanja. Cukup 30 menit, semua lapak tuntas dilongok. Saat kami beringsut dari lokasi gerimis turun, tapi beberapa menit kemudian hilang.
Suasana serasa sore di Indonesia, padahal saat itu baru pukul 12.50. Meski demikian, beberapa orang terus berdatangan. Selain benar-benar berbelanja, sebagian orang terutama turis, hanya tampak foto-foto. Tentu, background-nya bukan hanya keramaian pasar kaget, tapi gedung-gedung tua yang bersih, megah, dan tertata. Sebuah lanskap yang tak selalu bisa ditemui di tempat-tempat lainnya. Termasuk di Indonesia?
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Visa Ditolak, Iran Tuduh AS Diskriminasi Delegasi Timnas Jelang Piala Dunia