Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 13 Mei 2020 03:13 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Suasana Ramadhan di Bawah Naungan Langit Negeri Dua Benua

Cyindi Noviani
detikTravel
Suasana ramadhan di Kota Izmir, Turki oleh Cyindi Noviani
Foto: Cyindi Noviani
Izmir -

Saya Cyindi pelajar Indonesia di Universitas Pamukkale, Denizli, Turki. Sebelumnya saya pikir saya akan menikmati indahnya bulan suci Ramadhan di Denizli. Namun karena asrama kami di Denizli dipakai untuk karantina COVID-19 jadi kami dipindahkan ke kota terbesar ketiga di Turki yaitu Kota Izmir. Sebagaimana orang-orang berkata ada yang spesial dengan bulan Ramadhan saya kali ini, apa ya kira-kira?

Biasanya kemanapun saya berkelana setidaknya hari pertama bulan Ramadhan saya nikmati bersama keluarga, terutama dua malaikat tanpa sayap yaitu ayah dan ibunda. Buka bersama keluarga, pergi Tarawih ke masjid bersama lalu berjumpa dengan teman-teman sekampung hingga sahur bersama keluarga lagi. Walaupun beberapa hari setelah itu saya kembali ke asrama dan menikmati Ramadhan bersama teman-teman dan ustad.

Kali ini untuk pertama kalinya di dalam hidup, saya tidak menikmati bulan Ramadhan di rumah. Jumat, 24 April 2020 adalah 1 Ramadhan 1441 H. Agar lancar dan diterimanya amal ibadah maka saya hanya bisa meminta mohon maaf kepada orang tua dan semua yang kenal melalui via telepon whatsapp.

Begitu pula dengan teman-teman dan guru-guru saya di sini kami saling mendoakan "Hayırlı Ramazan' atau bisa diartikan semoga Ramadhannya berkah.



Negeri Ustmaniyah sekarang sedang berada di musim semi. Menambah indah negeri dua benua ini, bunga-bunga mulai tersenyum bermekaran, burung-burung pun bernyanyi seolah menghibur hatiku yang sesekali merasa bosan karena hanya bisa menatap keindahan Kota Izmir dari jendela atau menikmati temaram dari lantai paling atas gedung asrama Universitas Ege.



Di balik indahnya musim semi ini ada satu hal yang membuat saya merasa lebih tertantang pada bulan Ramadhan kali ini yaitu waktu siang yang lebih panjang.

Suasana ramadhan di Kota Izmir, Turki oleh Cyindi Noviani Turki tengah musim semi Foto: Cyindi Noviani



Biasanya saya dan keluarga yang tinggal di Sumatera Barat hanya menjalankan ibadah puasa selama tiga belas jam setengah, kira-kira pukul 18.30 WIB adalah waktu paling lama bagi kami untuk berbuka puasa. Nah di Kota Izmir ini saya menjalankan ibadah puasa selama lima belas jam setengah, kira-kira pukul 20.00 TRT.

Suatu kebahagiaan ketika bulan Ramadhan di Indonesia adalah ngabuburit berburu takjil. Di Turki pun juga ada hal seperti ini, pada berita-berita yang pernah saya baca adanya festival Ramadhan yang memberikan buka gratis atau para pedagang yang menjual berbagai macam manisan. Namun, karena keadaan kali ini hal seperti itu belum saya jumpai.

Menu makan buka bersamaMenu makan buka bersama Foto: Cyindi Noviani



Ngabuburit di asrama pun juga indah sepanjang jalan bunga-bunga bermekaran, ranting-ranting pohon zaitun yang mencapai jalan dan diikuti kucing-kucing imut seolah kelaparan meminta makan.

Pukul 19.00 TRT saya bersiap-siap menuju kantin untuk berbuka di sana. Tak jarang saya berjumpa teman-teman sesama Indonesia lalu kami pun buka bersama. Menu yang disajikan beragam mulai dari nasi, ayam, kentang, roti, terong, sup dan jenis sayur-sayuran lainnya yang belum saya ketahui namanya.

Suasana ramadhan di Kota Izmir, Turki oleh Cyindi NovianiSuasana ramadhan di Kota Izmir, Turki oleh Cyindi Noviani Foto: Cyindi Noviani



Nyatanya negara yang mendapatkan julukan negeri kebab ini, belum pernah saya jumpai kebab sebagai menu berbuka. Setelah berbuka kami bisa mendirikan ibadah Salat Maghrib di musola kantin atau mushola asrama.



Setelah selesai melaksanakan serangkaian ibadah Magrib kami diberi waktu sampai jam sepuluh untuk mengambil bekal untuk sahur. Menu yang disediakan untuk sahur lebih sederhana seperti roti, kentang, telur, mentimun dan tomat.

Ketika embun di Indonesia sudah mulai kering, saya bangun pukul tiga atau empat untuk sahur sendiri di kamar.

Dalam bayangan sebelumnya saya akan menjalankan ibadah Salat Tarawih berjamaah di masjid, dengan sedikit perbedaan cara beribadah. Namun karena dunia sedang dilanda pandemi maka kami hanya bisa melaksanakan Salat Tarawih di asrama. Di asrama pun kami dilarang untuk saling berdekat-dekatan, kami diberikan kamar satu per orang, begitupun dengan salat lebih dianjurkan untuk tidak berjamaah.

Jikalau keadaan normal, sebagaimana saya ketahui dari teman-teman disini bahwa di Turki perempuan akan sangat jarang pergi Salat Tarawih berjamaah di masjid. Tapi masih ada perempuan yang mengerjakan salat berjamaah di masjid seperti yang senior saya lakukan.

Begitulah kisah singkat Ramadhan saya di negeri dua benua ini. Perbedaan-perbedaan yang membuat kami perlu saling mengenal. Banyak hal baru yang membuat saya semakin takjub akan kekuasaan-Nya.

Tak jarang kita memerlukan jarak dan rindu agar kita menghargai sebuah pertemuan. Perlu syukur agar apapun hal positif yang kita lihat menjadi nikmat.

Cyindi Noviani
Pamukkale University
Tinggal di Denizli, Turki
PPI Izmir, Turki

----

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc abdulfatahamrullah@ppi.id, dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.

(ddn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA