Dulu, tempat-tempat ini dikenal sebagai simbol keagungan alam dan sejarah manusia. Namun seiring waktu, popularitas membawa konsekuensi yang tak selalu indah.
Pariwisata memang membuka akses dan menggerakkan ekonomi, tetapi ketika jumlah pengunjung tak lagi terkendali dan komersialisasi melampaui batas, pesona sebuah destinasi perlahan terkikis.
Kawasan yang dulu sakral berubah menjadi latar swafoto, ruang publik dipenuhi pedagang agresif, dan ekosistem rapuh terancam oleh jejak manusia. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada nilai sejarah, budaya lokal, hingga pengalaman wisata itu sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situs kuno yang kini dikelilingi hiruk pikuk komersial hingga wilayah paling terpencil di bumi yang mulai ramai kapal pesiar, berikut deretan destinasi menakjubkan yang dinilai kehilangan sebagian pesonanya akibat komersialisasi berlebihan.
10 Destinasi yang Dirusak Komersialisasi
Melansir Love Exploring, Kamis (26/2/2026), berikut 10 destinasi yang dirusak oleh pariwisata dan komersialisasi.
1. Gunung Everest, Nepal
Pendakian Gunung Everest (dok. Reuters) |
Pendakian di Gunung Everest kini telah berubah menjadi industri komersial besar. Setiap tahun, sekitar 700 hingga 1.000 orang mencoba menaklukkan gunung tertinggi di dunia ini. Pada 2025, tercatat 846 pendaki mencapai puncak, sementara ribuan lainnya berada di jalur pendakian.
Lonjakan ini membawa dampak serius bagi kelestarian alam, tumpukan sampah, kotoran manusia, hingga jasad pendaki yang belum dievakuasi masih tertinggal di gunung. Selain itu, penggunaan perlengkapan dan aktivitas pendakian yang masif ikut mengikis medan.
2. Great Barrier Reef, Australia
Great Barrier Reef di Queensland, Australia. (Getty Images/iStockphoto/Edward Haylan) |
Sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, Great Barrier Reef membentang sejauh 2.301 kilometer di lepas pantai Queensland, Australia. Keindahan bawah lautnya yang luar biasa menjadikannya magnet wisata global, dengan sekitar dua juta pengunjung datang setiap tahun.
Tingginya jumlah wisatawan membawa dampak serius. Aktivitas yang kurang bertanggung jawab dapat merusak ekosistem terumbu karang yang rapuh, sementara padatnya lalu lintas kapal dan wisatawan membuat pengalaman menyelam atau snorkeling terasa kurang nyaman.
3. Tembok Besar China, China
Jinshanling, salah satu bagian Great Wall China. (VCG/VCG via Getty Images) |
Tembok Besar China membentang dari Shanhaiguan di timur hingga Jiayuguan di barat, tembok ini menjadi salah satu simbol sejarah paling ikonik di dunia. Namun ironisnya, situs yang menarik lebih dari 10 juta pengunjung setiap tahun ini justru menghadapi ancaman dari pariwisata berlebihan.
Kerusakan fisik terus terjadi akibat vandalisme, mulai dari pencurian batu bata hingga coretan grafiti. Beberapa bagian terpopuler di dekat Beijing, seperti Badaling, bahkan harus membatasi kunjungan hingga 65.000 orang per hari demi mengurangi tekanan.
4. Kepulauan Galapagos, Ekuador
Singa laut di Galapagos Foto: Getty Images/iStockphoto/guenterguni |
Dulu dikenal sebagai kepulauan terpencil yang nyaris tak tersentuh, Galapagos Islands kini mengalami lonjakan pariwisata besar-besaran hingga sekitar 300.000 pengunjung setiap tahun.
Pertumbuhan wisata juga mendorong peningkatan populasi penduduk untuk mendukung industri pariwisata, terlihat jelas di Puerto Ayora, kota utama di Santa Cruz, yang kini dipenuhi toko suvenir dan fasilitas wisata
Ledakan ini memicu kekhawatiran serius terhadap kelestarian lingkungan yang rapuh dan keanekaragaman hayatinya yang unik, bahkan kawasan ini sempat masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO yang terancam pada 2007.
5. Stonehenge, Inggris
Stonehenge (BBC) |
Sebagai salah satu situs prasejarah paling terkenal di dunia, Stonehenge telah memikat wisatawan dan komunitas pagan selama ribuan tahun. Meningkatnya jumlah wisatawan memicu kekhawatiran akan kerusakan, sehingga area ini dipagari untuk melindungi struktur bersejarah tersebut.
Kini, kunjungan ke Stonehenge kerap terasa kurang intim karena ramainya rombongan tur dan kebisingan lalu lintas dari jalan utama di sekitarnya.
Saat perayaan titik balik matahari musim panas, ribuan orang memadati area untuk menyambut matahari terbit, membuat suasana semakin padat.
6. Petra, Yordania
Wisatawan berfoto dengan latar belakang Al-Khazneh (The Treasury) di Ma'an, Petra, Yordania (M Adimaja/Antara) |
Petra merupakan ikon pariwisata Yordania dan salah satu situs warisan dunia paling terkenal. Kota batu berwarna merah muda ini memang memukau, tetapi popularitasnya membawa ancaman bagi kelestarian harta sejarah tersebut.
Struktur batu pasir yang rapuh menghadapi risiko dari aktivitas pengunjung, mulai dari wisatawan yang menunggang keledai menaiki tangga menuju biara hingga orang-orang yang bersandar atau memanjat dinding kuno.
7. Gua Lascaux, Prancis
Gua Lascaux (Wikipedia) |
Gua Lascaux Cave terletak di Dordogne, Prancis, menyimpan sekitar 600 lukisan purba yang ditemukan oleh sekelompok remaja pada 1940 dan mulai dibuka untuk umum pada 1948.
Namun, ribuan wisatawan yang datang setiap tahun mengubah suhu dan kelembapan di dalam gua, memicu pertumbuhan alga serta kristal yang merusak karya seni berusia ribuan tahun tersebut. Demi melindungi peninggalan berharga itu, gua ini ditutup permanen.
8. Piramida Giza, Mesir
Piramida Giza (Newsweek) |
Piramida Agung Giza menjadi satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih bertahan hingga hari ini. Berdiri di dataran tinggi Giza, piramida-piramida raksasa itu menarik minat para wisatawan.
Namun, pengalaman magis tersebut tak selalu berjalan mulus. Sejumlah pengunjung mengeluhkan gangguan dari pedagang yang terlalu agresif menawarkan barang dan jasa.
Kehadiran gerai makanan cepat saji yang kurang tertata serta pembangunan apartemen yang terkesan terburu-buru di sekitar kawasan Giza juga dinilai mengurangi keaslian lanskap bersejarah ini.
9. Pulau Paskah, Chile
Patung kepala batu Moai di Pulau Paskah peninggalan orang Rapa Nui. (Wikimedia Commons) |
Pulau Rapa Nui atau yang lebih dikenal sebagai Pulau Paskah membuat pulau kecil milik Chili tersebut terkenal secara global dan menarik jutaan wisatawan yang ingin menyaksikannya secara langsung.
Lonjakan pariwisata membawa tantangan, jumlah penerbangan serta kapal pesiar yang semakin terjangkau membuat arus kunjungan melonjak signifikan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat lokal Rapa Nui terhadap dampak pariwisata terhadap lingkungan dan warisan budaya mereka yang rapuh.
10. Antartika
Gento, penguin Antartika (Getty Images/iStockphoto/elmvilla) |
Pada musim wisata antara Oktober 2023 hingga Maret 2024, jumlah pengunjung Antartika menembus angka 100.000, lonjakan drastis wisatawan ini membawa dampak buruk.
Beberapa kapal pesiar bahkan mampu mengangkut lebih dari 400 penumpang dalam satu perjalanan. Emisi karbon dari perjalanan jarak jauh, aktivitas kapal, serta potensi gangguan terhadap ekosistem memicu kekhawatiran para aktivis lingkungan.
Banyak pihak menilai perlu ada regulasi dan pengawasan yang lebih ketat agar komersialisasi tidak menggerus kelestarian salah satu kawasan paling murni di planet ini.
Simak Video "Video Momen Menggemaskan Kawanan Kucing Pallas Melintas di Jalan Raya"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)






















































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?