Selamat datang dalam sejarah kelam Seattle. Kota di negara bagian Washington ini menyimpan cerita lewat sebuah tur yang tak bisa. Kamu pernah dengar?
Bagi para suporter Piala Dunia 2026 yang mendarat di Seattle, kota ini mungkin langsung menyapa mereka dengan aroma kopi yang harum di setiap sudut jalan dan kemegahan Stadion Lumen Field. Sebagai tempat lahirnya raksasa kopi dunia, Starbucks, Seattle tampak seperti kota modern yang dinamis dan estetik di atas permukaan.
Namun, bagi para traveler yang haus akan petualangan berbeda, daya tarik terbesar kota ini justru terletak pada rahasia kelam yang berada di bawah aspal jalanannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh di bawah distrik bersejarah Pioneer Square, terdapat jaringan labirin gotik yang dikenal sebagai Seattle Underground. Tempat ini bukanlah stasiun kereta ataupun terowongan modern, melainkan reruntuhan kota asli abad ke-19 yang sengaja dikubur, seperti dikutip dari situs resminya.
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1889, kota Seattle hangus total akibat kebakaran besar. Saat bersiap membangun kembali, pemerintah kota dihadapkan pada masalah besar: topografi asli Seattle sangat rendah dan sering terendam banjir rob air laut.
Sebuah keputusan radikal harus diambil. Pemerintah memutuskan untuk meninggikan jalan raya sebanyak satu hingga dua tingkat di atas permukaan lama dengan cara membangun dinding beton dan menimbunnya dengan tanah.
Alhasil, seluruh lantai dasar bangunan, etalase toko, dan trotoar kuno Seattle abad ke-19 tertimbun di bawah tanah dan terisolasi dari dunia luar.
Jaringan labirin bawah tanah yang raksasa ini awalnya membentang di bawah 31 blok kota. Namun, kini publik tak dapat mengakses sepenuhnya.
Lewat BillSpeidel's Underground Tour, turis dapat menjelajahi kota mati ini. Bill Speidel's Underground Tour pertama kali dibuka untuk umum pada tahun 1965.
Tur ini berawal dari inisiatif seorang jurnalis dan pegiat sejarah lokal bernama Bill Speidel. Ia melihat potensi besar dari sejarah Seattle yang terkubur di bawah tanah dan mulai mengorganisasi tur ini untuk menyelamatkan distrik kuno Pioneer Square dari rencana pembongkaran oleh pemerintah saat itu.
Berkat upayanya sejak tahun 1965 tersebut, kawasan bersejarah ini berhasil dilestarikan dan kini menjadi salah satu objek wisata paling ikonis di Seattle.
Meskipun rute tur hanya mencakup beberapa blok utama di sekitar area bawah tanah Pioneer Square, wisatawan dapat melihat langsung bagaimana kehidupan di abad ke-19 secara langsung.
Untuk menikmati petualangan berdurasi sekitar 75 menit ini, turis perlu merogoh kocek sekitar USD 22-25 (Rp 350.000-405.000) per orang.
Berjalan menyusuri lorong-lorong remang yang hanya diterangi lampu kuning, kamu akan disuguhi pemandangan yang janggal sekaligus magis: pintu-pintu toko kuno lengkap dengan papan namanya yang usang, jendela-jendela berdebu, dan bilik kayu tua yang menghadap ke dinding tanah kosong.
Tur lorong bawah tanah ini menawarkan pengalaman yang luar biasa bagi siapa saja yang berkunjung. Di saat bagian atas kota sedang riuh rendah oleh gemuruh dan yel-yel modern para suporter bola, beberapa meter di bawah kaki mereka justru membentang keheningan total dari sisa-sisa peradaban masa lalu yang kini dihuni oleh cerita-cerita hantu lokal.











































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan