DetikTravel

Desa Kincir Air

Jejak Petualang - d'Traveler - Senin, 04/08/2014 15:20:58 WIB
detikTravel Community -  

banyak pertimbangan ketika nenek moyang kita menentukan dimana mereka akan tinggal, kebutuhan pokok seperti makanan, air dan kemamanan adalah sebagian faktor saja.

akal pikiran yang kemudian mendorong mereka untuk bertahan di satu lokasi yang mereka pilih. ditemani warga setempat dan pembawa barang yang bisa disebut capung, kami berangkat menuju desa paling ujung dari taman nasional kerinci seblat. sambutan keramahan warga desa membuat rasa penasaran apa yang ada di dalam sana.

 

baru saja keluar desa jalur yang katanya rata kami disambut tanjakan yang licin karena guyuran hujan semalam. meski terbilang hancur, namun jalan ini adalah satu satunya jalan keluar masuk desa sungai lisai, jadi mau tidak mau mereka harus melewatinya sehari hari. baru setengah perjalanan tapi saya sudah lupa berapa sungai besar dan kecil yang saya lewati, maklum jalur ini berapa disepanjang sungai besar jadi banyak anak sungai yang memotong jalan setapak. di beberapa lokasi terlihat bekas banjir yang membawa sampah tumbuhan sampai merusak jalan utama.ternyata tidak hanya manusia yang mampu melewati jalan ini, tapi motor para ojek memang sudah di modifikasi sedemikian banyak.dulu sebelum ojek mampu tembus jalan ini, masyarakat setempat menggunakan kuda sebagai alat angkut utama.

 

sangat beruntung, baru beberapa menit kami tiba di desa sungai lisai hujan besar datang mengguyur menyuburkan tanah, namun ada satu hal yang menjadi perhatian saya. jauh dari kota dan desa terdekat desa ini diterangi bohlam listrik yang hampir ada di setiap rumah.sore,  malam dan pagi menjelang saya mencoba menelusuri kabel yang ada dibelakan rumah. Ternyata sumber listrik didesa ini masih mengandalkan kekuatan kincir air. terlihat sangat sederhana, berbahan baku kayu yang diperoleh dari hutan sekitar peralatan ini mampu menghasilkan listrik yang dapat mencukupi kebutuhan warga desa dan istimewanya lagi mereka membiayai semua ini sendiri.

 

dengan hanya melihat di kampung yang jauh dari desa mereka, warga lisai mencoba membuat sendiri dengan modal utama sungai yang banyak melewati desa. akhirnya mereka berhasil. tidak hanya listrik yang dihasilkan pekerjaan lain seperti menumbuk kopi pun dipermudah dengan peralatan sederhana ini. tidak harus menunggu datangnya peralatan rumit dengan harga selangit, kemauan warga untuk dapat meikmati listrik mendorong kreatifitas mereka untuk maju.

tidak hanya peralatan yang memukau rasa ingin tahu saya, tapi tanpa sengaja nada yang dihasilkan menambah suasana semakin terasa asri.

 

hidup di habitat harimau, masyarakat lisai sangat menghargai alam dengan cara mereka sendiri. dengan tidak berburu mangsa atau makanan si raja hutan mereka percaya hidup mereka tidak akan diganggu oleh pemilik rimba. masih ada pilihan untuk memenuhi kebuthan protein, sungai lisai yang amsih jauh dari tercemar menyediakan kebutuhan lauk yang tiada habisnya.ada pak alip yang akan memberi tahu saya apa saja yang ada di sungai lisai, sayang hujan semalam membuat air tinggi dan keruh. selain jala yang sering digunakan warga, masih ada pancing yang biasa digunakan disini dan dua duanya banyak mengahsilkan.

yang namanya belajar, jangan mudah menyerah satu saat pasti ada kalanya berhasil.

 

karena banyak pekerjaan yang ditanggung setiap orang, warga disini mengawetkan ikan agar bisa dimakan dalam waktu beberapa hari kedepan. dengan sedikit perkerjaan tambahan ikan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama. sangat mudah,  hanya berbekal kayu agak kering ikan selesai di salai, selain awet rasa yang dihasilkan pun lebih lezat.

 

 


Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com