DetikTravel

Kalau Liburan ke Desa di Wakatobi Ini, Pantang ke Luar Rumah Saat Malam Selasa

Bona - detikTravel - Jumat, 18/11/2016 10:10 WIB
Kaledupa - Traveling ke Wakatobi tak hanya sekedar melihat pemandangan eksotis atau menikmati suasana romantis. Di sini juga ada pantangan berbau mistis di malam selasa.

Beberapa waktu lalu detikTravel mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Desa Pajam, Wakatobi. Desa ini berada di Pulau Kaledupa.

Di sebut-sebut sebagai desa tertua dari zaman Kerajaan Kaledupa, Pajam memiliki wisata mistis yang tersembunyi, Benteng Kamali.

Wisata ini tidak jauh dari gapura Desa Pajam. Hanya sekitar 500 meter dengan berjalan kaki.

Gapura Benteng Kamali (Bonauli/detikTravel)Gapura Benteng Kamali (Bonauli/detikTravel)


Ditemani ketua komunitas tenun ikat Jalima, Nurmi, detikTravel berhasil mengabadikan potret benteng ini. Di dalam hanya ada dua bangunan yaitu benteng di sisi kiri dan aula di sisi tengah. Di sisi kanan hanya ada pohon mati dan tumpukan batu sebagai pembatas dengan rumah warga.

"Kalau mau foto harus cepat. Di sini ada penunggu," ujar Nurmi.

Hanya ada dua bangunan, benteng dan aula (Bonauli/detikTravel)Hanya ada dua bangunan, benteng dan aula (Bonauli/detikTravel)
Kami tidak sampai masuk ke dalam benteng karena tidak bersama juru kunci. Menurut masyarakat sekitar kalau beruntung akan ada 4 penjaga yang akan terlihat di dalam potret.

Ada beberapa pantangan jika berkunjung ke desa ini. Pertama tidak boleh keluar rumah saat malam selasa dan selasa pagi.

Di samping kanan hanya ada pohon mati dan tumpukan batu sebagai pembatas (Bonauli/detikTravel)Di samping kanan hanya ada pohon mati dan tumpukan batu sebagai pembatas (Bonauli/detikTravel)
Konon, dari dalam benteng akan keluar lampu minyak seperti bola api menuju Bau-bau. Mereka percaya lampu ini akan terbang menuju keraton.

"Dulu lebih ketat, kalau lewat di depan benteng harus tegap seperti tentara," jelas Nurmi.

Selain itu jika dulu traveler melewati Benteng Kamali dengan payung, payung harus di miringkan ke sisi samping atau di turunkan. Itu sebagai tanda penghormatan kepada penghuni benteng.

"Tapi kalau sekarang sudah tidak, kalau lewat biasa saja asal jangan berhenti di depan benteng," ungkap Nurmi.

Pantangan lainnya adalah saat naik dari Benteng Kamali. Pengunjung harus cuci kaki sesuai dengan amanat juru kunci.

"Kalau tidak cuci kaki nanti kena guna-guna," ujar Nurmi.

Untuk bangunan yang berada di tengah digunakan untuk melaksanan Tari Lariangi. Tari tradisional ini digelar pada hari-hari tertentu saja. Wah, ternyata di balik eksotisnya pemandangan bawah laut, Wakatobi juga punya sisi mistis ya. (bnl/krn)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com