DetikTravel

Tren Traveling 2017

Tahun 2017, Waspadai 4 Tren Penipuan yang Sering Menimpa Traveler

Kurnia Yustiana - detikTravel - Kamis, 12/01/2017 18:15 WIB
Jakarta - Traveler sebaiknya bisa lebih berhati-hati saat liburan agar tak jadi korban penipuan. Berikut 4 tren penipuan yang tak jarang terjadi pada turis.

Merencanakan liburan dan benar-benar melakukannya sesuai rencana pastilah menyenangkan. Liburan memang saatnya bersenang-senang, tapi jangan lupa juga untuk terus waspada agar tidak menjadi korban penipuan.

Tahun telah berganti, zaman pun yang makin maju. Sedikit banyak modus penipuan juga makin beragam. Apalagi saat ini berbagai urusan traveling juga sudah dilakukan secara online. Penipuan seperti situs pemesanan palsu banyak beredar.

Belum lagi ada saja travel agent palsu hingga pemandu wisata abal-abal yang meminta bayaran tanpa kejelasan, dan ini bisa terjadi di berbagai negara. Dirangkum detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (12/1/2017), berikut 4 penipuan yang sering menimpa traveler:

1. Situs bohongan

Yang pertama adalah cloned website alias situs bohongan atau situs palsu. Situs ini cukup sulit dibedakan karena begitu mirip dengan aslinya. Misalnya saja situs mengenai pemesanan tiket festival atau paket liburan.

Tentunya tidak lucu ketika sudah bayar tiket ke rekening tujuan yang tertulis di situs itu ternyata tak ada tiket masuk ke email. Gagal menyaksikan festival dan uang pun raib. Untuk melacak pembuat situs pun tak selalu mudah, butuh bantuan orang yang ahli dibidangnya.

Sebelum memesan apapun melalui situs internet, sebaiknya cek dulu apakah itu resmi atau tidak. Terkadang cloned website ini alamat situsnya sama hanya yang membedakan adalah .com, .co.id bisa saja diganti .net dan lain sebagainya.

2. Situs penipuan

Scam website atau situs penipuan sengaja dibuat untuk menipu customer. Misalnya saja dibuat situs untuk pemesanan hotel dengan tampilan begitu meyakinkan. Kolom untuk sign up pun didesain ciamik.

Untuk menghindari situs penipuan ini sebaiknya sebelum memesan apapun yang mewajibkan transfer uang, cek dulu apakah itu adalah situs resmi. Jangan langsung percaya dengan tampilan yang bagus.

Kalau mau, tanyakan juga kepada sahabat kamu apakah pernah booking dari situs tersebut dan bagaimana review-nya. Kemudian biasanya situs pemesanan yang asli diawali dengan 'https://'. Jika tidak ada, kamu perlu waspada.

3. Paksaan membayar uang via transfer

Satu lagi yang tak kalah penting tentang pemesanan terkait traveling via online. Waspadai jika di situs tersebut hanya menyediakan pembayaran lewat transfer bank, tanpa adanya opsi lain seperti menggunakan kartu kredit. Jika traveler terlanjut tertipu dengan yang seperti ini, cukup sulit untuk bisa mendapatkan uang telah dibayarkan kembali ke kantong kita.

4. Penjahat berkedok petugas resmi

Dari awal perencanaan hingga liburan terealisasi, biasanya traveler perlu berurusan dengan banyak pihak. Mulai dari agen perjalanan, rental kendaraan, penjual tiket masuk tempat wisata, hingga pemandu wisata. Bukan tidak mungkin, tiba-tiba orang yang berurusan dengan kamu adalah petugas gadungan.

Kasus traveler yang ditipu pemandu wisata telah terjadi beberapa kali. Contohnya yang terjadi tahun lalu, di mana ada 38 turis China ditelantarkan pemandu wisata di Thailand. Tentunya sayang sekali jika keinginan bersenang-senang saat liburan malah berubah menjadi masalah.

Sebaiknya memang kalau membutuhkan jasa untuk mengurus berbagai hal terkait liburan, carilah yang resmi. Mulai dari agen perjalanan, pemandu wisata yang bersertifikat dan lain sebagainya. (krn/aff)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Must Read close
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com