DetikTravel

Pulih atau Mati, Apa Nasib Karang Raja Ampat Usai Ditabrak Kapal?

Bona - detikTravel - Kamis, 16/03/2017 12:51 WIB
Jakarta - Kondisi karang di Pulau Kri, Raja Ampat yang ditabrak kapal, bisa dibilang memilukan. Pulih atau justru mati, seperti apa masa depan karang-karang ini?

Banyak orang yang tidak menyadari, karang merupakan spesies hewan bukan tumbuhan. Karang juga sangat rentan. Karang juga mudah patah atau tertular penyakit dari karang lain yang sakit.

"Ya bisa juga demikian (terjangkit penyakit menular). Karena luka terbuka membuat karang jadi rentan terkena penyakit," kata dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP, Dr Ir Diah Permata Msc kepada detikTravel, Kamis (16/3/2017).

Kondisi terbukanya luka pada karang bisa mengganggu keseimbangan simbiosis karang dengan bakteri yang menyelimutinya. Karena karang tak hanya bersimbiosis dengan zooxanthella, tapi juga dengan sejumlah bakteri dalam koloninya.

"Istilahnya Coral Holobiont, ada virus, bakteri dan jamur dan zooxanthella yang bersimbiosis. Simbiosis ini akan terganggu jika kondisi karangnya sendiri terganggu, misalnya terluka atau naiknya suhu air laut," jelas Diah.

Rusaknya karang bisa memicu perubahan komposisi bakteri pada karang. Sehingga jumlah bakteri baik akan kalah dengan yang patogen atau atau mikroorganisme parasit.

Akibatnya, karang akan menjadi sakit atau terkena penyakit. Kondisi ini bisa menjadi parah jika suhu air laut meningkat karena akan mempercepat timbulnya bleaching atau pemutihan pada karang.

Lalu seperti apa masa depan karang-karang di Raja Ampat?

"Kalau di Raja Ampat dengan perairan yang bersih, mestinya bisa lebih cepat pulih. Tapi kalau menghitung sekian hektar kerusakannya, ya butuh waktu lama," ungkap Diah.

Tonton video 20detik di sini:


Bayangkan, untuk luka terbuka karena proses transplantasi (rehabilitasi dengan pencangkokan) butuh waktu minimal 1 minggu untuk menutup lukanya. Nah, kalau karang masif lebih lama lagi, karena mereka tumbuh lebih lambat.

Hewan yang hanya bisa tumbuh sekitar 1 cm per tahun ini adalah makhluk yang unik. Ia rentan terhadap sentuhan tapi juga punya ketahanan yang tinggi. Buktinya mereka bisa tetap eksis dari jaman Precambrian (periode kehidupan pertama di bumi) sampai sekarang. Tapi bukan berarti kita bisa seenaknya merusak mereka ya.

"Sebagian memang akan mati, tapi semoga ya enggak seluas itu areanya. Karena perairan di sana masih mendukung terumbu yang sehat. Terumbu untuk sehat atau pulih kembali memang hanya butuh waktu," tutup Diah.

(bnl/aff)
Baca Juga
Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com