DetikTravel

Weekend Ini, Yuk Jelajahi Museum Mandiri

Feni Fauziah - d'Traveler - Minggu, 19/03/2017 10:20:00 WIB
detikTravel Community -  

Menghabiskan akhir pekan di Jakarta jangan cuma ke mal. Ada banyak museum yang menarik dikunjungi seperti Museum Bank Mandiri.

Pada hari Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta. Untuk menuju kesana cukup mudah, tinggal naik KRL atau TransJakarta, turun di Stasiun / Halte Jakarta Kota. Itu saja, kemudian berjalan sedikit ke lokasi. Disana banyak Museum, seperti Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum Seni dan tentu saja Museum Fatahillah yang tidak pernah sepi pengunjung, baik pagi, siang, malam, baik cuaca panas maupun hujan, setiap kali saya ke sana, selalu ramai. Ini memang sudah ke sekian kali saya ke Kota Tua, tapi baru kali ini akhirnya sempat ke Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri Berdiri sebelumnya merupakan perusahaan dagang milik Belanda dan berkembang menjadi perbankan. Gedungnya sendiri dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933. Di museum ini kita dapat menemui berbagai macam koleksi yang berkaitan dengan aktivitas perbankan tempo dulu, mulai dari meja kasir, perlengkapan operasional bank, macam-macam surat berharga jaman dulu, mata uang kuno, brankas, buku besar yang digunakan untuk mencatat semua aktivitas perbankan hingga perintilan seperti macam-macam stempel yang digunakan pada masa itu.

Biaya masuk saat ini adalah Rp. 5000,00 per orang. Buka dari hari Selasa sampai Minggu jam 08.00 sampai jam 16.00 (atau malah 15.30). Saya kesana sekitar jam 3 sore, dan saking asiknya saya menjelajahi museum ini, saya sampai terkunci didalam. Saya juga tidak sadar ada pemberitahuan dari pengeras suara musuem bahwa museum sebentar lagi akan tutup. Saya asyik saja berkeliling, hingga waktu itu, sekitar jam setengah 5 sore saya sampai pada pintu keluar dan ternyata sudah digembok. Duh!

Saya sama temen lantas muter-muter mencari tempat keluar, temen juga langsung browsing, siapa nih yang bisa dihubungi untuk situasi seperti ini, mungkin di web nya ada. Tapi, tidak seberapa lama saya menunggu di pintu keluar yang digembok itu, sebentar kemudian ada suara telephone. Ini kok serem gini ya, museum sepi tidak ada orang tapi ada telephone di meja sekuriti yang berdering. Saya mrinding tapi temen saya sigap dan langsung angkat telepon itu, dari jauh orang yang menelepon bilang, meminta kami menunggu sebentar.

Dering telepon terdengar beberapa kali, minta kami menunggu lagi. Ahh, nice, karena di seluruh ruangan museum ini memang ada CCTV jadi mungkin yang nelpon itu adalah sekurit dan Bapak itu tahu bahwa masih ada dua anak yang terjebak di museum ini, menunggu di depan pintu yang tergembok.

Kita-kira 10 menit kemudian Bapak itu datang, berpakaian security museum, ya emang secutiry sih, hehe. Membukakan pintu besi yang digembok, sambil menanyakan "Tadi dimana kan ada pengumuman emang tidak dengar?" Saya jawab, sekita jam berapa ya Pak? Kalau jam 4-an mungkin kami sedang ada di ruang brankas, rasa-rasanya saya tidak mendengarp apa-apa. Lalu teman saya menyahut "Kalo saya denger sih Pak, denger ada suara tapi tidak jelas ngomong apa. Hhehe." Bapaknya kemudian menyahut "Oh, gitu, harusnya kalo di ruang brankas tetep kedengeran sih" Sembari membuka gembok pagar luar, dan akhirnya kami pun bisa keluar. Alhamdulillah.

Ahaha, jadi berpanjang cerita, baiklah, mari kita mulai menjelajahi Museum! Saat pertama masuk, saya bertemu dengan tempat penitipan barang, meja sekuriti dan kemudian loket pembelian tiket. Loket yang dipakai nuansa zaman dulu banget.

Rute untuk menjelajahi museum sudah dibuatkan dengan apik, seperti biasa, ada rute yang bisa kita ikuti, biar gak random, dan semua spot bisa kita kunjungi. Pertama, saya masuk pada replika kapal penjajah, mungkin Belanda. Ada semacam 3D effect untuk memunculkan animasi ikan-ikan yang sedang berenang di laut. Di ruang selanjutnya ada kami temukan replika rumah pribumi jaman dulu, setelah itu juga ada banyak replika-replika lagi seperti ini:

Setelah itu juga ada pajangan uang rupiah dari masa ke masa, ada lemari-lemari besi, ada juga contoh surat-surat penting yang digunakan jaman dahulu. Hingga buku besar yang digunakan untuk mencatat semua laporan keuangan, yang kesemuanya masih tulis tangan, masih ada dan dipajang. Alat-alat perkantoran seperti cap / stempel, alat press, mesin ketik dan alat perkantoran lain juga dipajang. Di ujung ada instalasi yang rasa-rasanya juga jadi salah satu ikon Museum ini.

Puas berfoto ria, saya meneruskan perjalanan. Ada semacam mini cafe disana, foto sebentar ah, jepret. Habis itu lanjut ke lantai bawah. Ada ruang brankas. Di pajang berbagai macam tempat penyimpanan, dari loker-loker besi, dan ada juga puluhan brankas yang ukuran, bentuk dan tipenya berbeda-beda, bermacam-macam yang yang pasti ukurannya besar, dan berat. Jadi bertanya-tanya nih, brankas segede, setebel dan seberat ini cara mindahinnya gimana yah?

Terakhir, kami naik ke lantai atas. Tidak banyak yang bisa dilihat disini. Hanya sepertinya ruang pertemuan utama. Sedang ruang kanan dan kirinya ditutup untuk umum. Ornamennya khas, dominasi kayu tetap saja. Aromanya juga khas. Ini dia gambarnya, tujuan terakhir sebelum kami keluar dan ternyata terkunci di dalam museum *cerita kembali ke yang sudah saya tulis diatas tadi, hehehhehe

Hari sudah sore, rasanya kurang lengkap kalau belum mampir pelataran Fatahillah, pelataran paling ramai di Jakarta, saya rasa. Melihat keramaiadan dan orang-orang yang berkumpul, bercanda, tertawa, berekspresi, atau sekedar refreshing bersama keluarga.

Foto Terkait

Redaksi: redaksi[at]detik.travel
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com 
Iklan: sales[at]detik.com
Most
Popular
 
Twitter Detik Travel
Follow us on @detiktravel
Email To Detik Travel

Contact Us

redaksi[at]detik.travel
admin[at]detik.travel
sales[at]detik.com