Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Nov 2015 08:20 WIB

TRAVEL NEWS

Operator Tur Independen, Antara Legalitas & Keniscayaan

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Ilustrasi wisatawan (Thinkstock)
Ilustrasi wisatawan (Thinkstock)
Jakarta - Era digital membawa dampak pariwisata berupa munculnya operator tur independen yang memasarkan produknya lewat dunia maya. Meski dari aspek legalitas masih jadi masalah, tetapi ini adalah keniscayaan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bramantyo Sakti, CEO Triptrus.com, sebuah platform marketplace digital yang menaungi beberapa operator tur independen dari beberapa daerah di Indonesia. Ditemui seusai acara jumpa pers Indie Travel Mart 2015 di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Selasa (10/11/2015) kemarin, Bram, begitu dia akrab disapa, mengungkapkan pendapatnya akan masalah ini.

"Di era teknologi seperti sekarang, siapa sih yang bisa menghalangi orang untuk berkreasi menjual paket wisata via online. Teknologi itu tidak bisa dibendung. Ini suatu keniscayaan yang pasti akan terjadi. Potensinya sangat besar dan kita menyadari itu," ucap Bram.

Belakangan ini kita bisa menyaksikan sendiri di dunia maya, banyak operator tur independen yang menawarkan paket liburan ke para traveler. Rata-rata pengelola operator tur ini masih muda dan idealis. Tak jarang malah mereka lah yang menjadi roda penggerak untuk membuka rute menuju ke sebuah destinasi baru yang belum pernah ditawarkan oleh perusahaan travel besar.

"Seringnya malah perusahaan travel besar yang mengambil paket-paket tur pada acara Indie Travel Mart yang kami buat. Ajang ini memang kami jadikan sebagai panggung untuk membuat masyarakat aware, bahwa industri ini bisa tumbuh besar seperti bola salju yang bergulir," ucap Bram.

Namun, aspek legalitas masih menjadi masalah bagi para operatur tur independen. Belum adanya badan hukum yang resmi membuat mereka tidak bisa menjalin kerja sama dengan pihak maskapai penerbangan di Indonesia. Sebagai solusinya, mereka sedang mengupayakan untuk membuat sebuah koperasi yang menaungi para operator tur. Koperasi tersebut bernama Koperasi Wisata Mandiri Nusantara.

"Kita sedang mengupayakan membentuk sebuah koperasi sebagai badan hukum yang legal untuk menaungi kegiatan kami. Meskipun kami indie, tapi kami qualified buat bawa tamu. Yang penting jangan perang harga, justru kita samakan harga, kita bersaingnya di kualitas saja," kata Bram.

Operator tur independen memang rata-rata memajang harga yang lebih murah dari pada perusahaan tur dan travel besar. Hal itu disebabkan karena mereka tidak mematok margin keuntungan yang besar. Mereka juga menerapkan sistem open trip alias bepergian dengan menggunakan kuota minimal pemberangkatan, agar bisa menekan biaya.

"Kita bisa murah karena buat sistem open trip. Misalnya open trip dari tanggal 12 sampai 15. Kita tetapkan minimal 10 orang baru bisa berangkat. Itu mengakali biar murah karena kalau yang jalan 5 orang, operator tur tetap akan bayar sewa minibus untuk 10 orang," terang Bram.

Pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata, sudah mulai menyadari akan adanya gerakan operator tur independen yang rata-rata dikelola oleh anak muda ini. Kemenpar melalui Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Tasbir, mengatakan akan lebih memperhatikan para operator tur indie karena mereka telah membuktikan diri menjadi roda penggerak pariwisata dalam negeri.

"Ini adalah realita, mereka sudah membuat pertumbuhan perjalanan dalam negeri. Mereka membuka daerah-daerah baru yang belum pernah kita (Kemenpar-red) tawarkan sebelumnya. Mereka sudah masuk lebih dulu, lebih real. Step-stepnya juga mereka telah lalui, tentu akan ada aspek-aspek pembinaan dari kami," kata Tasbir.

Tanpa kita sadari, operatur tur indie ini memang cukup membawa dampak yang signifikan bagi wisatawan nusantara. Mereka menawarkan paket wisata dengan harga yang terjangkau ke berbagai daerah yang eksotis di Indonesia. Meskipun murah, namun keamanan dan kenyamanan tetaplah menjadi prioritas. Semoga pemerintah Indonesia lekas merealisasikan bentuk perhatian ke langkah yang lebih nyata, serta melakukan pembinaan bagi para operator tur independen.

(rdy/arradf)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA