Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 21 Jun 2017 15:10 WIB

TRAVEL NEWS

Mahasiswa Universitas Airlangga Capai Puncak Tertinggi Amerika

Afif Farhan
detikTravel
Foto: Mahasiswa Wanala di Puncak Denali (dok Wanala)
Foto: Mahasiswa Wanala di Puncak Denali (dok Wanala)
Jakarta - 3 Mahasiswa Universitas Airlangga mengukir sejarah. Mereka berhasil mencapai Puncak Denali, titik tertinggi di Amerika setinggi 6.194 mdpl.

Dalam rilis yang diterima detikTravel dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) Universitas Airlangga, Rabu (21/6/2017) 15 Juni kemarin tiga mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDEX) berhasil berdiri di Puncak Denali. Puncak ini juga masuk dalam Seven Summit dunia.

Ketiga mahasiswa itu adalah Mochamad Roby Yahya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan, Muhammad Faishal Tamimi Fakultas Vokasi dan Yasak alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ada perjuangan yang tak mudah, sebelum mereka berhasil menyelesaikan misinya.

Sebelumnya, selama tujuh hari tim berada di kamp 4 yang berada pada ketinggian 14.200 kaki atau 4.328 mdpl. Aktivitas tim terhenti dihadapkan pada kondisi whiteout (sebuah situasi d imana cuaca yang tertutup salju mengubah berkas cahaya yang menyebabkan hanya obyek gelap yang terlihat) dan snow showers (hujan salju). Hal ini mengakibatkan tenda yang mereka gunakan tertutup salju bahkan tidak terlihat sedikitpun warna lain, hanya putih.

Selang beberapa hari berlangsung tepatnya pada tanggal 13 Juni 2017, cuaca mulai membaik matahari mulai terlihat, rasa hangat yang dirindukan tersentuh permukaan wajah, salju yang berada pada janggut dan hidung mulai terasa menghangat. Akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat menuju kamp 5 atau yang dikenal dengan High Camp pada ketinggian 17.200 kaki 5.243 mdpl. Perjalanan cukup melelahkan dengan tanjakan dengan kemiringan 45 hingga 60 derajat.

Mereka juga harus menghadapi suhu hingga minus 55 derajat Celcius. 4 Jam perjalanan menuju kamp 5 salah satu atlit melambat, kecepatan mulai menurun, nafas mulai terengah dengan dingin yang sungguh luar biasa hebat.

Kondisi tim yang teramat lelah mengharuskan mereka untuk beristirahat serta menyiapkan tenaga untuk summit attack mencapai titik tertinggi di belahan bumi utara ini. Tepat pada tanggal 15 Juni pukul 03.00 pagi, tim melakukan perjalanan membawa perlengkapan seringan mungkin diantaranya ice axe (kapak es), tracking pole, daypack (tas ransel) beberapa logistik (makanan, minuman dan snack) untuk menambah energi, dan alat mountaineering lainnya, alat P3K serta beberapa pakaian yang membuat tubuh mereka tetap hangat mekipun hanya mengurangi beberapa derajat saja, serta tidak lupa alat dokumentasi sebagai bukti sejarah bahwa kaki ini pernah menginjakkan di sana.

Pada waktu untuk summit hanya tersisa beberapa jam cuaca cerah sehingga untuk lebih mengefektifkan kondisi waktu summit diputuskan dua plan attack summit dengan dua tim summit. Tim pertama Roby dan Yasak namun apabila gagal menuju summit plan kedua Faish dengan Guide (pemandu) untuk menuntaskan.

"Suasana hening, hanya gemuruh angin, gigi yang bergesekan bahkan serta mulut dan hidung yang memutih terkena salju, dan mata yang sudah tidak fokus. Rasanya hanya ingin tidur, ingin memejamkan mata dengan lelap, namun kami tahu jika hal ini terjadi kami tidak akan bangun kembali," kata Roby mengambarkan suasana di sana.

Akhirnya dengan segala daya upaya, serta motivasi 'tabah sampai akhir' membuat mereka Roby dan Yasak berhasil berdiri di Puncak Denali. Rasa bangga dan haru membuncah, perjuangan mereka terbayar dengan sempurna.

Selama 39 menit di puncaknya, mereka berdua memandangi bentang alam dan berfoto-foto. Mereka mengibarkan bendera Merah Putih, Universitas Airlangga dan WANALA, serta bendera PT PP Properti (Tbk) dan PT Pegadaian Persero sebagai ucapan terimakasih dalam dukungan pendakian.

Meski begitu, Roby terkena terkena frost bite dan harus dievakuasi dengan cepat. Frost bite merupakan penyakit yang menyerang para pendaki gunung es dimana terdapat radang pada bagian anggota tubuh seperti hidung, telinga, pipi, jari kaki dan tangan. Paling parah bisa diamputasi, namun itu semua sudah ditangani dengan baik.

Selamat untuk pendakian Wanala! (aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA