Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 04 Sep 2017 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Ramai Soal Rohingya, Ketahui Dulu Hal Ini Sebelum Liburan ke Myanmar

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Situs sejarah Bagan di Myanmar (Thinkstock)
Situs sejarah Bagan di Myanmar (Thinkstock)
Yangon - Indonesia tengah ramai membicarakan peristiwa kemanusiaan Rohingya di Myanmar. Bagi kamu yang mau liburan ke sana, ketahui dulu beberapa hal ini.

Terlepas dari ramainya pemberitaan tentang Rohingya, Myanmar yang didominasi oleh umat Buddha sangat menghargai agamanya. Traveler pun harus paham akan hal tersebut sebelum berkunjung ke Myanmar.

Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Senin (4/8/2017), Pemerintah Myanmar bahkan memberlakukan aturan ketat dan sanksi tegas terkait hal itu seperti diberitakan News Australia.

Pekan lalu misalnya, seorang turis perempuan asal Rusia dihukum penjara selama enam bulan karena mengenakan sendal ketika jalan-jalan di sejumlah pagoda Buddha di Bagan.

"Turis perempuan itu telah diberi peringatan dan dipulangkan ke hotelnya, tapi ia tetap kembali sambil mengenakan sendal di pagoda. Masyarakat lokal tidak bisa menerima dan menuntutnya atas pasal 295," ujar Letnan Myo Nyunt dari Pasukan Polisi Wisata Myanmar pada berita lokal Eleven.

Pasal 295 dari Hukum Pidana Myanmar menyebutkan, bahwa penghinaan agama atau kepercayaan dikategorikan sebagai perbuatan kriminal. Sanksinya pun berupa penahanan atau denda sebesar 500.000 Kyat atau sekitar Rp 4,8 juta.

Namun kejadian itu juga bukan yang pertama kali menimpa wisatawan. Pada bulan Oktober 2016 lalu, seorang turis Belanda bernama Klaas Haijtema terpaksa ditahan selama tiga bulan di penjara karena mencopot pengeras suara yang tengah menyiarkan doa seperti diberitakan New York Times.

Awalnya, Klaas hanya menyangka kalau suara itu merupakan keusilan anak-anak. Klaas pun lantas mencabut pengeras suara itu karena mengganggu tidurnya.

Pada bulan Juli 2016 lalu, seorang turis pun terpaksa dideportasi dari Myanmar karena memiliki tato bergambar Buddha di kakinya seperti diberitakan AFP.

Bukan tanpa alasan. Umat Buddha memang menganggap bahwa tingkat kesucian badan dilihat dari kepala yang paling tinggi hingga kaki yang paling rendah. Jadi tato Buddha di bagian kaki tentu dianggap sangat menghina.

Tentunya segala hal terkait agama memang dianggap begitu sakral di Myanmar. Hal itu tentu mengingatkan traveler akan kondisi di dalam negeri yang begitu tegas perihal agama dan kepercayaan.

Seperti diketahui, Myanmar memiliki banyak objek wisata sejarah yang erat kaitannya dengan agama Buddha. Sebut saja beberapa di antaranya seperti Bagan, Shwedagon Pagoda dan Mandalay.


(msl/aff)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED