Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Nov 2017 18:20 WIB

TRAVEL NEWS

Tren Kafe Hewan: Pelecehan Terhadap Binatang?

Bona
detikTravel
Ilustrasi kafe kucing di Jepang (Istimewa)
Singapura - Belakangan, kafe bertema binatang marak di berbagai negara. Tapi siapa sangka, kalau kafe tersebut malah jadi tempat pelecehan dan penyebaran penyakit.

Diintip detikTravel dari berbagai sumber, Sabtu (4/11/2017) tren kafe hewan kian marak diberbagai negara. Dikerumuni oleh binatang yang menggemaskan, membuat kafe-kafe bertema binatang kian digandrungi. Namun hal ini bukanlah positif, tapi malah jadi tindak pelecehan kepada hewan.

Pekan ini, otoritas Thailand dan organisasi hak asasi hewan Watchdog Thailand, melakukan sebuah penyelidikan ke sebuah kafe kucing dan anjing yang populer di Bangkok. Tim mendapatkan klaim bahwa kafe tersebut melakukan pengabaian kepada hewan menurut laporan media Asian Coconuts.

Kitties & Bears Cafe di Singapura salah satunya. Pemilik kafe tersebut mendapat hukuman karena 7 kucing miliknya mati akibat kesehatan yang buruk.

Tren Kafe Hewan: Pelecehan Terhadap Binatang?Kafe kucing Jepang (Istimewa)

Kafe hewan ini diduga mengabaikan kesehatan para hewan yang diekploitasi. Tim dokter dari Watchdog Thailand telah memperkuat hal ini dengan mengumpulkan bukti sampel darah dan air liur dari hewan-hewan tersebut.

Di Jepang pun demikian. Salah satu kafe kucing populer di Jepang, Cat's Paw di tutup tahun lalu. Kafe ini didapati melanggar undang-undang kekerasan terhadap hewan.

Cat's Paw yang berada di distrik Sumida di Tokyo ditutup oleh pihak berwenang. Hal ini dikarenakan kafe tersebut mempekerjakan kucing yang berusia lanjut dengan kesehatan yang buruk.

"Kafe tersebut melanggar undang-undang kesejahteraan hewan, jadi kami mengambil tindakan. Kami memperingatkan kafe tersebut pada bulan Januari dan memberitahu mereka bagaimana cara merawat kucing mereka dengan lebih baik, namun pengabaian terus berlanjut," ujar Yachiyo Kurihara dari Pusat Kesejahteraan Hewan Tokyo kepada media The Guardian.

Kucing yang dipelihara tak tanggung-tanggung jumlahnya, sampai 62 ekor. Kondisi lingkungan sempit inilah yang membuat kucing gampang untuk tertular penyakit. Oleh sebab itu, kafe ini diprotes oleh banyak pelanggan.

Para pejabat kota pun tidak tinggal diam. Mereka berkata akan menutup kafe bertema hewan jika ditemukan kelalaian dalam merawat binatang tersebut.

Kafe kucing JepangKafe kucing Jepang (Istimewa)

Kelalaian bukanlah satu-satunya ancaman bagi hewan-hewan di kafe. Nicky Trevorrow, seorang manajer perilaku di Cats Protection UK mengatakan kepada BBC bahwa kafe hewan adalah lingkungan yang berbahaya bagi seekor kucing.

"Kafe kucing bukanlah lingkungan yang cocok untuk kucing, karena mereka berada dalam ruang tertutup dengan populasi manusia yang berputar. Mereka membutuhkan lingkungan yang lebih stabil dari anjing," tambah Trevorrow.

Taiwan jadi negara pertama di dunia yang membuka kafe kucing pada tahun 1998. Kemudian Jepang menyusul pada tahun 2004, namun sejak itu sejumlah kafe hewan yang berbeda mulai bertebaran di Jepang.

Saat ini, bukan hanya kucing dan anjing yang jadi primadona untuk kafe hewan. Burung hantu dan landak, yang notabene hewan liar pun ikut masuk dalam tren ini.

Tren Kafe Hewan: Pelecehan Terhadap Binatang?Kafe landak di Jepang (Thomas Peter/Reuters)

"Burung hantu memiliki pendengaran dan penglihatan yang akut dan merupakan burung pemangsa yang telah berevolusi dengan sempurna untuk terbang dan berburu," kata organisasi People fo the Ethical Treatment of Animal (PETA).

Landak dan Burung hantu adalah hewan nocturnal atau binatang yang aktif pada malam hari. 'Bekerja' di kafe hewan membuat binatang-binatang ini harus kehilangan waktu tidur di siang hari karena menemani para kostumer dari kafe.

Hal inilah yang disayangkan oleh sejumlah LSM. Mereka mengganggap bahwa kafe hewan adalah bentuk pelecehan terhadap binatang dan membuat binatang stress. Karena harus mengabaikan naluri dan sifat alami mereka hanya untuk kepentingan manusia.




(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA