Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 24 Nov 2017 10:30 WIB

TRAVEL NEWS

Tingkat Hunian Hotel Saat Weekday di Bandung Terus Menurun

Erna Mardiana
Redaksi Travel
Ilustrasi hotel (dok ibis Trans Studio Bandung)
Ilustrasi hotel (dok ibis Trans Studio Bandung)
Bandung - Sedikitnya 68 hotel bintang dua hingga lima di Bandung yang tergabung dalam Riung Priangan resah. Sebabnya, tingkat hunian hotel saat weekday terus menurun.

Menurut catatan Riung Priangan, okupansi hotel saat weekday pada 2014 sebesar 64,5 persen. Lalu menurun pada 2015 menjadi 60,3 persen. Pada 2016, 58,3 persen.

"Tahun ini kembali menurun sekitar 54,8 persen," ujar Chairman Riung Priangan Nandang Priangan saat konferensi pers acara Bandung International MICE and Event Exchange in Tourism di Hotel Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto, kemarin Rabu yang digelar dari 23 hingga 25 November.

Nandang mengungkapkan penyebab terus menurunnya okupansi hotel saat weekday karena tidak berimbangnya peminat dan pelaku usaha ke Bandung dibanding dengan jumlah hotel yang ada. "Jadi supply and demand-nya tidak seimbang," tambahnya.

Tingkat Hunian Hotel Saat Weekday di Bandung Terus MenurunAcara Bandung International MICE and Event Exchange in Tourism di Hotel Trans Luxury Hotel (Erna/detikTravel)

Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung tercatat ada 475 hotel mulai dari kelas melati hingga bintang 5.

Padahal potensi destinasi MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition) di Kota Bandung sangat besar, di mana MICE biasanya dilakukan saat weekday. "Ini perlu kerjasama semua pihak, tidak hanya pihak hotel," ujar Nandang.

Mengenai okupansi weekday rendah diakui GM The Trans Luxury Hotel Farid Patria. "Minggu, senin, selasa, rabu itu rendah sekali okupansinya. Dan kita tidak mungkin hanya mengandalkan operasional hotel yang sehat di weekend saja," katanya.

Menurutnya sudah saatnya bisnis wisata MICE menjadi prioritas hotel. "Kenapa MICE? Masa tinggalnya dengan wisata leisure itu lebih tinggi. Perputaran uangnya juga tinggi ada pra event dan pasca event, dan juga banyak pihak yang terlibat dalam MICE," katanya.

Farid berharap tindakan konkret dari pemerintah untuk meningkatkan destinasi MICE. "Sebelum kedatangan, perlu produk yang bagus yang sesuai keperluan MICE. Produknya Bandung itu apa, marketingnya Pemkot Bandung itu yang harus jualan," kata Farid.

Mengenai kondisi bandara, transportasi juga harus diperhatikan. "Airportnya sudah friendly belum, bea cukainya. Saat ini bus tidak boleh masuk bandara, ya enggak ramah untuk MICE," pungkas Farid.

Karena itu, Riung Priangan bersama Indonesia Professional Organizer Society (IPOS) menggelar acara bersama skala internasional untuk mengembangkan industri pariwisata yang diharapkan dapat menjadikan Bandung sebagai tujuan utama MICE di Indonesia.

Harry D. Nugraha selaku founder dari Ego Global Network, yang tergabung dalam IPOS menyatakan dalam Bandung International MICE and Event Exchange in Tourism ini, dihadirkan 34 hotel dan 45 buyers. "Buyers ada dari Thailand dan juga Brunei Darussalam," katanya.

"Saya tentunya mengharapkan bahwa acara ini akan membangun kesadaran bersama bahwa MICE adalah mesin penggerak utama utk mendorong pembangunan pariwisata dan menjadi terobosan baru di Kota Bandung," kata dia.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari menyatakan ke depan Pemkot Bandung akan fokus dengan pengembangan MICE.

"Ini tantangan ke depan agar okupansi naik di weekeday. Bandung tuh bisa disebut kota festival. Kami berharap anak muda kreatif di Bandung bikin banyak festival untuk pemancing," katanya. (rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
NEWS FEED