Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 03 Jan 2018 18:05 WIB

TRAVEL NEWS

Fenomena Sampah di Pantai Bali Zaman Dulu: Ranting dan Telur Penyu

Prins David Saut
detikTravel
Petugas pantai membersihkan sampah di Pantai Bali (Sonny Tumbelaka/AFP)
Kuta - Baru-baru ini, fenomena sampah di pantai selatan Bali mencuri perhatian. Fenomena akibat arus laut itu sudah berlangsung sejak zaman dulu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Badung Putu Eka Merthawan menceritakan pengalaman hidupnya terkait fenomena angin atau arus barat. Fenomena ini dulu membawa berkah berupa penyu yang bertelur di pantai tapi kini hanya sampah plastik.

"Jadi fenomena (angin/arus barat) ini sudah ada sejak tahunan lalu dan tidak bisa dipungkiri arusnya kuat. Buktinya, ombak bagus untuk surfing dan penyu bertelur di pantai. Ya, itu fenomena alam yang dulu kita anggap berkah," kata Merthawan kepada detikcom, Rabu (3/1/2018).

Merthawan menceritakan, dahulu kala, penduduk pesisir Teluk Kuta selalu menantikan fenomena angin barat karena bisa melihat penyu yang hanyut lalu bertelur. Ombak juga menghanyutkan ranting-ranting pohon yang berguna untuk warga membuat kayu bakar.

"Sekarang berkah itu jadi musibah. Zaman dulu orang tidak buang sampah, malah penyu yang tergerus arus terdampar di Kuta dan bertelur. Dulu, ranting-ranting juga hanyut dan orang Kuta senang karena bisa untuk kayu bakar. Nah, itu cerita zaman dulu terkait fenomena arus barat ini," ujar Merthawan.

"Sekarang malah sampah, karena penduduk semakin banyak. Tapi wisatawan dan penduduk di Kuta bukan penyebab sampah-sampah itu," terangnya.

BACA JUGA: Soal Sampah di Pantai Bali: Itu Tiap Tahun

Menurut Merthawan, sampah-sampah plastik yang terdampar di pesisir pantai sepanjang 8 kilometer berasal dari barat Indonesia. Sampah-sampah itu datang dari sungai-sungai di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan dan bermuara ke lautan lalu terbawa arus barat ke timur Indonesia.

"Sungai-sungai di Bali itu kecil. Muara yang besar itu ada di timur Kuta, bukan di garis pantai sepanjang 8 kilometer itu. Ada sungai-sungai kecil, tapi itu tidak mungkin membawa sampah sebanyak itu," ucap Merthawan.

"Jika Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya banjir maka 1 tahun kemudian sampahnya ke Samudera Hindia dan laut di Indonesia. Bahkan mungkin dampaknya sampah terhanyut bisa sampai utara Australia," pungkasnya.

PNS yang telah menangani fenomena sampah akibat arus barat selama 6 tahun ini menjelaskan sampah organik bisa diurai angin dan ombak. Namun sampah plastik tidak bisa, sehingga tak hanya Bali, tapi pulau-pulau di timur Indonesia juga merasakan dampak fenomena alam yang dulu membawa berkah tersebut.

"Angin monsoon barat yang mendapat sampah itu dari Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Yang tersisa sampai di Kuta hanya sampah plastik. Sementara yang organik semua terurai dilautan," ungkap Merthawan. (aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA