Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 15 Jun 2018 13:35 WIB

TRAVEL NEWS

Lebaran di Negeri Kanguru, Memaknai Islam dari Sisi Minoritas

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Suasana Salat Isha di Masjid Fawkner Melbourne Foto: Istimewa/Erwin Renaldi
Suasana Salat Isha di Masjid Fawkner Melbourne Foto: Istimewa/Erwin Renaldi
Melbourne - Merayakan Lebaran di Negeri Kanguru di mana Islam jadi minoritas tentu berbeda dari di tanah air. Namun, ada banyak pelajaran berharga yang bisa didapat.

Setiap tahun umat Muslim di Indonesia berpuasa, ditutup dengan momen saling memaafkan dan silaturahmi hari ini antar anggota keluarga dan kerabat tercinta.

Hanya saja, momen kehangatan itu bisa berbeda ketika dirayakan seorang diri di negeri orang. Pengalaman itu pun dibagikan oleh Erwin Renaldi (37), seorang WNI asal Bandung dengan status penduduk tetap Australia.

Diceritakan oleh Erwin via surel pada detikTravel, Jumat (15/6/2018), awalnya ia pertama kali merantau ke Australia di tahun 2009 untuk meneruskan program masternya (S2) di jurusan development studies. Lulus dari universitas, Erwin bekerja di salah satu media Australia hingga kini.

Erwin Renaldi yang merayakan Idul Fitri di MelbourneErwin Renaldi yang merayakan Idul Fitri di Melbourne Foto: Istimewa/Erwin Renaldi

Jauh dari rumah, Erwin pun tidak kendor untuk urusan agama. Malah ia mengaku semakin mengenal Islam di Australia setelah jadi minoritas.

Berdasarkan data sensus Australia tahun 2016, sekitar 30% masyarakatnya tidak memiliki agama. Jumlah umat Islam hanya 2,6% atau sekitar 604.000 orang.

"Dulu waktu di Indonesia, saya mungkin tidaklah terlalu menganggap identitas Muslim karena take it for granted sebagai seorang yang lahir sebagai Muslim dan bagian dari mayoritas. Tetapi setelah menjadi minoritas ada kalanya kita harus berupaya lebih untuk mengenalkan dan menunjukkan seperti apa Muslim sebenarnya," ujar Erwin.

Jadi minoritas, Erwin pun mengalami banyak tantangan untuk mengenalkan Islam. Terlebih karena stigma agama Islam di negara barat yang kerap dikaitkan dengan aksi teror hingga sentimen anti-Islam.

"Banyak kesalahpahaman soal Islam di dunia Barat, sehingga perlu menjaga diri dalam berperilaku dan bertutur kata sebagai seorang Muslim, yang artinya juga harus banyak belajar. Karenanya, sejujurnya saya justru mulai mendalami Islam setelah berada di Australia," cerita Erwin.

Lebaran di Negeri Kanguru, Memaknai Islam dari Sisi MinoritasSuasana Eid Festival yang diramaikan dengan jualan busana Muslim Foto: Istimewa/Erwin Renaldi

Namun walau begitu, nyatanya Australia sebagai negara non-Muslim cukup menghargai kebebasan setiap individu untuk menjalankan kepercayaannya. Ada rasa toleransi yang tercipta oleh Pemerintah Australia dan mayoritas non Muslim dengan minoritas Islam.

"Saya merasakan toleransi yang sangat luar biasa bagi kaum minoritas. Misalnya kantor yang memperbolehkan pulang lebih awal saat bulan Ramadan, keringanan jam kerja di hari Jumat untuk menjalankan shalat Jumat. Di Australia ada aturan soal diskriminasi yang bisa memberikan sanksi jika menghalangi-halangi warganya untuk beribadah. Dalam sosialisasi pun beberapa teman yang hendak mengundang makan malam di rumahnya, misalnya bertanya apakah saya harus makan daging yang bersertifikat halal," jelas Erwin.

Hanya walau Negeri Kanguru sarat toleransi, menjadi bagian dari minoritas umat Muslim di Australia diakui Erwin cukup menantang. Dalam beberapa hal lebih sulit dari Indonesia.

"Suka dukanya adalah untuk menjalankan ibadah. Di Indonesia karena Islam adalah agama mayoritas, sehingga informasi tersedia di mana-mana. Tapi di sini dituntut untuk lebih disiplin. Misalnya di Melbourne tidak ada adzan, jadi harus selalu update dengan waktu-waktu salat yang berganti setiap musimnya, terutama jadwal Maghrib untuk berbuka puasa," terang Erwin.

Belajar banyak sebagai umat Islam di negara non Muslim, juga membuat Erwin lebih memahami kondisi saudara lain yang adalah non Muslim baik di Australia dan Indonesia.

"Saya merasa sangat bersyukur hidup sebagai minoritas di Australia, sehingga bisa merasakan juga apa yang dirasakan minoritas di Indonesia, yang mungkin tanpa sengaja ada ucapan dan perbuatan kita yang menyakitkan mereka. Juga sebagai minoritas Muslim di Australia ada kebahagian tersendiri ketika mendapat pengakuan dari warga mayoritas. Sementara sebagai pendatang ada tuntutan untuk menghormati hukum dan aturan di negeri orang lain, sambil mencoba memberikan kontribusi tanpa mengorbankan kewajiban-kewajiban dan aturan sebagai seorang Muslim," pungkas Erwin.
Suasana buka puasa dan ramah tamah dengan mualaf di MelbourneSuasana buka puasa dan ramah tamah dengan mualaf di Melbourne Foto: Istimewa/Erwin Renaldi
Lebih lanjut diceritakan oleh Erwin, bahwa banyak ajaran Islam yang sejalan dengan nilai peradaban negara Barat. Keasadaran akan pemahaman itu pun membuat pemaknaan Erwin akan Islam kian matang.

"Misalnya ikut menjaga kebersihan, mempersilakan orang yang lebih tua untuk duduk di transportasi umum. Dulu pun mungkin saya termasuk orang yang mudah 'menghakimi' atau 'menggurui' orang lain, tapi saya melihat mayoritas Muslim di sini sangatlah takut untuk cepat-cepat menganggap orang lain 'kafir' atau sesuatu menjadi 'haram' tanpa ilmu yang cukup. Kadang kita lupa saat baru memiliki ilmu sedikit tapi sudah berani menghakimi orang lain," ujar Erwin.

Khusus untuk momen puasa tahun ini, Erwin pun memaknainya dengan cukup spesial. Yakni dengan cara berbagi dengan saudara lintas agama di Melbourne lewat proyek kemanusiaan.

"Kembali berpuasa di Australia tahun ini saya belajar lagi pentingnya berbagi dengan sesama terlepas agama dan kepercayaannya mereka. Tahun ini saya ikut beberapa proyek kemanusiaan, seperti membantu tunawisma, anak yatim, juga komunitas pengungsi yang ada di Melbourne," ungkap Erwin.

Komunitas Kristen mengundang umat Muslim berbuka di gereja Komunitas Kristen mengundang umat Muslim berbuka di gereja Foto: Istimewa/Erwin Renaldi
Terlibat dalam proyek kemanusiaan juga mengajarkan Erwin untuk lebih menghargai perbedaan dengan umat non Muslim. Pengalamannya tinggal di Melbourne selama kurang dari 10 tahun juga mengajarkannya hal yang sama.

"Kesan lainnya adalah dalam hal hubungan dengan umat agama lain. Dari program lintas agama yang pernah saya ikuti, toleransi itu bukanlah kita kemudian menyetujui dan mengikuti cara-cara ibadah agama lain. Toleransi justru mengakui bahwa kita memiliki perbedaan sehingga bisa memahami dan menghormati perbedaan itu. At the end of the day, for you is your religion and for me is my religion," ujar Erwin.

Sedangkan untuk Lebaran hari ini, Erwin tidak pulang ke Tanah Air. Terakhir, ia pulang ke Bandung pada momen Idul Fitri tahun 2015 silam. Memang Erwin tidak kangen dengan kampung halaman?

"Tentu saja kangen merayakan Idul Fitri dengan keluarga besar di Bandung, tetapi tentu tidak bisa setiap tahun pulang karena tuntutan pekerjaan atau komitmen lainnya. Untungnya orang tua sangat mengerti dan mereka tidak keberatan asalkan saya tidak melupakan kewajiban-kewajiban saat Idul Fitri yang pernah diajarkan waktu kecil dulu, seperti shalat Idul Fitri, memberikan zakat, shadaqah, dan berbagi makanan dengan tetangga," jelas Erwin.

Selain kangen dengan suasana dan keluarga. Erwin pun sangat merindukan makanan yang menjadi ciri khas pada momen Idul Fitri. Adapun merajut tali silaturahmi jadi hal yang utama.

"Yang paling dirindukan selain ketupat, gulai, dan opor ayam tentunya bertemu dengan om, tante, dan sepupu-sepupu, sahabat-sahabat lama, karena selalu saja ada yang membuat tertawa saat bertemu mereka," cerita Erwin.

Itulah sekelumit cerita Erwin yang merayakan momen Idul Fitri di Melbourne tahun ini. Merantau, melihat dan tinggal langsung di negeri orang yang berbeda dari Indonesia tentunya semakin mengasah keimanan. Selaras dengan indahnya momen Idul Fitri dan perbedaan yang ada di dunia.

Sekiranya jadi bahan refleksi untuk semakin memperdalam nilai ke-Islaman di hari kemenangan ini. Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. (sna/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED