Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 15 Okt 2018 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Tokoh di Balik Mural yang Percantik Gang Denpasar Bali

Aditya Mardiastuti
detikTravel
Tokoh di balik mural cantik di Gang Denpasar, Bali (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Tokoh di balik mural cantik di Gang Denpasar, Bali (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Denpasar - Beberapa gang di Denpasar, Bali kini telah dipercantik dengan mural. Selain meningkatkan estetika, mural itu juga membawa pesan-pesan agar lebih mencintai kota.

Rupanya mural itu diinisiasi murni dari salah satu komunitas mural yang ada di Denpasar. Secara swadaya dan gotong-royong mereka mempercantik gang-gang untuk menampilkan karya.

"Jadi kan karena suka sama street art, teman-teman yang gambar saya ajak kolaborasi. Ini proyeknya Rurung Gallery, rurung kan artinya gang, jadi galeri di gang supaya semua bisa menikmati seni," kata inisiator Rurung Gallery Dewa Juana ketika ditemui detikTravel akhir pekan lalu.

Hingga saat ini Rurung Gallery sudah ada dua di Kota Denpasar, yakni di Gang Ternate, Jl Sulawesi dan di Gang Rajawali, Jl Teuku Umar.

Dewa mengatakan, dia dan teman-temannya lantas mencari lokasi sekaligus meminta izin dari pemilik rumah agar bisa digambari.

"Teman-teman yang gambar mural itu sampai 20 orang, mereka nggak dibayar semua gotong royong. Kebetulan kami dapat sponsor cat, dengan catatan kita taruh logo dia, tapi setiap kegiatan kami dia pasti kasih cat," terangnya.

"Untuk di gang Rajawali kami juga kerja sama dengan Cushcush Gallery yang ada di depannya (tembok) untuk perizinannya ke rumah-rumah penduduk," sambungnya.

Hal senada juga disampaikan Gusde Bima, dia menyebut rurung gallery merupakan media mereka berkreasi. Sebab, dia mengaku risih dengan coretan-coretan vandal yang merusak estetika.

"Awalnya dari ngobrol-ngobrol kita kepikiran bikin movement apa ya, kalau di kota space nggak ada, yang ada ya di rurung-rurung. Tempat-tempat banyak coretan ngawur kita rapiin lagi," tuturnya.

Gusde menambahkan banyak artis-artis mural yang ada di Bali. Namun, mereka masih malu-malu untuk tampil dan menunjukkan kebolehan mereka.

"Sebenarnya artis-artis ini ruang geraknya belum banyak, yang malu-malu kita rangkul ajak jadi satu. Kami ini jadi tukang kompor, 'yuk daripada di rumah mending bikin portofolio di jalanan aja'. Tapi sampai sekarang positif, justru acara rurung gallery ini diapresiasi karena kita gambarnya total, mereka punya karakter sendiri-sendiri kita blend jadi satu dan hasilnya jadi bagus," urainya.

Rupanya sebelum Rurung Gallery ini mereka juga membuat aktivitas serupa, tapi di desa-desa yang disebut mural pasca panen. Bedanya, mural ini jadi semacam 'kado' bagi para petani yang merayakan panennya.

"Mural itu kita mau mengembalikan semacam bernostalgia kalau dulu para petani habis panen ngadain ritual-ritual gitu. Itu kan kita mengembangkan petani muda, supaya trendy harus juga dengan seni-seni kekinian," kata inisiator mural pascapanen yang juga terlibat dalam Rurung Gallery, I Komang Adianto di lokasi yang sama.

Adi mengatakan, inisiatif membuat mural pascapanen pada November 2017 lalu itu agar para petani semakin percaya diri. Dia menyebut mural pascapanen pertama digambar di Sukowati kemudian di Tabanan. Tak hanya menggambar, mereka juga mengedukasi para petani tentang makna dari mural yang mereka gambar.

"Kami ini pengen petani kita itu trendy tapi gambarnya tidak mentah-mentah soal petani. Proses mural itu kita ada diskusi pemilik dinding, pengenalan street art bukan vandal tapi bisa untuk menyampaikan ide-ide perubahan sosial. Sehingga pemilik dinding harus paham, menariknya saat negosiasi diberi izin asal yang digambar ada gambar kartun karena anaknya suka," tuturnya.

"Street art ini medium mengkampanyekan pesan untuk perubahan sosial. Kontennya berkembang saat ini kan cinta petani, cintai produk lokal, tapi kan kalau nggak kenal gimana bisa sayang. Ini koreksi kita ke pemerintah cinta produk dalam negeri tapi tidak diberi tahu kualitas, alasan kenapa harus pakai produk lokal, tapi ini semua dibuat dengan trendy," sambung Adi.

Dia lalu mencontohkan salah satu gambar mural yang dibuat timnya tentang kepedulian lingkungan. Mural itu menggambarkan lambang Dewa Wisnu yang mulutnya ditutup plastik.

"Pesan tentang pertanian memang nggak lugas, tapi salah satunya lambang Dewa Wisnu tapi mulutnya ditutup plastik. Kalau plastik dibuang ke sungai kita santai, tapi ketika patung Dewa Wisnu kita tutup plastik mereka tersinggung. Padahal Dewa Wisnu ini kan simbol air, ini yang kita edukasi," jelasnya.



Tonton juga 'Mural Seniman Kolombia Percantik Taman Ismail Marzuki':

[Gambas:Video 20detik]

(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED