Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 25 Okt 2018 19:15 WIB

TRAVEL NEWS

Pentingnya Akurasi Data Wisatawan di Kawasan 3 Gili Lombok

Harianto Nukman
detikTravel
Ilustrasi evakuasi wisman dari 3 gili saat Gempa Lombok (Harianto/detikTravel)
Mataram - Potensi pariwisata 3 gili di Lombok Utara (Gili Meno, Air dan Trawangan) atau dikenal dengan nama Gili Matra sangat besar. Namun, ada yang harus diperhatikan.

Sebabnya, 3 kawasan wisata ini juga dekat dengan jalur bencana gempa bumi karena berhadapan dengan patahan Naik Flores di bagian utara. Berkaca dari kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di Lombok Utara pada 5 Agustus lalu, terkuak kekurangan pengelolaan di 3 kawasan ini terkait pendataan dan informasi bencana yang ada di sana.

Kusnadi, analis bencana geologi, yang konsen pada geo information for spatial planning and disaster risk management menyorot kelemahan pendataan bencana di Gili Matra.

"Kita itu terbiasa meremehkan pendataan dan terlalu longgar dalam pengawasan. Turis keluar masuk gili melalui banyak pintu, apakah ada pendataan di setiap pintu tersebut? Ini jadi pertanyaan," paparnya, Kamis (25/10/2018).

Menurut dia, akurasi data dan informasi yang dari pihak yang memiliki otoritas di sana harus memperketat pengawasan dan pendataan di setiap pintu masuk turis, dan perlu memastikan turis yang datang ke sana tidak melebihi daya tampung.

Suasana evakuasi di tiga gili Suasana evakuasi di tiga gili (Harianto/detikTravel)
Kusnadi mengatakan perlu adanya studi mengenai daya tampung wisatawan di 3 gili sebagai pulau kecil yang sangat rentan terhadap kerusakan alam apabila yang beraktivitas di sana melebihi daya tampung pulau tersebut.

"Kita tahu banyak turis yang datang ke gili melalui jalur Bali, dan pelabuhan-pelabuhan kecil di luar Pelabuhan Bangsal," kata dia.

Senada dengan itu, Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam FGD Penanganan Gerakan Jurnalisme Ramah Pariwisata di Sari Pan Pacific Hotel, Jakarta, Rabu (24/10/2018), mengungkapkan keluhannya terkait pencatatan yang tidak rapi dalam kawasan pariwisata, seperti saat terjadinya gempa bumi yang melanda gili-gili di Lombok.

"Di data base di suatu destinasi juga nggak bagus. Seperti gili dikabarkan 1000 saja yang ingin nyebrang tapi ternyata ada 8381 wisman dan warlok. Mereka terkena hoax gempa dan tsunami yang lebih besar," kata Sutopo.

Pemerintah sebagai pelindung dan pengayom masyarakat berperanan penting dalam menyediakan dan menyebarkan informasi yang akurat serta mengcounter dengan masif info hoax terkait bencana.

Selain itu, perlu adanya upaya pendidikan dan pelatihan bagi warga untuk memahami bencana itu sendiri, seperti gempa bumi yang belum bisa diprediksi kapan akan terjadinya, namun perlu upaya untuk memitigasi risiko yang akan terjadi. (rdy/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA