Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 03 Des 2018 16:40 WIB

TRAVEL NEWS

Konektivitas Bandara Kualanamu & Silangit Akan Ditingkatkan

Raras Prawitaningrum
detikTravel
Foto: (dok Kemenpar)
Foto: (dok Kemenpar)
Jakarta - Konektivitas udara di Bandara Kualanamu dan Bandara Silangit terus diperkuat. Hal ini dilakukan karena kedua bandara tersebut merupakan akses udara utama ke Sumatera Utara maupun Danau Toba.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Forum Group Discusion (FGD) Pemanfaatan dan Pengembangan Bandara Internasional Kualanamu dan Silangit di Hotel Grand Mercure Medan, Kamis (29/11/2018).

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur Pariwisata, Judi Rifajantoro, mengatakan penguatan konektivitas bertujuan untuk membangun akses konektivitas itu sendiri, baik dari maupun menuju Sumatera Utara. Aksesnya meliputi 3A, yaitu Airlines, Airports, dan Authority.


"Selanjutnya untuk mengetahui aktivitas apa saja yang telah dilakukan pemda dan stakeholder dalam mendukung semua rute internasional dari atau ke Sumatera Utara. Lalu untuk meningkatkan kualitas, keamanan, serta kenyamanan pada Bandara Internasional Kualanamu dan Silangit," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (3/12/2018).

FGD ini membahas beberapa hal penting seperti Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) menyorot kondisi Ajibata Tomok sebagai tempat puncak kemacetan untuk intra moda transportasi darat. Selain itu, masalah mahalnya biaya sewa kendaraan atau transportasi dari Bandara Silangit ke Parapat turut dibahas.

Menjawab masalah tersebut, BPODT telah menyiapkan kerja sama dengan Damri untuk Blue Line, Purple Line, Greenline, dan Yellow Line. Sementara transportasi Kualanamu DTB akan ditenderkan oleh Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara.

"Di sisi lain, harus diakui bahwa beroperasinya Kapal Motor Sinar Bangun memiliki dampak positif pada pasar regional terdekat yaitu, Medan dan Jawa. Namun harga tiket menjadi masalah karena terhitung mahal. Karena itu, diperlukan intervensi pemerintah soal kebijakan tarif (air fair)," jelasnya.

Sementara itu, pihak PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Kualanamu siap menjadikan bandara tersebut sebagai smart airport. Kini traffic-nya telah mencapai 10 juta penumpang. Padahal kapasitasnya hanya 9 juta penumpang. Maka perlu dilakukannya perluasan terminal area komersil dan ruang tunggu.

Tenaga Ahli Menteri Bidang Aksesibilitas Udara Robert D Waloni turut memberikan saran. Menurutnya, sudah saatnya key performance indicator berubah menjadi key performance collaboration.

Dengan itu, semua pihak dapat berkolaborasi agar seluruh stakeholder aksesibilitas di Sumatera Utara mempunyai satu grup komunikasi sebagai wadah untuk berdiskusi lebih mendalam terkait permasalahan yang terjadi secara dinamis.

"Beberapa contoh kolaborasi yang sudah terjadi yaitu belajar dari sejarah Bali dengan bencananya di mana mereka sudah mempersiapkan Bali hospitality team. Railink juga pernah melakukan kerjasama dengan Citilink di mana saat menunjukkan boarding pass Citilink, penumpang akan mendapatkan diskon," kata Robert.


Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan Sumatera Utara telah memiliki 100 destinasi prioritas yang disiapkan dari 33 kabupaten/kota yang ada. Maka segala kebutuhan penunjang harus dilengkapi dan diperbaiki demi mendongkrak kunjungan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

"Blue Bird harusnya tersedia di Kualanamu karena klien-klien dari China hanya mengetahui Blue Bird, khususnya masyarakat Hong Kong. Aksesibilitas menuju King Kong Island dan atraksinya juga harus lebih gencar dipromosikan," tegasnya. (ega/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED