Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 28 Feb 2019 07:35 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Cara Indonesia Tanggapi Bencana di Tempat Wisata

Bona
detikTravel
Foto: (Afif Farhan/detikTravel)
Foto: (Afif Farhan/detikTravel)
Jakarta - Indonesia adalah negeri yang punya potensi bencana alam. Saat bencana terjadi, Kementerian Pariwisata juga melakukan mitigasi krisis pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, memberi keterangan dalam diskusi dan sosialisasi mitigasi bencana dengan tema Be Aware, Prepare Before Traveling, Rabu (27/02/2017) di AONE Hotel, Jakarta.

"Ada tiga tahapan penting yang dilakukan oleh Kemenpar saat terjadi bencana, mulai dari tahap tanggap darurat dan tahap rehabilitasi," ujar Menpar.

Dalam tahap tanggap darurat, Kemenpar akan dengan segera mengaktifkan Tim TCC. Kemudian menunda promosi pariwisata dan melayani wisatawan yang terdampak bencana. Setelah itu Menpar akan memberikan layanan informasi terkait bencana.

"Kita juga mengambil kepercayaan industri untuk menjaga stabilitas, kemudian memberikan siaran pers berkala, diseminasi informasi melalui website dan layanan wisatawan," papar Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo pun ikut memberikan keterangan terkait dengan mitigasi di daerah wisata rawan bencana.

"Alam tidak bisa kita lawan, sekarang bagaimana membuat wisata Indonesia yang tangguh bencana," ujar Sutopo.

Indonesia sendiri terdiri dari 2 bencana, yaitu hidrometeorologi dan geologi. Bencana Hidrometeorologi adalah musibah yang terjadi karena banjir, tanah longsor, puitng beliung, gelombang pasang/abrasi, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan. Sedangkan bencana geologi meliputi tsunami dan gempa bumi.

Dampak bencana sendiri ada dua, yang langsung dan tidak langsung. Dampak langsung dapat terlihat dari penurunan aktivitas produksi, kerusakan, aktivitas perdagangan dan jumlah pengangguran.

"Contohnya di erupsi Gunung Agung menyebabkan 1 juta wisatawan berkurang. Sesungguhnya, status awas dan waspada hanya dalam radius tertentu. Di luar radius tersebut aman," ungkap Sutopo.

Mitigasi bencana terhadap pariwisata dinilai masih sangat terbatas. Adanya 10 Bali Baru diharapkan memberikan wajah baru pada sistem mitigasi bencana Indonesia.

Menpar menyinggung BMKG untuk mencabut peringatan yang kira-kira berdampak untuk pariwisata Indonesia. Kepala Humas BMKG, Ahmad Taufan Maulana pun memberi tanggapan.

"Dari sisi teknis atau scientific saat menyampaikan data pasti asli dan tidak berani mencabut. Tapi bagaimana nanti informasi dikemas dengan lebih humanis," uajr Ahmad.

Indonesia sendiri memiliki aktivitas kegempaan paling akftif di dunia. Setiap harinya, Indonesia mengalami 5.000-6.000 gempa dengan berbagai magnitudo. Namun, hanya magnitudo dengan skala besar dan memiliki dampak saja yang nantinya akan diinformasikan ke masyarakat. (wsw/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA