Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Apr 2019 16:40 WIB

TRAVEL NEWS

Pesona Jawa Barat Akan Ramaikan Car Free Day di Jakarta

Foto: Dok. Kemenpar
Foto: Dok. Kemenpar
Jakarta - Kementerian Pariwisata bakal menggelar rangkaian acara di Car Free Day (CFD) Jakarta lewat event bertajuk Pesona Jawa Barat. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bakal ada beberapa kegiatan mulai dari zumba hingga sajian kuliner khas Tanah Sunda.

"Selain senam zumba, pengunjung CFD bisa menikmati flashmob Pesona Jawa Barat, pagelaran budaya, talkshow, panggung hiburan, dan berbagai kuliner khas Sunda. Dari paparan yang akan dilakukan di CFD, masyarakat akan tahu bahwa berlibur ke Jawa Barat tidak harus mahal. Semua bisa disesuaikan dengan budget yang tersedia," ungkap Arief dalam keterangan tertulis, Senin (22/4/2019).

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kesempatan untuk olahraga pagi bersama sembari menikmati suasana ala liburan di Jawa Barat. Semua bisa dinikmati secara gratis, bahkan pengunjung berkesempatan meraih berbagai hadiah menarik.

Kegiatan dipusatkan pada hari Minggu (28/4) nanti di Park & Ride Thamrin, Jl M H Thamrin 10 samping Hotel Sari Pasifik Jakarta, akan dimulai pukul 06.00 WIB.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani mengatakan, CFD Pesona Jawa Barat dimulai dengan senam zumba untuk membakar semangat seluruh warga yang datang.


Menurutnya mempromosikan destinasi wisata pada kegiatan CFD merupakan langkah tepat karena sebagian besar orang yang datang ke CFD menyukai piknik atau sekadar liburan.

"Orang yang datang ke CFD kemungkinan besar hobi jalan-jalan atau piknik. Karena itu, kita coba perkenalkan Pesona Jawa Barat di CFD. Tujuannya agar mereka bisa mengalokasikan waktu atau mempertimbangkan kemungkinan untuk datang ke Jawa Barat, suatu saat nanti," ujarnya.

Rizki mengatakan, Jawa Barat juga memiliki banyak destinasi wisata yang layak dikembangkan dan dijual pada wisatawan. Pada jenis wisata alam, para pelancong bisa menikmati keindahan Gunung Papandayan, berpetualang menyusuri Green Canyon, atau sekadar mengagumi hamparan permadani hijau di Pengalengan. Sementara yang hobi melakukan wisata sejarah, bisa menyelami peradaban masa lalu di Situs Megalitikum Gunung Padang.

Mengurai satu per satu destinasi tersebut, mungkin wisatawan lokal sudah cukup familiar dengan Gunung Papandayan. Bagi para pecinta alam, gunung itu cocok bagi para pendaki pemula. Sebab, untuk mencapai area perkemahan di Papandayan, pendaki hanya perlu treking selama dua jam.

Pendakian di Gunung Papandayan akan menjadi kesempatan menarik ketika sampai di Tegal Alun, yaitu padang bunga Edelweiss terluas di Jawa Barat, sekaligus tempat terbaik untuk melihat matahari terbit. Spot lain yang tak kalah unik adalah Hutan Mati yang menyuguhkan pemandangan eksotis dari batang pohon-pohon mati akibat letusan gunung berapi.


Ada juga Green Canyon di daerah Cijulang, Kertayasa, Pangandaran. Nama Green Canyon sendiri disematkan oleh wisatawan asal Prancis, karena ngarai yang awalnya bernama Cukang Taneuh itu mengingatkannya pada keindahan Grand Canyons di Arizona. Bedanya, di Green Cnayon Pangandaran berwarna hijau. Wisatawan bisa petualangan menyusuri aliran sungai yang berkelok di antara tebing hijau.

Untuk kawasan Pengalengan, daerah itu berjarak sekitar 45 km di selatan Kota Bandung. Di kawasan tersebut juga terdapat danau yang berukuran besar, yaitu Situ Cileunca. Wisatawan bisa mengitari danau dengan perahu, atau mencoba pengalaman lain dengan menapaki Jembatan Cinta. Tak hanya itu, wisatawan pun bisa berkunjung ke perkebunan teh Malabar untuk mempelajari proses produksi mulai penanaman hingga pengemasan.

Sementara untuk wisata sejarah, Situs Megalitikum Gunung Padang bisa ditemui di daerah Cianjur di kawasan perbukitan setinggi 100 meter di atas permukaan laut. Awalnya, orang menganggap situs tersebut hal biasa, namun akhirnya diketahui bahwa candi tersebut bukan berdiri di atas bukit, melainkan di sebuah piramida buatan manusia yang terkubur oleh tanah.

Hasil uji karbon ilmuwan menyimpulkan, bahwa bebatuan yang digunakan untuk membangun piramida diperkirakan berusia antara 9.000 - 20.000 tahun silam, atau 6.000 tahun sebelum Raja Tut membangun piramida-piramida di Mesir. Dengan kata lain, piramida Gunung Padang diklaim sebagai piramida tertua di dunia. (prf/mul)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA