Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 21 Mei 2019 21:00 WIB

TRAVEL NEWS

Imbas Tiket Pesawat Mahal, Jumlah Wisatawan Lokal Menurun

Moch Prima Fauzi
detikTravel
Foto: Dok. Kemenpar
Foto: Dok. Kemenpar
Jakarta - Negeri Laskar Pelangi Belitung dan Pulau Dewata, Bali merupakan kawasan wisata yang terkena dampak dari mahalnya harga tiket pesawat. Kadispar Anak Agung Gede Agung Yuniarta menyebut adanya penurunan wisatawan nusantara secara kumulatif dari Januari hingga April 2019 sebesar 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 lalu.

"Kalau Bali yang langganan The Best Destination in The World saja anjlok, apalagi daerah lain di luar Jawa yang aksesnya menggantungkan pada airlines? Sudah pasti akan ikut turun, bahkan lebih drastis lagi," kata Agung dalam keterangan tertulis, Selasa (21/5/2019).

Mahalnya harga tiket pesawat untuk destinasi domestik berimbas pada peralihan destinasi wisata yang dituju oleh wisatawan.

"Saya menduga, lebih banyak wisatawan kita yang terbang ke luar negeri, dengan tiket yang jauh lebih murah dibandingkan perjalanan domestik antarpulau di Indonesia," ungkap Agung lagi.

Hal serupa juga dibenarkan Muhammad Lalu Faozal, Kadispar NTB. Ketika Bali turun, hampir pasti Lombok ikut terimbas. Lalu menyusul kemudian, Sumbawa, Sumba, sampai ke Komodo Labuan Bajo.

"Jumlah Flights Garuda Indonesia juga turun, dari 5 kali sehari, sekarang tinggal 3 kali sehari," jelasnya.


Dia melanjutkan, pasar utama Lombok adalah travelers Jakarta yang memiliki daya beli tinggi dan mau belanja untuk berwisata. Hanya saja saat ini jumlah penerbangan menuju Lombok dari Jakarta mengalami penurunan. Jika dulu Jakarta-Lombok ada sebanyak 14 penerbangan sehari maka saat ini hanya 10 kali.

"Kalau wisatawan mancanegara kita masih stabil. Tidak ada kebijakan airlines yang mendadak mahal di penerbangan internasional. Malah sekarang Air Asia menjadikan Lombok sebagai transportation hub-nya. Terima kasih Air Asia," ujar Faozal.

Keluhan Bupati Belitung H. Sahani Saleh yang meratapi nasib lantaran wisatawan nusantara (Wisnus) yang menurun pun bisa dimaklumi. Apalagi Belitung sedang membangun semua infrastruktur atraksi, akses dan amenitas nya sebagai 10 Bali Baru, atau satu dari 10 Destinasi Prioritas.

"Saya sudah laporkan langsung ke Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya, beliau bisa mengerti," ungkap Sahani Saleh.

Meski demikian, di tengah polemik harga tiket pesawat, Kadispar Bali Agung Yuniarta memperkirakan wisata outbound akan meningkat. Sementara itu menurut catatan agen travel online Traveloka, pendapatan dari penjualan tiket ke luar negeri (outbound travel) naik mencapai hampir 70% dengan tujuan Jepang, Korea Selatan, Inggris, Belanda, dan Prancis. Sisanya, dari pembelian tiket dari Negara-negara Asia Tenggara ke Indonesia, maupun lintas kota di wilayah Indonesia.

Traveloka juga mencatat, bahwa unit bisnis Transport Traveloka dengan moda Kereta Api, Bus & Travel, Antar Jemput Bandara, dan Rental Mobil, meningkat tajam. Ini sejalan dengan meningkatnya infrastruktur darat di Indonesia, serta semakin meningkatnya kualitas transportasi darat di Indonesia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya membenarkan bahwa infrastruktur transportasi darat di era Presiden Joko Widodo terjadi secara progresif. Tol dari Jakarta sampai ke Surabaya sudah nyambung. Dari Pandaan sampai ke Malang. Waktu tempuh Semarang ke Solo menjadi hanya 60 menit.

"Untuk overland di Jawa, sudah bagus!" kata Arief.

Soal mahalnya harga tiket pesawat, Arief Yahya mengaku sudah berkoordinasi dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk mencari cara agar biaya transportasi udara lebih terjangkau. Apalagi 75% inbound travel ke Indonesia masih menggunakan jasa angkutan udara.

Di samping itu Kemenhub juga sudah mengeluarkan regulasi baru pada tanggal 16 Mei 2019 ketika upaya persuasi dengan airlines tidak menemukan hasil. Keputusan Menteri Perhubungan No 106 Tahun 2019 soal Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Berjadwal Dalam Negeri juga sudah dikeluarkan untuk menurunkan Tarif Batas Atas di kisaran 12-16%, average 15%.

Menurut Judi Rifajantoro, Staf Khusus Menpar Bidang Infrastruktur dan Aksesibilitas, Kemenhub memang hanya bisa mengatur sampai pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB). Ujungnya, perusahaan airlines yang bisa mengimplementasikan dengan membuat variasi harga, berdasarkan season, waktu, dan demand. Tujuannya untuk menghindari persaingan usaha yang tidak sehat, saling banting harga di level harga rendah. Juga untuk menghindari harga yang terlalu tinggi, ketika peak season di level harga atas.

Menurutnya harga yang dirasakan oleh masyarakat selama ini, sebelum kenaikan akhir tahun 2018 yang lalu, adalah harga di tengah-tengah antara TBA dan TBB. Di kisaran 45% sampai 65% (average 50%) dari Tarif Batas Atas. Dan itu sudah berjalan sekian lama dan menjadi harga psikologis buat masyarakat.

Ia mencontohkan, terbang dari kota A ke kota B, selama ini seharga Rp 1 juta. Inilah yang disebut sebagai harga normal (harga psikologis) oleh masyarakat karena sudah berlaku bertahun-tahun. Meski sebenarnya harga tersebut hanya 50% dari Tarif Batas Atas (TBA).

Jika di peak season, harga bisa naik hingga Rp 2 juta atau menjadi 100% dari harga normal. Sementara di saat low season harganya bisa turun lagi menjadi Rp 1 juta. Hal tersebut telah menjadi mekanisme pasar biasa di mana harga menyesuaikan demand dan supply.

Kemenhub sudah menurunkan TBA, antara 12-16%, atau rata-rata 15%. Maskapai menghitung dari harga yang sudah tinggi harga TBA yang sudah menjadi 200% dari harga normal yang dipersepsikan masyarakat, maka harga masih dirasakan mahal. Kalau Full Service Carrier 100%, maka Medium Service Carrier 90%, dan Low Cost Carrier 85%.

"Dari persentase itu, berarti semua akan mengikuti aturan menurunkan batas atasnya, termasuk LCC dan MSC. Maka, maskapai masing-masing kelompok layanan akan menurunkan tariff rata-rata 15% dari TBA maksimumnya. Sehingga masyarakat penumpang akan merasakan penurunan yang kurang lebih sama, yakni 15%," jelas Judi. (prf/mul)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED