Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Jun 2019 07:20 WIB

TRAVEL NEWS

Selain Pisahkan Lelaki-Perempuan, Gunung Rinjani Juga Akan Tutup Hari Jumat

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Foto: Ilustrasi Pendaki Gunung (iStock)
Foto: Ilustrasi Pendaki Gunung (iStock)
Lombok Timur - Pengelola Gunung Rinjani tak hanya berencana memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan. Jalurnya juga akan ditutup di hari Jumat.

Hal di atas diungkapkan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Sudiyono dalam sambungan telepon dengan detikcom, Rabu (19/6/2019). Kata dia, penutupan di hari Jumat atas usulan masyarakat dan hanya di Jalur Sembalun.

"Kami memang belum pernah diajak diskusi oleh pemda. Tapi ada usulan yang mengarah ke situ, antara lain di Sembalun minta kalau hari Jumat itu pendakian ke Gunung Rinjani ditutup," kata Sudiyono.

"Kita nggak memasalahkan hal itu. Kita anggap itu hal yang baik dan bentuk kepedulian terhadap Gunung Rinjani," imbuh dia.

Lalu bagaimana cara penutupan di hari Jumat? Ia menjelaskan bahwa sistem e-ticketing mempermudah pelaksanaannya.

View this post on Instagram

Penutupan jalur pendakian Sembalun setiap hari Jumat, lebih lengkapnya sebagai berikut: #tngr #klhk

A post shared by BTN Gunung Rinjani (@gunungrinjani_nationalpark) on Jun 19, 2019 at 5:40pm PDT



"Lalu kita menggunakan tiket online, jadi cukup membuat nol di hari Jumat. Seolah-seolah penuh atau tidak menjual tiket di hari tersebut jadi kan pendaki itu nggak bisa naik," jelas Sudiyono.

Jika ditilik dari sisi pariwisata, pemisahan pendaki ini memang tak jauh dari konsep wisata halal yang dianut Pemda NTB. Itu digaungkan pemerintah dalam memasarkan potensi wisatanya agar berbeda dengan daerah di sebelahnya, Bali.

BACA JUGA: Pendaki Pria & Wanita Dipisah, Rinjani Jadi Gunung Syariah?

Cara Memisahkan Pendaki Laki-laki dan Perempuan

Gunung Rinjani akan menerapkan aturan baru yang lebih syariah. Pendaki adam dan hawa akan dipisah. Bagaimana cara melakukannya?

"Kan area kemping itu bisa saja di tengah-tengah itu ada jalan masuk, kemudian yang sebelah kiri itu laki-laki dan kanan perempuan, yang tengah itu buat petugas atau (porter) apa gitu," urai Sudiyono.

Ide memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan diinisiasi oleh BTNGR sendiri. Itu sebagai implementasi wisata halal yang ada di Lombok, yakni jika pendaki yang berpasangan tidak diperboleh untuk tidur bareng.

"Itu ide hasil diskusi kami di TNGR. Bagaimana kita menyambut wisata halal, tandanya seperti apa kita belum mendapat informasi yang fix. Kita ingin terus mneggali halal sesuai ajaran agama. Antara lain kl malam laki-laki dan perempuan itu terpisah kalau belum ada kaitan langsung secara agama," urai Sudiyono. (msl/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED