Topik tersebut ikut disinggung dalam paparan riset terbaru Amadeus, satu dari 10 besar perusahaan teknologi yang bergerak dalam sistem distribusi global (Global Distribution System) terkait trend traveling dewasa ini di kantornya, UOB Plaza, Jakarta, Senin (24/6/2019).
Menurut data dari Kementerian Budaya dan Pariwisata China, sekitar 149,72 juta ttraveler dari Negeri Tirai Bambu bepergian tahun 2018 lalu. Jumlah itu juga mengindikasikan kenaikan jumlah turis China di pasar pariwisata global sebanyak 14,7% dari tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin alasan utamanya karena kendala bahasa. Turis yang bepergian kebanyakan dari kelas menengah China. Pergi dalam rombongan memudahkan mereka untuk berkomunikasi," ujar Andy.
Umumnya, satu rombongan turis China yang jumlahnya belasan hingga puluhan selalu didampingi oleh satu pemandu yang bisa berbahasa Mandarin. Walau tak jarang juga yang menyewa jasa pemandu lokal di destinasi terkait.
BACA JUGA: Maaf, Amsterdam Tak Mau Lagi Terima Turis
Lantas, apakah trend turis China yang hobi pergi berombongan itu bisa berubah? Menurut Andy, semua itu cuma perkara pilihan dan waktu saja.
"Semua hanya soal pilihan. Seiring majunya China, kebiasaan itu akan berubah," pungkas Andy.
(rdy/aff)












































Komentar Terbanyak
Melihat Gejala Turis China Meninggal di Hostel Canggu, Dokter: Bukan Musibah, Ini Tragedi
Sumut Dilanda Banjir Parah, Walhi Soroti Maraknya Deforestasi
Viral Tumbler Penumpang Raib Setelah Tertinggal di KRL, KAI Sampaikan Penjelasan