Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Jul 2019 18:50 WIB

TRAVEL NEWS

Curhatan Menohok Denny Malik Soal Event Wisata di Daerah

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Foto: dok detikHOT
Foto: dok detikHOT
Jakarta - Sebagai koreografer, Denny Malik sudah sangat berpengalaman menangani event berskala Nasional maupun Internasional. Tapi untuk skala daerah, ada banyak masalah.

Siapa yang tidak kenal koreografer kondang, Denny Malik? Mahakarya ciptaannya sudah banyak dipentaskan di event-event berskala Nasional, bahkan Internasional. Yang terbaru dan masih segar di ingatan, tentu saja Pembukaan Asian Games 2018 yang amat megah.

Namun untuk urusan event di daerah, Denny mengaku banyak yang harus dibenahi. Curahan hatinya pun cukup menohok dan keras, tapi Denny merasa itu perlu untuk diungkapkan.

"Problemnya adalah, kita selalu lemah di eksekusi teknis. Untuk konten, kita sudah bagus. Senimannya oke-oke banget. Minat masyarakat dan penampil bagus sekali. Tapi saat manggung, soundnya tidak memadai. Saya kadang kasihan, sudah latihan berbulan-bulan, tapi pas pentas sound mati, panggung tidak layak. Itu terjadi berulang-ulang," keluh Denny dalam acara Coaching Clinic Calender of Event (CoE) di Sparks Luxe Hotel Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Apalagi alasan di balik kekurangan teknis tersebut, ternyata masalah biaya. Denny pun menegaskan, untuk bisa menciptakan event berstandar Nasional apalagi Global memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit, tapi output yang dihasilkan akan sesuai. Jadi soal mahal dan murah itu sangat relatif.

"Setiap saya ke daerah, mereka selalu bilang 'Kita pakai EO yang paling murah'. Kenapa selalu begitu jawabannya? Bagi saya, mahal-murah itu relatif. Kalau tidak sanggup, jangan buat event. Analoginya, kalau nggak punya uang, jangan bikin pesta. Kita undang orang, kalau acaranya nggak bagus, makanannya nggak enak, mending nggak usah," tegas Denny.

Dengan pengalaman selama lebih dari 30 tahun, Denny tidak mentolerir jika alasan kekurangan teknis ini adalah soal dana. Bagi Denny, semuanya bisa diusahakan. Jika memang berkomitmen, para pemangku kebijakan di daerah pasti akan mengusahakan dan mencarikan solusi terkait masalah tersebut.

"Jangan dihemat-hemat lah. Bikin event, tapi genset cuma 1, panggungnya umpek-umpekan, spek alat tidak menunjang, seadanya. Kalau nambah 50-100 juta, bisa dapat yang lebih baik, kenapa tidak. Coba diusahakan dulu, cari sponsor, cari solusi, pasti bisa," imbuh Denny.

Terakhir, Denny menyoroti soal penempatan fotografer selama sebuah event berlangsung. Terkadang para media atau fotografer, justru diberi tempat yang tidak strategis, di belakang. Padahal pihak penyelenggara membutuhkan mereka untuk publikasi agar event mereka bisa diketahui khalayak, apalagi sekarang sudah zaman serba digital.

"Panggung VIP ga perlu lah. Justru harusnya itu untuk panggung media. Panggung buat media kadang nggak memadai. Harusnya mereka yang VIP, kita kasih privilege. Kita yang butuh mereka. Apalagi sekarang sudah zaman digital, foto harus yang bagus, promosi yang bagus. Jangan mimpi jadi event internasional, kalau secara teknis kita tidak menguasai," tutup Denny.



Simak Video "Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Warga Berani Tamasya?"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED