Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 18 Jul 2019 18:10 WIB

TRAVEL NEWS

Suku Tengger Rayakan Puncak Hari Raya Yadnya Kasada di Bromo

M Rofiq
detikTravel
Foto: (M Rofiq/detikcom)
Foto: (M Rofiq/detikcom)
Probolinggo - Warga Suku Tengger akhirnya menggelar ucapara 'Yadnya Kasada' di Pura Luhur Poten, areal Kaldera lautan pasir Gunung Bromo. Upacaranya berlangsung khidmat

Setelah melaksanakan malam resespsi pengukuhan tamu kehormatan Warga Suku Tengger, di Pendopo Agung Desaa Ngadsari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu malam 17/7, warga Suku Tengger akhirnya menggelar ucapara 'Yadnya Kasada' di Pura Luhur Poten, areal Kaldera lautan pasir Gunung Bromo.

Dalam ritual tahunan ini, warga dari 4 kabupaten membawa 'Ongkek' atau aneka hasil bumi, dan sesajen ke dalam Pura untuk dimantrai.

Ongkek dibawa oleh warga dari empat Kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Ongkek sendiri merupakan, keranjang bambu yang dibuat warga Suku Tengger, sebagai wadah sesajen baik hasil bumi dan ternak.

Di dalam pure, Ongkek tersebut dimantrai secara bersama oleh para dukun pandita perwakilan dari 36 desa, yang ada di kawasan lereng Gunung Bromo. Usai dimantrai, selepas pukul 03 : 30 dini hari, aneka hasil bumi dan sesajen pun kemudian dibawa menuju gunung Bromo, untuk dilarung ke kawah.

(M Rofiq/detikcom)(M Rofiq/detikcom)


Selain itu dalam Yadnya Kasada kali ini, ada 7 orang yang dilantik menjadi dukun pandita. 4 Dari Pasuruan, dan 3 dari Probolinggo.

Sementara dalam upacara Yadnya Kasada yang berlangsung Kamis dini hari (18/7/2019), suhu udara di sekitar Gunung Bromo mencapai 5 sampai 8 derajat Celcius.

BACA JUGA: Sehari Menikmati Keindahan Gunung Bromo, Bisa Kok!

Salah seorang pengunjung Bromo, Ade Rizky mengatakan, meski suhu udara cukup dingin namun melihat prosesi adat di Bromo sangat menarik. Ia mengaku terkesan, dengan adat masyarakat Suku Tengger lereng Bromo, dimana masih lestari sampai saat ini.

"Luar biasa adatnya, menarik sekali dan patut dipertahankan karena ini bagian dari identitas bangsa," ungkapnya.

Sekedar informasi, upacara Yadnya Kasada merupakan penghormatan warga terhadap leluhurnya, yakni pasangan suami istri, Roro Anteng dan Joko Seger.

(M Rofiq/detikTravel)(M Rofiq/detikTravel)


Keduanya rela mengorbankan anak ke-25, yakni Raden Kusuma untuk dilarung ke dalam kawah Gunung Bromo. Raden Kusuma dikorbankan untuk menepati janji pasutri keturunan Kerajaan Majapahit itu, kepada Sang Hyang Widhi.

Dan sebagai ungkapan penghormatan itu, Warga Suku Tengger lantas melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Menariknya, aneka hasil bumi dan sesajen yang dibuang kedalam kawah justru menjadi rebutan warga. Bahkan banyak warga dari luar kawasan Bromo, sengaja naik ke puncak kawah sejak malam hari sebelumnya, menunggu sedekah bumi dilarung.

"Kalau dapet, sesajinya buat dimakan, sayur sama buah-buahan bisa dijual mas. Tahun kemarin saya bisa dapat 80 ribu, kalau sekarang belum dihitung," kata Sutikno (40), salah seorang pemburu ongkek.

(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED