Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 29 Des 2019 22:07 WIB

TRAVEL NEWS

Protes Membara di India, Turis Jauhi Taj Mahal

Putu Intan Raka
detikTravel
Taj Mahal di India (iStock)
Mumbai - Industri wisata India justru terpuruk pada liburan akhir tahun. Lantaran gelombang protes mengenai UU Kewarganegaraan baru yang sedang terjadi di negara itu.

Dilansir dari Reuters pada Minggu (29/12/2019), setidaknya 25 orang terbunuh dalam bentrokan antara polisi dan demonstran yang memprotes mengenai UU tersebut.

Sumber resmi mengatakan sekitar 200 ribu turis domestik dan internasional membatalkan atau menunda liburan mereka ke Taj Mahal, salah satu destinasi populer India, dalam waktu 2 minggu terakhir.

Menurut inspektur polisi yang mengawasi kantor polisi wisata khusus di dekat Taj Mahal, Dinesh Kumar, terjadi penurunan jumlah wisatawan ke Taj Mahal jika dibandingkan dengan Desember tahun lalu.

"Telah terjadi penurunan jumlah pengunjung sebesar 60% pada bulan Desember ini," katanya.

"Orang India dan turis mancanegara telah menghubungi ruang kontrol kami untuk mengecek keamanannya. Kami menjamin keamanan mereka tetapi banyak yang memutuskan untuk menjauh," imbuh Kumar.



Sekelompok turis asal Eropa yang liburan keliling India juga berencana untuk mengurangi waktu kunjungannya yang semula mencapai 20 hari.

"Kita semua adalah pensiunan, bagi kami, liburan harus pelan dan santai. Berita utama di surat kabar telah menimbulkan rasa khawatir dan kami akan pergi lebih cepat dari yang kami rencanakan," kata wisatawan yang merupakan pensiunan bankir, Dave Milikin.

Bangunan ikonik India yang terletak di Uttar Pradesh ini dijauhi turis karena jumlah korban meninggal dari gelombang protes paling banyak berasal dari wilayah India bagian utara itu. Protes yang diwarnai kekerasan ini telah berlangsung selama dua minggu tanpa henti.

Selain Taj Mahal, penginapan seperti hotel dan guest house di sekitarnya juga terdampak. Mereka mengatakan pembatalan pada musim liburan ini membuat bisnis mereka turun. Hal ini juga diperparah dengan kondisi pertumbuhan ekonomi India yang melambat menjadi 4,5 persen. Kondisi ini merupakan yang terburuk dalam 6 tahun terakhir.

Selain bentrokan selama protes, pemerintah India juga memperburuk situasi dengan mengeluarkan keputusan untuk menangguhkan layanan internet di Agra.

"Memblokir internet telah mempengaruhi travel dan turisme di Agra sekitar 50-60%," kata President of Agra Tourism Development Foundation, Sandeep Arora.

Protes Membara di India, Turis Jauhi Taj MahalTaj Mahal (Asri Vernon/d'Traveler)


Sementara itu, beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Israel, Singapura, Kanada, dan Taiwan juga telah mengeluarkan saran perjalanan yang meminta warganya untuk tidak mengunjungi atau berhati-hati ketika pergi ke daerah-daerah yang terlibat protes India.

Protes yang terjadi di India terjadi menyusul dikeluarkannya UU Kewarganegaraan baru yang dinilai diskriminatif. Dilansir dari BBC (29/12/2019), UU ini hanya memberikan amnesti pada pendatang ilegal yang beragama selain Muslim dari negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. Padahal ketiga negara ini memiliki penduduk mayoritas beragama Islam.

Selain itu, pemerintah India juga berencana menerbitkan Daftar Warga Negara Nasional (NRC) yang akan diberlakukan di seluruh negeri. Daftar ini akan memuat data pendatang gelap yang tak punya dokumen resmi dan bukti kalau nenek moyang mereka adalah orang India.




Simak Video "Kedubes India Didemo, Jalan Rasuna Said Tak Bisa Dilalui Kendaraan!"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA