Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Mar 2020 11:12 WIB

TRAVEL NEWS

Corona Vs Pariwisata: Indonesia Harus Atasi Penyebab, Bukan Gejala

Alfons Tanujaya
detikTravel
simulasi corona rsud soeselo
Ilustrasi virus Corona (Imam Suripto/detikHealth)
Jakarta -

Jika pasien datang ke dokter dengan keluhan batuk, sudah pasti dokter tidak akan langsung memberikan obat batuk untuk menyelesaikan masalah tersebut, karena batuk adalah gejala atau symptom dan bukan penyebab.

Setelah diperiksa dan diketahui pasti penyebab batuk tersebut, maka dokter akan memberikan obat sesuai dengan penyebab batuk tersebut. Misalnya, terkena flu dan radang akan mendapatkan antibiotik atau kalau terkena TBC maka akan diberikan pengobatan penyembuhan TBC dan bukan obat batuk.

Hal yang berbeda kelihatannya terjadi pada dunia pariwisata Indonesia. Sudah jelas penyebab lesunya pariwisata Indonesia adalah kekhawatiran atas penyebaran virus Corona atau Covid 19 sehingga menyebabkan para wisatawan mengurungkan perjalanannya karena takut tertular Covid 19.

Namun, langkah yang dilakukan oleh pemerintah terkesan berusaha mengatasi gejala, bukan mengantisipasi penyebab masalah tersebut. Padahal, ada baiknya pemerintah daerah dan pusat mengevaluasi pendekatan terhadap penyebab lesunya pariwisata ini sehingga bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih tepat dan efektif.

Seperti kita ketahui, Covid 19 berpengaruh buruk terhadap perekonomian dunia termasuk Indonesia. Ketakutan terhadap penularan dan penyebaran Covid 19 ini menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi yang berpengaruh buruk pada ekonomi dunia dimana harga minyak turun 30 % ke titik terendah sejak tahun 1991, bursa saham rontok dan turun lebih dari 7%.

Pukulan terbesar dialami oleh industri pariwisata yang terpuruk karena kunjungan wisatawan yang mengalami penurunan signifikan. Dan pemerintah berusaha mengantisipasi dengan berbagai kebijakan seperti:

1. Pemberian potongan tiket Airline.
2. Pembebasan pajak hotel dan restoran.
3. Hibah pada destinasi wisata.
4. Pemberian insentif guna mendukung industri transportasi pariwisata.

Kebijakan ini didukung juga oleh pemerintah daerah, seperti contohnya pemerintah daerah Bali seperti:

1. Percepatan realisasi program infrastruktur.
2. Percepatan realisasi program pemerintah provinsi, kabupaten.
3. Pemulihan citra pariwisata dan perekonomian Bali.

Perhatian pemerintah terhadap Covid 19 ini bukannya sama sekali tidak ada, tetapi terkesan sangat kecil, dimana satu-satunya antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah Bali sehubungan dengan Covid-19 pada Surat Edaran nomor 556/1077 tahun 2020 hanya pada poin D.3 yang berbunyi: Mengintensifkan kampanye melalui media sosial bahwa Bali aman dari virus Corona.

Ada baiknya pemerintah lebih fokus mengatasi penyebab masalah dan bukan mengatasi gejala dimana penyebab utama lesunya industri pariwisata ini adalah ketakutan atas penyebaran Covid 19 dan kekurangpercayaan wisatawan dan komunitas dunia terhadap kemampuan Indonesia mendeteksi dan mengantisipasi Covid 19.

Ada baiknya pemerintah jangan salah fokus memboroskan sumber daya dan energi pada aktivitas mengatasi gejala turunnya permintaan seperti memberikan potongan tiket airline, potongan pajak, penambahan hari libur, pemberian insentif, hibah dan lainnya, sedangkan penyebab masalah ini adalah ketakutan terhadap penularan Covid 19 malah hanya mendapatkan sedikit perhatian.

Sebesar apapun potongan yang diberikan atau diberikan gratis sekalipun, tetapi ada resiko besar tertular penyakit yang mengancam keselamatan tidak akan efektif menarik datangnya wisatawan.

Ada baiknya pemerintah selain berkampanye Indonesia aman Covid 19 juga mengalihkan fokus untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan dunia atas kemampuan dan kepedulian Indonesia menangani dan antisipasi Covid 19 seperti:

1. Bandara Ngurah Rai dan bandara lain di Indonesia melengkapi Thermal Imaging Camera Scanner terbaru dengan tingkat presisi 0.5 derajat dan hampir mustahil bagi orang yang mengalami demam lolos scanner tersebut. Melihat petugas bandara utama Jakarta dengan termometer digital satu per satu mengukur suhu wisatawan yang tiba dan harus mengantri panjang memberikan kesan yang sangat buruk bagi kesiapan Indonesia mengantisipasi Covid 19.

2. Bali mempersiapkan lokasi khusus misalnya salah satu pulau untuk karantina dan penanganan wisatawan yang terdeteksi Covid 19 dengan standar WHO atau standar internasional yang diakui, misalnya kerja sama dengan rumah sakit terkenal Singapura, Jepang atau Australia.

3. Libatkan pecalang dan latih dengan pengetahuan medis tertentu untuk memantau dan membantu wisatawan sehingga mereka merasa aman karena selalu diawasi. Jika memungkinkan lengkapi dengan perangkat kamera infra red portabel memantau pergerakan wisatawan dan langsung menghentikan dan menindaklanjuti jika terdeteksi ada yang mengalami suhu badan tidak normal.

Jika hal ini yang dilakukan, penulis yakin akan lebih berdampak kepada peningkatan pariwisata Bali dan Indonesia dibandingkan segala macam potongan tiket airline, potongan pajak, insentif, hibah dan lainnya yang memakan sumber daya dan biaya yang jauh lebih besar.



Simak Video "Tips Aman Berkegiatan Sehari-hari Agar Bebas Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA