Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 26 Mei 2020 05:53 WIB

TRAVEL NEWS

2 Penjelajah Wanita Kena Lockdown di Arktik

Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby
Gubug penjelajah di Kepulauan Svalbard, Kutub Utara (Foto: Hearts in the Ice/CNN)

Konflik Pariwisata Arktik

Saat ini, kapal wisata tidak dapat melakukan perjalanan ke Svalbard yang berada di tengah-tengah antara Norwegia dan Kutub Utara karena pembatasan perjalanan global. Itu juga berefek pada lebih sedikit sampel data yang sedang dikumpulkan dua penjelajah itu.

"Kapal-kapal wisata memberikan nilai besar bagi para ilmuwan dengan mengumpulkan sampel air asin dan pengamatan awan," jelas Sorby.

"Agustus lalu, setiap hari kapal bersandar di sini dan membawa 60 hingga 80 penumpang. Kapal-kapal kecil mulai datang di bulan Mei dan kapal-kapal yang lebih besar di bulan Juni," imbuh dia.

Oleh karena itu, hanya mereka berdualah yang kini secara aktif mengumpulkan data es laut atau fitoplankton. Itu memungkinkan bidang yang mereka geluti tak kehilangan data.

Musim wisata Arktik berlangsung dari Mei hingga September. Jika pembatasan tetap berlangsung maka hanya akan ada sedikit atau tidak ada wisatawan sama sekali di wilayah ini pada tahun ini.

Komunitas Svalbard sangat terpukul oleh COVID-19 yang juga bergantung pada sektor pariwisata. Awal Juni, kepulauan ini akan mulai terbuka untuk tamu yang datang dari daratan utama Norwegia.

Banyak perdebatan tentang risiko lingkungan di sekitar Arktik dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar disebabkan oleh peningkatan jumlah kapal ekspedisi pariwisata dan bahaya emisinya.

Tahun lalu, pemerintah Norwegia mengeluarkan siaran pers yang mengindikasikan sedang mempertimbangkan larangan minyak bahan bakar berat (HFO). Serta, ada batasan ukuran pada kapal penumpang di Svalbard dalam upaya mengelola pertumbuhan pariwisata dan melindungi satwa liarnya.

Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva SorbyPenjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby (Foto: Hearts in the Ice/CNN)

Kata Strom dan Sorby, daerah ini juga mendapat manfaat luar biasa dari pariwisata. Hilde Kristin Rosvik, editor surat kabar lokal, Svalbardposten, baru-baru ini berbicara tentang konflik ini.

Ia menjelaskan bahwa penduduk lokal bisa mendapat uang juga membangun kesadaran akan pariwisata berkelanjutan. Karena, orang yang datang ke sana bisa sangat besar jumlahnya.

"Sekarang penambangan batu bara jauh lebih sedikit daripada sebelumnya. Pendidikan, penelitian, dan pariwisata adalah elemen penting dari ekonomi," kata Rosvik pada Forbes tahun lalu.

"Masalahnya adalah terlalu banyak turis tiba sekaligus dari sebuah kapal. Ini menciptakan gesekan dalam komunitas kecil," imbuh dia.

Efek perubahan iklim dunia ke Svalbard

Svalbard juga merupakan salah satu wilayah di bumi yang paling parah dilanda perubahan iklim.

Suhu rata-rata tahunan di sini telah meningkat empat derajat Celcius sejak tahun 1970. Sementara suhu musim dingin telah melonjak lebih dari tujuh derajat, menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Pusat Layanan Iklim Norwegia pada tahun 2019.

Itu telah menyebabkan longsoran es. Salah satu kejadiannya menimpa 10 rumah, terkubur di Kota Longyearbyen.

Strom dan Sorby terus menggaungkan perubahan iklim dari pedalaman. Di sela-sela pengumpulan data, mereka mengunggah segala pembaruan yang didapat di blognya hingga aplikasi video call.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA