Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 12 Jun 2020 05:08 WIB

TRAVEL NEWS

Jangan Tunggu Lagi, Bangkitkan Pariwisata yang Berkelanjutan

Valerina Daniel
detikTravel
Fokus Turis Terdampar di Negeri Orang
Foto: Andhika Akbarayansyah

Kesehatan adalah Kunci

Pandemi Covid-19 membuat mata kita terbuka akan pentingnya aspek kesehatan dan kebersihan dalam pariwisata. Dalam masa kenormalan baru, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengeluarkan program CHS (Clean, Healthy, Safety).

Jika diteliti lebih lanjut, CHS sudah terangkum dalam konsep pariwisata berkelanjutan. Indikator kebersihan, kesehatan dan keselamatan terdapat pada pilar tata kelola dalam Permenpar No.14/2016. Sehingga jika destinasi sudah menerapkan pariwisata berkelanjutan, tentu lebih mudah untuk mengadopsi CHS di masa kenormalan baru.

Aspek kesehatan dan kebersihan juga sebenarnya sudah disorot dalam Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia yang dikeluarkan oleh World Economy Forum. Setiap tahunnya peringkat Indonesia naik dan pada 2019 berada di peringkat 40 dari 140 negara.

Namun terdapat 3 pilar dimana Indonesia termasuk peringkat terbawah, yaitu keberlanjutan lingkungan (peringkat 135); kesehatan dan kebersihan (peringkat 102); dan infrastruktur pelayanan pariwisata (peringkat 98). Indikator yang membuat peringkat pilar kesehatan dan kebersihan rendah salah satunya adalah jumlah ketersediaan tempat tidur di rumah sakit yang hanya 1,2 untuk 1000 penduduk.

Sementara negara besar lainnya seperti India adalah 2,7 tempat tidur, China 4,3 tempat tidur dan Jepang 13 tempat tidur untuk setiap 1000 penduduk. (CNBCIndonesia, 1 Mei 2020)

Dalam visi pemulihan pariwisata UNWTO, aspek kesehatan masyarakat menjadi langkah pertama yang harus diperhatikan. Seperti mengintegrasikan indikator epidemiologi dalam kebijakan pariwisata, menghubungkan upaya kesehatan dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial, serta mengembalikan kepercayaan melalui komunikasi efektif, Hal ini dikarenakan membangun pariwisata harus dimulai dari masyarakat (people) yang sehat, baru kemudian alam (planet) yang lestari, dan terakhir ekonomi (prosperity).

Perkembangan terkini dari negara-negara yang sudah berencana membuka sebagian perbatasannya (travel bubble), seperti Selandia Baru-Australia, Singapura-China, dan beberapa negara Eropa Timur, memperlihatkan tingkat penularan Covid-19 yang sudah rendah atau nol.

Jika Indonesia ingin segera menggiatkan kembali pariwisatanya, maka harus pula menunjukkan kondisi pandemi yang sudah terkontrol.

Memang tidak mudah, karena para epidemiolog belum dapat memastikan kapan puncak Pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia. Apalagi sebagian wilayah di tanah air sudah mulai membuka sektor pariwisatanya menyambut era kenormalan baru.

Faktor keberhasilan pengontrolan terletak antara lain pada kedisiplinan kita semua, baik itu masyarakat dan pemerintah, untuk menjalankan protokol kesehatan. Lebih ideal lagi jika ditunjang dengan peningkatan pembangunan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang melibatkan komunitas lokal.


Kesempatan Emas...

Selanjutnya
Halaman
1 2 3

BERITA TERKAIT
BACA JUGA