Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 19 Jun 2020 05:49 WIB

TRAVEL NEWS

Upaya Beijing agar Tak Jadi Wuhan 2.0

Elmy Tasya Khairally
detikTravel
Otoritas China menutup sementara 11 pasar di Beijing dalam upaya melacak cluster penularan baru virus Corona (COVID-19).
Ilustrasi Beijing (AP Photo)
Beijing -

Beijing kembali di-lockdown setelah mengalami gelombang kedua virus Corona. Itu agar ibu kota China tersebut tak menjadi Wuhan kedua.

Dikutip dari travel+leisure oleh detikcom, Jumat (19/6/2020), sekitar 27 kawasan Beijing telah dikunci kembali. Penduduk pun tak lagi bisa meninggalkan kota.

Menurut BBC, lebih dari 1.200 penerbangan dari dan ke Beijing telah dibatalkan. Begitu pula dengan layanan kereta api keluar masuk Beijing ditangguhkan hingga 9 Juli 2020.

Padahal, selama 50 hari berturut-turut tak ada kasus virus Corona baru. Tapi, selama akhir pekan, pejabat Beijing melaporkan ada 87 kasus, 46 di antaranya tidak menunjukkan gejala. Setidaknya sekarang Beijing memiliki 137 kasus baru, menurut Associated Press.

Wabah itu diyakini berasal dari pasar makanan terbesar di Asia yang berada di ibu kota China itu menjual hasil laut dan makanan laut, Xinfadi. Kini pasar Xinfadi telah ditutup dan lingkungan sekitarnya ditempatkan dalam siaga tinggi.

Warga Beijing diwajibkan memakai masker wajah saat berada di area publik yang tertutup. Semua penduduk juga harus melewati pemeriksaan suhu jika ingin memasuki sebuah perusahaan.

Kolam renang dan pusat kebugaran ditutup, namun pabrik dan perusahaan bisnis dibuka, meskipun karyawan dianjurkan untuk bekerja dari rumah.

Sebagai negara yang pertama kali terkena wabah virus Corona, China bergerak cepat ketika ditemukan kasus virus Corona baru. Saat sebuah kota mulai terinfeksi kembali, maka lockdown langsung diberlakukan kembali. Hal ini juga terjadi saat wabah virus Corona dilaporkan di timur laut China pada bulan lalu.

"Beijing tidak akan menjadi Wuhan 2.0, dunia akan melihat kapasitas kuat China dalam mengendalikan epidemi, termasuk kepemimpinan (pemerintah) yang kuat, respek terhadap sains, kesediaan publik untuk bekerja sama dan koordinasi nasional untuk tindakan pengendalian," kata Hu Xijin, pemimpin redaksi Global Times, media yang dikendalikan negara.

"Kita akan menang lagi," dia menambahkan.



Simak Video "Sebaran Kasus Aktif Corona RI Per 4 Oktober, Terbanyak di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA