Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 06 Agu 2020 19:05 WIB

TRAVEL NEWS

Agustusan Momen Tepat Kampanyekan Protokol Pendakian Gunung

Femi Diah
detikTravel
Savana oro-oro ombo
Pendakian gunung diminta untuk mematuhi protokol kesehatan saat COVID-19. (Azmi Fadillah/d'Traveler)
Jakarta -

Traveler yang gemar wisata petualang biasanya merayakan hari ulang tahun RI pada 17 Agustus atau Agustusan dengan pendakian gunung. Itu menjadi momen pas untuk mengampanyekan protokol kesehatan COVID-19.

Sejumlah jalur pendakian gunung di Tanah Air mulai dibuka kendati pandemi virus Corona belum mereda. Dalam waktu dekat kabarnya gunung-gunung yang dikelola oleh taman nasional juga turut membuka pintu untuk pendaki.

Merujuk tahun-tahun sebelumnya, tak sedikit pendaki yang merayakan Agustusan di puncak gunung. Mereka berlomba untuk mengibarkan bendera Merah Putih di ketinggian.

Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Cecilia Vita Landra, memprediksi puncak gunung bakal kembali menjadi tempat favorit momen 17-an tahun ini. Dia meminta agar pemerintah daerah melalui dinas pariwisata gencar menyosialisasikan protokol kesehatan COVID-19.

"Masih ada waktu buat Pemda atau Dinas Pariwisata datang ke pos-pos di kaki gunung (sebelum Agustusan). Ini waktu yang pas untuk menyosialisasikan protokol pendakian gunung kepada yang bertugas di lapangan dan pendaki," kata Vita dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (6/8/2020).

"Gunung yang menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata kan tidak banyak. Gunung di Indonesia banyak, namun yang menjadi tanggung jawa Pemda kan tidak banyak, Dispar bisa berbagi untuk menuju kaki-kaki gunung membuat sosialisasi dan aturan mendaki gunung di new normal ini," dia menambahkan.

"Menurut saya masih cukup waktu untuk menyiapkan ini dan itu. Saya enggak mengerti juga kenapa itu menjadi sulit, padahal ini momentum mereka untuk menggiatkan pariwisata petualangan," Vita menegaskan.

Vita optimistis pendaki bakal patuh andai pengelola membuat peraturan pada new normal pendakian gunung. Apalagi, sudah cukup lama pendakian gunung ditutup.

"Sosialisasi protokol kesehatan sudah kencang, harusnya untuk pendakian gunung dimulai bulan lalu. Guide juga sudah menerapkan meksipun mereka ditertawakan karena memakai APD, tapi ya mau tidak mau karena wabah belum usia," kata Vita.

"Nah, kalau pemda atau dinas pariwisata dan nanti taman nasional menerapkan dengan ketat protokol kesehatan, pendaki bakal mengikuti. Bukankah mereka sudah rindu berat untuk naik gunung," Vita menambahkan.

Apalagi, berkaca tahun-tahun sebelumnya, sejumlah gunung justru penutup jalur pendakian untuk 17-an. Sebab, di waktu tersebut terjadi pendakian massal yang imbasnya sampah pun menjadi menggunung.

Merujuk adanya jalur pendakian gunung yang ditutup pada 17 Agustus itu bukan tidak mungkin pendakian gunung terkonsentrasi pada gunung tertentu.

"Tahun-tahun lalu sudah banyak gunung tutup saat 17-an karena begitu banyak kejadian setiap tanggal 17, atas nama pasang bendera Merah Putih di puncak, terjadi pendakian massal. Setelah itu, sampahnya juga jadi massal. Penutupan dilakukan terutama oleh gunung yang dikelola taman nasional," ujar Vita.

"Kami berharap gunung-gunung yang sudah dibuka betul-betul menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Penerapan itu harus dari dua sisi, dari pendaki dan pengelola. jadi bisa sama jalannya, ketemu sistemnya bareng. Kalau sekarang pengelola belum ketat dalam menerapkan protokol kesehatan," dia menegaskan.

"Ketika taman nasional atau pemda dan dinas pariwisata bikin peraturan maka pendaki akan mengikuti karena saat mereka mendaki kan harus melalui pintu masuk. Kalau misalnya pengelola cukup ketat, akhirnya lama-lama pendaki mau tidak mau menjadi sadar. Kalau pengelola sekadar memberi imbauan untuk pendakian gunung, ya susah," kata Vita.



Simak Video "Rahmat Effendi Izinkan Warga Bekasi Lomba 17-an, Tapi..."
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA