Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 12 Agu 2020 21:09 WIB

TRAVEL NEWS

Cara Google Menjaga Keajaiban Dunia Tetap 'Abadi'

Syanti Mustika
detikTravel
Google Arts & Culture
The Nine Dome Mosque di Bangladesh (Foto: Google Arts & Culture)
Jakarta -

Untuk menghindari kehancuran bangunan bersejarah dan terkenal, Google Arts & Culture meluncurkan koleksi online baru bernama Heritage on the Edge.

Hal ini didasari pada perubahan iklim tidak hanya berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia saja. Namun juga berdampak pada lingkungan, benda-benda dan bangunan, sebut saja bangunan sejarah yang terdaftar dalam keajaiban dunia.

Bangunan-bangunan masa lampau ini terancam keberadaannya karena adanya peningkatan curah hujan, naiknya permukaan laut, pengasaman laut dan banyak lagi. Hal ini menyebabkan bangunan yang telah berdiri berabad-abad berangsur keropos dan berujung pada keruntuhan.

Program yang digagas Google ini bermitra dengan CyArk, sebuah organisasi nirlaba yang bekerja untuk membuat arsip digital 3D dari keajaiban yang terancam punah di dunia. Serta juga bekerja sama dengan Dewan Internasional tentang Monumen dan Situs (ICOMOS), sebuah organisasi non-pemerintah global yang berdedikasi untuk melestarikan situs-situs yang penting secara arsitektural dan arkeologi.

Google Arts & CulturePulau Paskah Foto: Google Arts & Culture

Dengan bantuan ahli, CyArk melakukan ragam ekspedisi pengumpulan data untuk mendokumentasikan setiap situs. Mulai menggunakan fotogrametri, pemindaian 3D, pengambilan video drone, dan wawancara untuk menilai lokasi dan menawarkan dukungan konservasi.

Sejauh ini, tim telah menyelesaikan kerja lapangan di lima landmark yaitu Rapa Nui, Edinburgh, Chan Chan, Kilwa Kisiwani di Pesisir Swahili Tanzania, dan Mosque City of Bagerhat di Bangladesh. Tim ini juga telah membuat lebih dari 50 pameran online, enam 360 derajat street view tours, 25 model 3D, dan dua model realiti Pocket Gallery, salah satu Nine Dome Mosque di Bangladesh dan yang lainnya dari Benteng Gereza di Tanzania.

Google Arts & CultureChan chan (Google Arts & Culture) Foto: Google Arts & Culture

Nantinya data yang dikumpulkan Google ini bisa diakses oleh ahli pemulih, peneliti, pendidik, dan ahli pengawet, dan perusahaan teknologi untuk memberikan pelatihan lokal bagi pengelola warisan. Tentu saja hal ini diharapkan dapat membantu pekerjaan mereka. "Heritage on the Edge mengumpulkan cerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang harapan dan ketahanan. Mereka mengingatkan kami bahwa semua warisan budaya termasuk Situs Warisan Dunia yang ikonik ini, lebih dari sekadar tujuan wisata. Mereka adalah tempat yang sangat penting secara nasional, spiritual, dan budaya," ungkap Presiden ICOMOS, Toshiyuki Kono seperti yang ditulis Lonely Planet.



Simak Video "Batal Dibatasi 1 Jam, Video Call Google Meet Masih Gratis 24 Jam"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA