Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Sep 2020 18:08 WIB

TRAVEL NEWS

Surat Cerai, Bukti Cinta Sukarno pada Inggit Garnasih

Yudha Maulana
detikTravel
detikTravel pernah mengunjungi rumah bersejarah Inggit Garnasih yang ada di Jalan Ibu Ingggit Ganarsih No 8, Kecamatan Astanaanyar, Minggu 2 Februari 2020 lalu bertepatan dengan acara Bulan Cinta Ibu Bangsa Inggit Garnasih ke-6.
Rumah Inggit Garnasih. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Bandung -

Dokumen berupa surat perceraian antara Sukarno dan Inggit Garnasih akan diserahkan kepada negara oleh para ahli warisnya. Di dalam dokumen bertanggal 29 Januari 1934 itu, berisi poin perjanjian Sukarno kepada Inggit.

Sukarno berjanji memberikan Inggit rumah, uang sebesar ƒ6280 yang dicicil 10 tahun serta uang bulanan seumur hidup sebesar ƒ75 per bulannya. Dokumen tersebut ditandatangani oleh M Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansyoer.

Sejarawan Universitas Padjajaran (Unpad) Nina Lubis dalam bukunya Kajian Tentang Perjuangan Inggit Garnasih: 1888 - 1984 menulis, bahwa harta benda tersebut merupakan bekal perpisahan.

Ketika itu, Inggit memutuskan untuk tinggal bersama anak angkatnya Kartika di Jalan Lengkong Tengah setelah bercerai dengan Sukarno. Untuk menyambung hidup, Inggit menjual bedak dingin, lulur hingga jamu.

Inggit sempat hijrah ke Garut kala Agresi Militer 1947 meletus dan kembali ke Bandung pada 1949, ia mendapati rumahnya telah diisi oleh orang lain.

Nina Lubis saat ditemui di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (28/9/2020) mengatakan, Sukarno menepati janjinya dengan memberikan rumah yang berada di Ciateul Bandung atau yang kini dikenal sebagai Rumah Sejarah Inggit Garnasih.

"Sebelum Sukarno dibuang ke Flores. Lalu pada tahun 50-an Asmara Hadi dan Bu Ratna Djuami (menantu dan anak angkat Inggit Garnasih) menanyakan ke Bung Karno bagaimana janji yang ditulis tahun '43 itu," ujar Nina.

Sukarno pun, lantas menyuruh asisten pribadinya Winoto Danu Asmoro untuk mencarikan rumah bagi Inggit. Sampai akhirnya, asisten tersebut menunjukkan kembali rumah tersebut.

"Bung Karno lalu menyuruh orangnya mencarikan rumah untuk ibu Inggit, maka ketemu rumah itu yang kini dijadikan museum, itu sudah dipenuhi. Makanya saya katakan bahwa perceraian ini bermartabat, menjaga martabat ibu Inggit," katanya.

Terkait janji Sukarno untuk memberikan sejumlah uang, Nina merasa kelapangan hati dari Inggit yang membuatnya tak pernah membuka hal tersebut.

"Bahwa janji tiap bulan menerima ƒ75 saya kira Bu Inggit tidak perlu berkoar-koar diterima atau tidak, tapi dengan pemberian rumah itu menunjukkan kasih sayang Bung Karno dan juga janji seorang gentleman, masa sudah diteken oleh tiga orang besar tidak dipenuhi," katanya.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA