Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Sep 2020 22:02 WIB

TRAVEL NEWS

Menelusuri Sejarah Kota Kudus dari Zaman ke Zaman

Dian Utoro Aji
detikTravel
Menara dan Masjid Sunan Kudus
Menara Kudus. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Kabupaten Kudus menjadi salah satu wilayah di Pantura Timur. Kudus dikenal sebagai Kota Kretek. Tidak hanya itu, di Kota Kretek juga dikenal dengan Sunan Kudus. Lalu bagaimana sejarah Kota Kudus?

Hal ini terungkap dalam acara belajar di Museum yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus di Museum Kretek, Senin (28/9/2020). Turut menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Ketua MGMP Sejarah SMA, Jupriyanto, Peneliti dan Pengembangan MGMP Sejarah Indri Siswanti, dan Lilik Ngesti Widiasuryani Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus.

Jupriyanto yang juga Ketua MGMP Sejarah SMA Kudus mengatakan Kudus memiliki sejarah tersendiri. Kudus dulu lebih dikenal dengan nama Al-Quds. Sebutan ini pada masa Islam pada zamannya Sunan Kudus.

"Zaman dulu Kudus ini lebih dikenal dengan sebutan Al-Quds yang akhirnya menjadi Kudus. Sebutan ini pada masa Islam. Berarti peran penting dari Sunan Kudus. Jadi Sunan Kudus itu merupakan keturunan dari Timur Tengah, Palestina. Bapaknya (Sunan Kudus) pejabat di Kerajaan Demak, bapaknya meninggal kemudian Sunan Kudus ditarik menjadi pejabat menjadi panglima perang di Kerajaan Demak dan berhasil membunuh Syah Siti Jenar," terang Jupriyanto yang juga guru di SMAN 2 Kudus saat menyampaikan materi di Museum Kretek, Senin (28/9/2020).

Kegiatan belajar di museum yang diselenggarakan di Museum Kretek Kudus, Senin (28/9/2020)Kegiatan belajar di museum yang diselenggarakan di Museum Kretek Kudus, Senin (28/9/2020). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Jupriyanto mengatakan, jadi nama Kudus itu merupakan pada zaman Islam. Kemudian dari letak geografis, Kudus dulunya merupakan wilayah selat. Selat tersebut membelah dari Juwana Kabupaten Pati sampai dengan Welahan Kabupaten Jepara.

Tidak hanya itu, Kudus juga dikenal merupakan jalur perdagangan. Banyak di wilayah Kudus jalur perdagangan dari Juwana hingga ke Semarang.

"Jadi nama Kudus jelas itu pada masa Islam. Kemudian sejarahnya Kudus suatu wilayah, zaman kuno itu masih Hindu-Buddha satu abad menjelang masuk Islam masih ada namanya selat. Karena juga di Kudus merupakan jalur perdagangan. Di sana ada air ada Selat Muria, dari Juwana sampai dengan Welahan,"kata Jupriyanto.

"Sehingga mau ke Semarang ke Demak harus naik kapal. Dan Kerajaan Mataram menyebut daerah Muria itu manca, karena luar di kepulauannya. Maka kita bisa lihat peninggalan, jauh sebelum proses ini ada, zaman Hindu-Buddha di Kudus sudah ada kehidupan. Padahal itu laut," sambung Jupriyanto.

Jupriyanto menjelaskan bahwa pada masa kuno lebih jauh, tepatnya masa praaksara di Kudus pun sudah ada kehidupan. Ini terbukti dengan ditemukan fosil hewan raksasa. Dan saat ini peninggalan fosil tersebut tersimpan dalam Museum Patiayam yang terletak di Desa Terban Kecamatan Jekulo, Kudus.

"Di Bulung (Kecamatan Jekulo, Kudus) itu ditemukan ikan besar sudah menjadi fosil. Karena dulu sudah menjadi kehidupan. Itu bisa dikunjungi di Museum Patiayam. Kehidupan di sana disebutkan dengan masa purbakala. Maka di sana ditemukan kehidupan purba. Fosil zaman semasa balung buto," kata dia.

Berikutnya kehidupan pada masa Hindu - Buddha. Pada zaman itu, kata dia sudah berkembang di Kudus. ini juga ditemukan banyak peninggalan seperti candi, lingga dan yoni. Selain itu juga ada peninggalan akulturasi budaya Hindu-Buddha dengan Islam di Kudus. Ini ditunjukkan dengan peninggalan masjid bubrah dan juga peninggalan Menara Kudus.

"Kemudian berkembang lagi akhirnya terjadi masa, masuknya Hindu-Buddha. Di Kudus bisa dilihat ada masa Hindu - Buddha masuk di Kudus. Bukti peninggalan, di Bacin ada candi, lingga yoni ada. Banyak ditemukan di Kudus. Ini membuktikan Hindu dan Buddha," ungkap Jupriyanto yang juga Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Jawa Tengah.

Menara dan Masjid Sunan KudusMenara dan Masjid Sunan Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Selanjutnya, masa Islam di Kudus juga sudah berkembang kehidupan. Ini dibuktikan dengan peran Sunan Kudus dan juga Sunan Muria. Peninggalan yang ada seperti Menara Kudus.

"Zaman berikutnya juga masa Kolonial, bukti peninggalannya adalah, pabrik gula Rendeng pada saat itu gula menjadi favorit ekspor dan bekerja orang - orang Belanda. Dan kemudian didirikan SMPN 2 Kudus, yang berdiri sampai saat ini.

"Masa kolonial Kudus sudah menjadi kabupaten, bersamaan dengan Raffles pada tahun 1811 menjadikan wilayah dibagi menjadi karesidenan - karesidenan. Kudus menjadi sebagai kadipaten dengan Bupati pertamanya, Adipati Kanjeng Tumenggung Patmonegara. Itu yang pertama,"ujar dia.

Terpisah, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus Lilik Ngesti Widiasuryani mengajak seluruh elemen masyarakat di Kudus untuk ambil bagian guna melestarikan cagar budaya di Kudus. Apalagi kata dia saat ini benda cagar budaya di Kudus mulai punah dan terkikis.

"Ini adalah kegiatan rutin kita lakukan. Kegiatan ini merupakan kegiatan edukatif semua masyarakat agar mengenal mengunjung dan ikuti melestarikan budaya Kudus. Sepertinya akhir -akhir ini agak penting, karena banyak budaya yang punah dan mengikis. Kami lewat dinas untuk menggerakkan seluruh elemen masyarakat ambil bagian agar kenali, kunjungi dan lestarikan cagar budaya di Kabupaten Kudus," ajak Lilik saat ditemui di Museum Kretek Kudus tadi siang.



Simak Video "Tega! Bayi Baru Lahir Ditinggal di Pinggir Jalanan Kudus"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA