Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 13 Okt 2020 20:39 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Shinkansen dari Berdiri Sampai Sekarang Sepi Penumpang

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Shinkansen dan Kereta Cepat
Foto: Shinkansen melintasi Gunung Fuji (CNN)
Tokyo -

Gara-gara pandemi COVID-19, Shinkansen sekarang sepi penumpang. Mari simak sejarah dari awal Shinkansen berdiri sampai bisa mengubah tatanan dunia perkeretaan.

1 Oktober 1964, kereta berwarna biru dan putih dengan bentuk ramping meluncur melintasi Kota Tokyo. Di jalur itu, kereta melesat dengan cepatnya ke selatan menuju ke Osaka.

Itu adalah awal dari era kereta peluru Jepang atau sekarang kita kenal sebagai Shinkansen. Shinkansen muncul bersamaan dengan Olimpiade Tokyo 1964. Shinkansen pun dianggap sebagai simbol pulihnya Jepang dari Perang Dunia II.

Kereta super cepat yang merupakan keajaiban teknologi Jepang di era tahun 1960-an ini pun menandai kembalinya Negeri Sakura ke papan atas dunia internasional. Shinkansen diakui dunia dengan kecepatannya, serta efisien dalam hal waktu tempuh.

Shinkansen membuat perjalanan antar kota sejauh ratusan kilometer bisa ditempuh dalam waktu singkat. Menggunakan Shinkansen, perjalanan dari Tokyo menuju ke Osaka bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 10 menit, dari semula selama 6 jam 40 menit menggunakan kereta cepat biasa.

Dengan kecepatan mencapai 322 Kilometer per jam, Shinkansen pun memangkas jarak antara Tokyo dengan kota-kota penting lain di Jepang seperti Kobe, Kyoto, Hiroshima hingga Nagano dengan lebih singkat.

Jalur pertamanya yakni Tokaido Shinkansen sejauh 514 kilometer yang menghubungkan Tokyo-Osaka selesai dibangun di tahun 1964. Sejak saat itu, Shinkansen mulai menambah terus jaringannya.

Desain Shinkansen


Topografi Jepang yang sering dilanda gempa seismik dan iklimnya yang variatif menjadi tantangan tersendiri dalam membangun Shinkansen. Insinyur kereta api Jepang seperti ditantang untuk menemukan solusi dari masalah baru saat mereka menciptakan Shinkansen.

Mereka pun menciptakan desain kereta dengan moncong hidung yang sangat panjang. Fitur tersebut dirancang bukan untuk meningkatkan aerodinamika kereta, tapi untuk menghilangkan ledakan suara sonik saat kereta Shinkansen mencapai kecepatan mendekati kecepatan suara.

ShinkansenShinkansen Jepang Foto: CNN

Ledakan tersebut disebabkan oleh 'efek piston', yakni saat kereta memasuki terowongan dan memaksa gelombang kompresi keluar dari ujung lainnya di kecepatan supersonik. Ini memang jadi masalah tersendiri bagi daerah perkotaan yang padat penduduk, di mana kebisingan dShinkansen telah lama dikeluhkan.

Kini, generasi terbaru Shinkansen yang dikenal sebagai ALFA-X, tengah diuji pada kecepatan hampir 400 kilometer per jam. Tapi nantinya kereta Shinkansen ini hanya akan dioperasikan pada kecepatan maksimal 362 kilometer per jam.

Meski melaju dengan sangat cepat, nyatanya tidak ada satu pun penumpang Shinkansen yang terbunuh atau terluka selama kereta tersebut beroperasi, sepanjang 55 tahun sejarahnya.

Melayani 10 Miliar Penumpang


Kini, Shinkansen telah melayani lebih dari 10 miliar penumpang. Pada sepanjang tahun 2016-2017 saja, jalur kereta Tokaido Shinkansen telah mengangkut 159 juta orang penumpang.

Tapi itu dulu. Sekarang, baik East Japan Railway maupun West Japan Railway mengalami penurunan jumlah penumpang yang sangat signifikan akibat pandemi COVID-19.

Di bulan Agustus, penumpang East Japan Railway anjlok sampai 74% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Nilai kerugian yang diderita East Japan Railway pun ditaksir mencapai 418 Miliar Yen.

Sedangkan nilai kerugian yang diderita West Japan Railway mencapai 198,4 Miliar Yen. Kerugian tersebut termasuk yang terbesar sejak jaringan kereta api di Jepang diprivatisasi pada tahun 1987.

(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA