Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 21 Okt 2020 14:05 WIB

TRAVEL NEWS

Lumba-lumba Pink Muncul Lagi, Sempat Hilang karena Polusi Kapal

Putu Intan
detikTravel
lumba-lumba pink hong kong
Lumba-lumba pink. Foto: (Foto: Dok. BBC Travel)
Hong Kong -

Kemunculan lumba-lumba pink di perairan Hong Kong terjadi karena berkurangnya polusi kapal. Meskipun begitu, populasi mamalia ini tak sepenuhnya aman.

Delta Sungai Mutiara yang menjadi habitat lumba-lumba pink juga merupakan salah satu perairan industrialisasi terbesar di dunia. Perairan ini melingkupi wilayah Hong Kong, Makau, dan kota besar China yakni Shenzhen, Guangzhou, dan Dongguan. Di sekitar perairan itu hidup 22 juta penduduk.

Selain itu, saat ini di perairan ini juga dibangun bandara Hong Kong dan jembatan laut yang menghubungkan Makau dengan Zhuhai. Di samping itu, proyek reklamasi besar untuk dijadikan landasan pacu pesawat juga dilakukan di sana.

Dapat dibayangkan betapa sibuknya kegiatan di sana yang akhirnya memaksa lumba-lumba pink meninggalkan habitat aslinya. Hal itu dikhawatirkan akan membuat lumba-lumba pink punah.

"Lumba-lumba terutama lumba-lumba muara memiliki tingkat kelahiran yang lambat, tingkat pertumbuhan yang lambat, tingkat reproduksi yang lambat," kata Kepala Konservasi Laut WWF Hong Kong, Laurence McCook dikutip dari AFP.

"Jadi mereka membutuhkan manajemen yang sangat hati-hati,"ujarnya.

Namun berkurangnya aktivitas kapal feri karena pandemi Corona menjadi situasi yang membahagiakan bagi lumba-lumba pink. Momen ini menjadi kesempatan mereka untuk beristirahat singkat.

Selama ini suara bising dari kapal mengganggu mamalia yang mengandalkan suara untuk navigasi dan komunikasi itu. Kapal-kapal itu menimbulkan ancaman fisik bagi lumba-lumba pink. Mereka dapat terluka bahkan mati karenanya.

Lumba-lumba pink pun menepi ke arah perairan sekitar Pulau Lantau. Wilayah tersebut menjadi lokasi yang tepat bagi mereka untuk berlindung dari topan dan predator.

Sayangnya, lokasi itu juga menjadi lokasi kapal feri lalu lalang dari Makau menuju pusat perekonomian. Para konservasionis pun berkampanye untuk memperluas taman laut yang ada untuk melindungi spesies itu dengan lebih baik.

"Kami sekarang telah mengidentifikasi habitat yang kemudian dapat direklamasi dan benar-benar dapat digunakan untuk mendukung populasi mereka," kata seorang konservasionis, Brennan.

"Fakta bahwa kami telah melihat perubahan yang begitu dramatis, meskipun masih awal, adalah perubahan yang sangat positif,"katanya.

Sementara itu McCook dari WWF memperingatkan ancaman belum usai dan status lumba-lumba pink ini nyaris punah.

"Mereka adalah ikon daerah tersebut. Mereka adalah bagian dari warisan Kanton. Mereka sudah ada di sini selama ribuan tahun,"ujar dia.

"Ini akan menjadi tragedi global kehilangan mahkluk ikonik dari Area Teluk Besar,"pungkasnya.

(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA