Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Nov 2020 19:36 WIB

TRAVEL NEWS

Keanekaragaman Hayati Papua Terkaya di Dunia

Tim detikcom
detikTravel
The most famous Cenderawasih bird is a member of the Paradisaea genus, including its type species, the large yellow-Cenderawasih, Paradisaea apoda. This type is described from specimens brought to Europe from trade expeditions. This specimen was prepared by native traders by removing their wings and legs so that they could be used as decorations. This is unknown to explorers and has led to the belief that this bird never landed but remained in the air because of its feathers. This is the origin of the name bird of paradise (bird of paradise by the British) and the name of the type of apoda - which means legless.
Burung cendrawasih satwa endemik di Papua (Foto: Getty Images/iStockphoto/Yamtono_Sardi)

Selain itu, burung-burung di Papua juga beragam. Tak cuma cendrawasih, ada 843 spesies burung lainnya yang tinggal di pulau tersebut.

Untuk mamalia, LIPI pada 2019 mencatat terdapat 249 spesies di Papua. Di sana juga hidup satwa paling langka di dunia antara lain dingiso dan kus-kus.

Dengan pencapaian tersebut, Pulau Papua menyumbang lebih dari 60 persen keanekaragaman hayati di Indonesia. Papua juga menjadi satu-satunya kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki spesies endemik lebih banyak daripada non-endemik.

Sayangnya, flora dan fauna di Papua terancam eksistensinya karena kerusakan hutan Papua yang ternyata sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sebabnya adalah bisnis perkebunan sawit yang memang naik daun di Indonesia.

Menurut catatan University of Maryland dan World Resources Institute, dalam kurun waktu 2002 hingga 2019, sudah ada 11.500 kilometer persegi hutan Papua yang hilang.

Sedangkan berdasarkan penelitian Forensic Architecture dan Greenpeace Indonesia, salah satu perusahaan perkebunan sawit di Papua yakni Korindo Group telah membuka lebih dari 57.000 hektar lahan. Ini luasnya nyaris setara dengan ibu kota Korea Selatan, Seoul.

Masyarakat adat masih mengeluhkan kebakaran yang terjadi pada hutan yang sudah mereka tinggali secara turun temurun. Padahal, pada 2018, Gubernur Papua dan Papua Barat telah menandatangani Deklarasi Manokwari.

Deklarasi itu merupakan komitmen kedua daerah untuk melindungi 70 persen wilayah asli di separuh Papua di bagian Indonesia. Di samping itu, sejak 2015, Provinsi Papua Barat juga sudah mendeklarasikan diri sebagai provinsi konservasi.

Selanjutnya Korindo Tepis Bakar Hutan Papua

Selanjutnya
Halaman
1 2 3
BERITA TERKAIT
BACA JUGA