Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 31 Jan 2021 05:02 WIB

TRAVEL NEWS

Cegah Perantau Mudik Saat Imlek, China Iming-imingi Angpau

Bonauli
detikTravel
Asian Chinese Woman Wearing Cheongsam Traditional Red Dress Siting on Chair Fashion Posting Chinese New Year
Ilustrasii Imlek (Dok. iStock)
Beijing -

Imlek di China tahun ini bakal berbeda dari yang sudah-sudah. China membatasi arus mudik untuk mencegah penularan virus Corona, bahkan bagi-bagi angpau untuk yang tidak pulang kampung.

Dilansir dari BBC, merujuk tahun-tahun sebelumnya, jutaan orang di China diprediksi mudik pada Imlek yang jatuh pada tanggal 12 Februari. Dengan Imlek yang jatuh pada 12 Februari, warga akan mudik mulai dari 28 Januari dan merayakan Imlek sampai 8 Maret. Setidaknya, bakal ada 1,7 miliar orang pulang kampung kali ini.

Tahun lalu tercatat ada tiga miliar perjalanan yang terjadi saat Imlek. Ya, tahun baru Imlek memang memiliki tradisi seperti saat lebaran di Indonesia, warga perantauan mudik ke kampung halaman.

Masalahnya, tahun lalu Imlek menjadi salah satu pemicu pandemi virus di China. Sementara tahun ini, wabah COVID-19 belum benar-benar usai kendati di sejumlah kota di Negeri Panda itu kehidupan telah kembali normal.

Pemerintah China pun mengambil langkah preventif untuk mencegah situasi serupa. Warga diyakinkan untuk tidak mudik kali ini. Apalagi, malah muncul klaster baru di kota tujuan mudik.

Contohnya di Kota Tongha di Provinsi Jilin. Memiliki dua juta penduduk, kota ini mengonfirmasi ada 1 kasus positif yang terjadi di awal Januari.

Kota Tongha pun ditutup buat pemudik. Warga dari sana juga dilarang meninggalkan kota.

Komisi Kesehatan Nasional China juga mewajibkan setiap warga yang kembali ke pedesaan untuk menunjukkan hasil negatif tes COVID-19. Hasil itu harus dikeluarkan tujuh hari sebelum keberangkatan mereka.

Orang-orang dalam kategori ini juga harus menjalani "observasi di rumah" selama 14 hari. Selama masa pengawasan ini mereka tetap dapat meninggalkan rumah, tapi wajib memantau suhu tubuh setiap hari.

Namun selama masa itu, mereka tidak akan diizinkan mengikuti pertemuan yang dihadiri banyak orang. Setiap tujuh hari mereka juga harus menjalani tes COVID-19.

Kebijakan ini akhirnya viral apalagi di kalangan perantau sampai menjadi pro dan kontra. Ada yang menganggap kebijakan ini tidak praktis dan terlalu mahal namun tidak sedikit yang menganggap bahwa ini aturan yang lumrah.

"Malam Tahun Imlek adalah momentum reuni. Saya harus merayakannya dengan orang yang saya cintai," ujar Huang Jie, seorang mahasiswa yang merantau.

Kebijakan lain untuk mencegah mudik adalah dengan memberikan angpau kepada perantau. Salah satunya, pemerintah Hangzhou yang tidak ditutup atau tidak berada di area dengan risiko tinggi.

Pemerintah Kota Hangzhou memberikan 1.000 yuan (Rp 2,1 juta) kepada perantau yang tidak pulang kampung.

Dua perusahaan di Zhejiang, Ningbo dan Quanzhou, juga memberikan angpau ini untuk pekerja mereka yang memilih tidak pulang kampung.

Ya, banyak korporasi didorong menawarkan subsidi, makanan gratis, dan tur budaya singkat agar pekerja mereka tertarik untuk membatalkan mudik.

Ada juga sejumlah pemerintah kota yang memberikan hak spesial untuk pekerja yang tidak mudik selama liburan ini. Hak khusus seperti tempat tinggal dan layanan medis itu biasanya hanya diberikan kepada pekerja yang lahir di kota tersebut.

Pemerintah kota Yiwu menawarkan tiket masuk gratis ke tempat-tempat budaya. Ada juga tawaran bagi anak-anak pekerja berupa tiket masuk menginap gratis di perkemahan musim dingin.

Para pemilik usaha di kota itu juga diizinkan tetap beroperasi selama Imlek. Mereka juga didorong mengajukan permohonan subsidi ke pemerintah kota.

Masyarakat sejumlah kota akan dibebaskan dari biaya pendaftaran layanan rawat jalan di rumah sakit dan mendapatkan diskon 50 persen untuk pemeriksaan kesehatan.

Dan jika semua tawaran itu tidak cukup untuk membujuk warga Yiwu untuk tetap tinggal, berbagai spanduk bertuliskan macam-macam juga telah dipasang. Spanduk di Beijing, misalnya, berbunyi "Jangan tinggalkan kota kecuali itu diperlukan. Jangan pergi ke luar negeri kecuali itu mendesak."

Selain itu, China akan memberikan vaksin COVID-19 kepada 50 juta atau 3,5 dari total populasi yang ada kendati sudah sangat mepet dengan Imlek.

Apakah hasilnya akan maksimal? mungkin saja atau justru belum tentu. Karena tradisi Chunyun adalah momen yang paling dinanti oleh masyarakat China selama satu tahun.



Simak Video "Sambut Tahun Baru Imlek, Warga Solo Berpakaian Adat"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA