Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 21 Apr 2021 04:35 WIB

TRAVEL NEWS

Sandiaga: Jangan Sampai Bayar Mahal buat MotoGP tapi Nggak Ada yang Nonton

Kawasa Mandalika dari udara.
Kawasan Mandalika dilihat dari Udara Foto: (Wisnu/20detik)
Jakarta -

Perhelatan MotoGP di Mandalika dipastikan diundur ke bulan Maret 2022. Namun sirkuit yang tengah dibangun itu masih bisa berkesempatan menggelar tes pramusim 2022. Pemerintah pun mengambil hikmah dari mundurnya perhelatan MotoGP.

Keputusan untuk tidak menggelar MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika pada tahun 2021 ini diambil setelah perwakilan Dorna Sports dan FIM melakukan kunjungan ke Indonesia pada awal April ini. Dorna dan FIM ketika itu mengaku puas dengan perkembangan pembangunan sirkuit.

Pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebenarnya optimistis Sirkuit Mandalika bakal siap menggelar balapan MotoGP Indonesia tahun ini. Tapi Dorna dan FIM berkata lain.

"Target untuk Sirkuit Internasional Jalan Raya Mandalika masih untuk menggelar MOTUL FIM Superbike World Championship pada 14 November 2021. Namun, karena pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, seluruh pihak yang terlibat sepakat untuk menahan gelaran MotoGP pertama di sirkuit ini di paruh pertama musim 2022, secara prinsip di bulan Maret," demikian dikutip dari situs resmi MotoGP.

"Ini akan positif untuk satu, satu kita akan lebih siap, kedua lebih siap untuk promosi, karena presiden arahannya harus offline, jangan sampai kita bayar mahal bikin perhelatan besar gitu tapi nggak ada yang nonton, jadi harapan kita dengan Maret tahun depan lebih tervaksinasi, distribusi lebih baik, penanganan COVID-19 sudah terkendali, jadi blessing in disguise ada hikmahnya," ujar Menparekraf Sandiaga Uno kepada detikcom ditemui di kantornya, Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

Pengunjung MotoGP diarahkan ke Desa Wisata

Perhelatan MotoGP yang diundur malah akan membuat pemerintah bisa mempersiapkan ekosistem yang lebih lengkap untuk menjamu para penonton MotoGP. Pemerintah sendiri mengarahkan penggila kecepatan untuk juga bisa menikmati tinggal di desa-desa wisata di Lombok, jadi tak hanya tinggal di hotel berbintang.

Kain tenun Desa Sukarara LombokKain tenun Desa Sukarara Lombok Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

"Mungkin kalangan menengah ke atas bisa tinggal di hotel, tapi dari ratusan ribu penonton itu sebagian nanti bisa datang ke Desa Wisata seperti Desa Sukarara, Desa Sade Rambitan, Desa Bilebante atau Desa Gerupuk. Kita ngarahinnya lebih ke nature dan culture. Yang menengah ke atas pasti ke hotel, tapi kita juga menyiapkan alternatifnya," kata Sandiaga.

"Yang suka kebugaran bisa ke Bilebante, karena ada yoganya, spa, lulur ada perawatan manikur dan pedikur. Yang suka tenun ke Sukarara, yang suka kebudayaan bisa ke Sade. Kalau Desa Gerupuk itu homestay-nya pas banget di salah satu lintasan MotoGP dan nggak jauh dari pantai," ujarnya.

Pariwisata Mandalika dan sekitarnya, lanjut Sandiaga, tidak hanya memiliki pantai sebagai andalannya. Di sana juga ada gunungnya.

"Jadi menarik untuk sport tourism, juga dapat Gunung Rinjani juga kan untuk trekking," dia menambahkan.



Simak Video "20detik+ bersama Herbalice: Moto GP Indonesia Belum Siap dan Ricky Yakobi Wafat"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA