Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 24 Apr 2021 05:41 WIB

TRAVEL NEWS

Ratusan Tahun di Atas Air, Orang Laut Thailand Dipaksa Mendarat

Orang laut atau Suku Moken Thailand
Hook Klathalay, orang laut atau Suku Moken Thailand (Foto: Austin Bush/CNN)

Efek pandemi ke Suku Moken Thailand

Kebakaran tahun 2019 yang memusnahkan separuh desa merupakan pukulan dahsyat lainnya bagi masyarakat. Tetapi efek pandemi lebih dari itu.

Pintu Thailand tertutup rapat untuk pariwisata internasional. Suku Moken pun kehilangan pendapatan utamanya dan terbukti menjadi tantangan yang terbesar.

Tetapi jika ada satu kelompok yang memiliki keterampilan untuk bertahan di masa-masa sulit, tidak diragukan lagi itu adalah Moken.

"Saya tidak punya rumah. Saya sudah tinggal di kapal ini selama dua tahun sekarang," kata Hook Klathalay, saudara laki-laki Ngoey.

Hook memperkirakan bahwa dialah satu-satunya orang Moken Thailand yang tinggal di kapal penuh waktu.

Pada usia 35, Hook adalah salah satu generasi terakhir Moken yang dibesarkan di laut. Ketika dia berumur lima tahun, orang tuanya pindah ke darat agar dia bisa mengenyam pendidikan.

Namun sebagai orang dewasa, Hook merasakan tarikan untuk kembali ke kehidupan tradisional Suku Moken. Bagi dia, langkah pertama dalam proses ini berarti membuat perahu.

Larangan pemerintah Thailand buat Suku Moken

Secara tradisional, perahu Moken dibuat dengan melubangi kayu besar. Tapi peraturan taman nasional mencegah Suku Moken menebang pohon.

Bersama pembuat film dokumenter 'No Word for Worry' mereka membuat kapal khas Thailanda dan Moken. Dibuat menggunakan papan dan dilengkapi atap serta tiang berlayar daun pandan, di mana perahu ini jadi inspirasi pada tahun berikutnya.

Pandemi membuat Hook menilai kembali cara hidup mereka. Mereka ingin hidup bebas.

Perburuan dilarang keras di taman nasional Thailand. Tapi pejabat mengizinkan Suku Moken untuk memancing, berburu menggunakan metode tradisional.

Selain itu, kebijakan di atas juga hanya untuk konsumsi mereka sendiri. Peraturan itu terbukti menjadi jalur kehidupan bagi Moken selama pandemi.

"Sebelum pandemi, orang Moken mendapatkan uang dengan membantu di kapal atau melakukan pekerjaan sambilan di taman nasional, tetapi pekerjaan ini sekarang hilang. Kita bukan warga negara Thailand, jadi tidak mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah," jelas Hoook.

Laut bukanlah satu-satunya sumber makanan bagi orang Moken. Di hari lain, mereka juga ke pulau berhutan menggali tanah berpasir untuk mencari umbi yang bisa dimakan.

Sebelum nasi menjadi hal yang biasa bagi Suku Moken, talas dan ubi merupakan sumber utama karbohidrat. Bahan inilah yang mereka makan dan dilengkapi dengan tangkapan dari laut.

"Untuk waktu yang lama, kami tidak akan bergantung pada pariwisata, meski telah memilikinya selama beberapa tahun. Tapi kami akan selalu memiliki laut," jelas Hook.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(msl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA