Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 18 Jul 2021 13:15 WIB

TRAVEL NEWS

Wow! Ribuan Teripang di Pantai Sambas Fenomena Langka!

bonauli
detikTravel
Pantai Venesia Sambas, Kalimantan Barat
Pantai Venesia Sambas (Delianis/Istimewa)
Sambas -

Munculnya teripang secara mendadak di Pantai Venesia Sambas bikin penasaran. Sudah viral, ternyata fenomena ini langka!

Pantai Venesia terletak di Dusun Pinang Merah, Desa Simpang Empat, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dilihat dari media sosial, ribuan teripang memenuhi bibir Pantai Venesia.

"Fenomena tersebut menjadi viral dikarenakan termasuk kejadian langka," ujar Widodo Setiyo Pranowo, peneliti dari Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kalimantan Barat sendiri memang sedang diterpa cuaca ekstrem. Badai dan angin dikabarkan membuat laut jadi seram pada Rabu (14/7) lalu.

"Saya kemudian lakukan observasi terhadap data-data angin, awan, curah hujan, badai (storm), dan tinggi gelombang laut signifikan dari satelit dan model yang kemungkinan merekam kejadian ekstrim interaksi dari laut-atmosfer. Kemudian saya juga lakukan peramalan atau prediksi elevasi muka laut akibat pasang surut" ungkapnya.

Berdasarkan data prediksi elevasi muka laut akibat pasang surut yang dibangkitkan oleh gaya gravitasi bulan dan matahari, akan didapatkan informasi tentang tipe pasang surut di Perairan Pesisir Sambas.

Secara geografis Perairan Pesisir Sambas terletak di wilayah transisi dari dua tipe pasang surut, yakni tipe Diurnal dan Campuran Semi Diurnal. Pasang surut akan disebut tipe Diurnal, ketika dalam 1 (satu) hari terdapat 1 (satu) kali elevasi muka laut pasang dan 1 (satu) kali elevasi muka laut surut.

Pemodelan oseanografi di Pantai Venesia Sambas, Kalimantan BaratPrediksi pasang surut Perairan Pesisir Sambas (Widodo Pranowo/Istimewa)

Sedangkan Pasang surut tipe Campuran cenderung Diurnal, terjadi jika kadang-kadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari. Namun kadang-kadang juga terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi elevasi muka laut saat pasang tidak sama ketinggiannya.

"Pada tanggal 14 Juli 2021, kondisi elevasi muka laut saat menuju pasang, yakni kondisi yang terjadi antara pukul 01:00 WIB hingga 06:00 WIB adalah menjadi dugaan pertama dari penyebab terbawanya teripang-teripang di dasar perairan dangkal Sambas menuju ke pantai. Dugaan ini didasarkan kepada bahwa umumnya ketika elevasi muka laut pada kondisi menuju pasang maka arusnya yang menuju ke pantai cukup kencang," jelasnya.

Elevasi muka laut di Perairan Sambas memiliki dua ketinggian yang berbeda dalam 1 (satu) harinya, yakni 0,4 meter dan 0,8 meter, dengan jarak waktu kedua puncak tersebut adalah sekitar 10 jam.

"Namun dugaan pertama tersebut sebenarnya masih kurang kuat, karena ketika melihat jumlah Teripang yang terdampar adalah sangat banyak. Sehingga pemikiran saya bahwa tentunya diperlukan suatu energi yang lebih besar lagi untuk mengangkat teripang-teripang dalam jumlah yang sangat banyak tersebut dengan cepat sehingga terdampar dengan sangat memanjang di sepanjang pantai Sambas," jelasnya.

Menurut Widodo, terjadi kopling energi antara kondisi elevasi muka laut saat menuju pasang ditambah dengan energi pengangkatan massa air oleh angin ekstrem. Untuk memperkuat dugaan tersebut dilakukan pengamatan terhadap beberapa dataset hasil pemodelan interaksi laut-iklim yang disediakan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA Amerika) dan Deutscher Wetterdients (Badan Cuaca dan Iklim Jerman).

"Saya juga mengamati dataset citra satelit kebumian (Satelit Himawari dan Meteosat) yang disediakan oleh Japan Meteorology Agency (Badan Meteorologi Jepang). Hasil pengamatan yang saya lakukan menunjukkan adanya fenomena interaksi laut-atmosfer yang sangat menarik terjadi pada 13-14 Juli 2021," ucapnya.

Pemodelan oseanografi di Pantai Venesia Sambas, Kalimantan BaratSatelit Himawari dan Meteosat menujukkan awan di Selat Karimata Foto: (Widodo Pranowo/Istimewa)

Satelit Himawari dan Meteosat mendeteksi adanya pertumbuhan awan sejak 13 Juli 2021 yang dimulai dari arah Laut Jawa. Awan kemudian bergerak menuju ke Barat melewati Selat karimata kemudian berbelok ke Timur menuju Ke Laut Natuna dan lanjut ke Laut China Selatan.

"Propagasi awan tersebut juga melewati sebagian besar daratan sisi barat dari Pulau Kalimantan. Arah pergerakan angin ini adalah sesuai dengan karakter angin Monsun Timur/Tenggara yang umumnya terjadi di Indonesia pada Juni hingga Agustus," katanya.

Angin yang bertiup di atas Selat Karimatan pada tanggal 14 Juli membawa awan pada pukul 01.00-06:00 WIB dengan kecepatan berkisar antara 40 hingga 60 kilometer per jam. Artinya angin tersebut hembusannya kuat mendekati kategori angin kencang (Skala 5-7 Beaufort).

Angin kuat tersebut diduga disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan udara baik secara horizontal dan vertikal. Angin kuat secara horizontal, diduga bisa membangkitkan tinggi gelombang signifikan di Perairan Sambas berkisar 1,5 hingga 1,9 meter.

Perbedaan tekanan udara vertikal akibat dari adanya suhu permukaan laut yang memanasi (konveksi) suhu udara di atas permukaan laut. Potensial energi yang ditimbulkan pukul 01.00-04.00 WIB diduga adalah antara 600 hingga 1000 Joule per kilogram massa udara. Sehingga membangkitkan petir walaupun dengan intensitas rendah yang menemani turunnya hujan (diduga 6-11 milimeter) sepanjang waktu tersebut.

"Sebagai kesimpulan sementara dari dugaan penyebab terdamparnya jutaan teripang di Pantai Sambas adalah adanya perpaduan atau kopling dari energi gradien muka laut saat menuju pasang dan energi gelombang akibat angin dengan intensitas kuat hingga kencang agak ekstrim," ungkapnya.

Teripang-teripang di dasar perairan dangkal kemudian terangkut dan terdampar di pantai. Kondisi agak ekstrim tersebut juga ditandai dengan adanya badai petir intensitas rendah dan hujan.

"hal tersebut juga terkonfirmasi dari dataset model, citra satelit, dan kesaksian warga lokal. Namun, kedepan penelitian yang lebih mendalam tetap diperlukan untuk menguji ulang kesimpulan sementara ini," tutupnya.



Simak Video "Menikmati Nasi Goreng Paru dan Empal Mercon yang Pedas Mantap"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA