Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Nov 2021 08:43 WIB

TRAVEL NEWS

Sedih, Zona Konservasi Bengkayang Ketumpahan Batubara

bonauli
detikTravel
Great Barrier Reef
Ilustrasi terumbu karang (iStock)
Jakarta -

Tak banyak yang tahu bahwa Perairan Bengkayang di Kalimantan Barat (Kalbar) adalah zona konservasi. Kabar sedihnya, zona ini ketumpahan batubara.

Semua berawal dari kapal Tongkang TP.APN 88/B6.APN 168 yang mengalami posisi kapal miring. Sebagian muatan batubaranya tumpah di Zona Konservasi Perairan Kabupaten Bengkayang, pada tanggal 9 hingga 11 November 2021. Waktu tersebut berada pada periode peralihan angin monsun timur ke monsun barat.

"Karakter unik interaksi laut dan atmosfer di Selat Karimata adalah adanya Arus Monsun Indonesia (Armondo). Armondo, di Selat Malaka, pada monsun Barat, yakni Desember hingga Februari umumnya bergerak menuju ke selatan," ujar Widodo S Pranowo, peneliti ahli utama Bidang Oseanografi Terapan pada Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel.

Sebaliknya, pada saat monsun timur, arus bergerak ke selatan. Adapun, pada monsun peralihan pola Armondo tidak teratur, kadang ke selatan dan terkadang ke utara. Monsun peralihan terjadi dua kali dalam setahun, yakni peralihan dari monsun barat ke monsun timur (Maret-Mei) dan sebaliknya yakni peralihan dari monsun timur ke monsun barat (September-November).

"Pada 9 November 2021 secara umum angin di atas Selat Karimata berasal dari atas wilayah Laut China Selatan dan Laut Natuna dengan kecepatan 40-50 km per jam yang kemudian belok ke selatan. Kecepatan angin mengalami penurunan menjadi sekitar 20-10 km per jam ketika berada di atas wilayah Selat Karimata," dia menjelaskan.

Pola angin dan energi potensial konvektif di atas Benua MaritimPola angin dan energi potensial konvektif di atas Benua Maritim Foto: (Widodo Pranowo/Istimewa)

Nah, pada 10 November 2021 terdapat pusaran angin dengan arah berlawanan arah jarum jam yang terjadi di antara semenanjung Malaka dan Kepulauan Natuna. Pusaran angin ini menarik angin yang berada di atas wilayah Selat Karimata juga turut berbalik arah menuju kembali ke utara. Fenomena tersebut masih berlanjut hingga 11 November 2021.

Tumpahnya batubara diyakini akan berdampak pada ekosistem di Perairan Bengkayang. Perairan Bengkayang yang merupakan bagian dari Selat Karimata memiliki peluang terjadinya fenomena pengadukan akibat arus dan gelombang pada November 2021.

"Pengadukan tersebut, dikhawatirkan akan menyebabkan kekeruhan. Apabila ada debu-debu batubara yang masuk ke laut, maka kekeruhan akan semakin tinggi dan berlangsung lebih lama," kata dia.

Widodo menjelaskan bahwa dampak dari kekeruhan di kolom air tersebut akan menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam kolom air. Sehingga proses fotosintesis yang biasanya dilakukan oleh fitoplankton akan terhambat atau tidak bisa terjadi.

Fitoplankton adalah komponen dasar utama dari jaring makanan (food web) di laut. Adanya tumpahan ini jelas mengganggu keseimbangan ekosistem organisme laut di Perairan Bengkayang dan sekitarnya.

"Secara teoritik, batubara mengandung Poli-Aromatik Hidrokarbon (PAH), logam berat dan kandungan asam yang sangat tinggi. Apabila bongkahan batubara tersebut berada di dasar laut yang terbuka seperti di perairan Bengkayang, kemungkinan besar kontaminasinya sulit dideteksi, dan ketika diukur kandungannya akan berada di bawah ambang batas pencemaran," dia menambahkan.

Itu dikarenakan kontaminan yang dihasilkan oleh bongkahan-bongkahan batubara tersebut akan terencerkan oleh volume massa air yang banyak. Kontaminan berupa batubara kemudian dengan mudah dihanyutkan oleh arus monsun Indonesia yang melewati Selat Karimata menuju ke Laut Jawa.

"Walaupun nilai kontaminasinya mungkin masih di bawah ambang batas, secara fakta fisik, suatu pencemaran telah terjadi di perairan Bengkayang dan sekitarnya," katanya.

Tumpahan ini jelas memiliki dampak jangka panjang yang mengkhawatirkan. Takutnya senyawa logam berat dari batubara akan diserap oleh organisme laut di Selat Karimata hingga Laut Jawa.

Terutama biota kerang-kerangan yang hidup di dasar perairan Bengkayang. Mungkin mereka tidak mati, namun logam berat tersebut bisa terakumulasi di dalam daging kerang-kerangan dan hewan lunak lainnya. Ini akan sangat berbahaya apabila dikonsumsi oleh manusia.

Selain itu kandungan asam kuat dari batubara dikhawatirkan akan mengurangi kandungan oksigen terlarut di kolom air Perairan Bengkayang. Daya asamnya yang kuat dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan akan menghalangi pembentukan terumbu pada karang dan cangkang-cangkang kalsium dari hewan laut yang semestinya bercangkang.

"Bahaya itu bisa mematikan keanekaragaman hayatinya," kata dia.



Simak Video "Keseruan di Jalan Gajah Mada Pontianak"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA