Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Nov 2021 15:25 WIB

TRAVEL NEWS

Insiden Pemeriksaan di Bandara Doha, 7 Wanita Australia Gugat Qatar

Bandara Internasional Hamad Doha
Bandara Doha, Qatar (Foto: iStock)
Sydney -

Tujuh wanita Australia akan menuntut pemerintah Qatar dalam kasus pemeriksaan paksa yang invasif di Bandara Doha. Mereka ditelanjangi setelah adanya penelantaran jabang bayi.

Diberitakan CNN, Rabu (17/11/2021), kasus ini bermula pada 2 Oktober tahun 2020. Sebanyak 13 warga Australia yang akan terbang ke Sydney menggunakan Qatar Airways 908 terpaksa mengalami penundaan.

Para wanita ini disuruh turun dari pesawat Qatar Airways. Mereka dipaksa menjalani pemeriksaan tanpa persetujuan dan tidak diberi penjelasan yang jelas saat transit melalui Qatar.

Saat itu ada penelantaran bayi yang baru lahir dan ditemukan terbungkus kantong plastik. Bikin geram, si bayi ditemukan di samping tempat sampah di kamar mandi, kata pemerintah saat itu.

Menyusul penemuan bayi itu, lebih dari 18 wanita dari 10 penerbangan berbeda, termasuk 13 warga Australia yang naik pesawat tujuan Sydney, terlibat dalam insiden tersebut.

Para wanita itu diturunkan dari pesawat oleh otoritas bersenjata Qatar dan menjalani pemeriksaan fisik di ambulans di landasan bandara. Pemeriksaan ini diduga untuk menentukan apakah mereka adalah ibu dari si jabang bayi.

"Dua dari wanita yang lebih muda menjadi sasaran pemeriksaan ginekologi yang sangat invasif. Semua pemeriksaan tidak berdasarkan kesepakatan," kata Damian Sturzaker, seorang pengacara yang mewakili para penumpang wanita yang berbasis di Sydney.

"Seorang wanita membawa bayinya yang berusia 5 bulan dan menjelaskan bahwa dia tidak mungkin menjadi ibu dari anak yang ditemukan ini. Tapi mereka harus memeriksanya dan memaksanya untuk melepas pakaian dalamnya," imbuh Sturzaker.

Pemeriksaan tersebut menimbulkan kemarahan di Australia dan di seluruh dunia. Tindakan ini disamakan dengan kekerasan seksual.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengecam insiden itu sebagai hal yang mengerikan dan tidak dapat diterima.

Pemerintah Qatar mengeluarkan pernyataan pada 28 Oktober tahun lalu dan meminta maaf atas setiap tekanan atau pelanggaran terhadap kebebasan pribadi setiap traveler sebagai akibat dari insiden tersebut.

CNN telah menghubungi pemerintah Qatar untuk mengomentari gugatan tersebut, tetapi belum menerima tanggapan. CNN juga telah menghubungi Qatar Airways untuk meminta komentar.

Para wanita itu menuntut ganti rugi yang tidak terbatas atas kerugian emosional, kehilangan pendapatan, dan perawatan medis. Sturzaker mengatakan bahwa gugatan akan diajukan dalam beberapa minggu ke depan di Mahkamah Agung New South Wales di Sydney, Australia.



Simak Video "Menlu Qatar Yakin Taliban Dapat Berubah"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA