Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 01 Des 2021 17:15 WIB

TRAVEL NEWS

Pengalaman Terbang ke Lombok Saat Pandemi: Kursi Penuh, Wajib Bermasker

Lucas Aditya
detikTravel
Citilink bersama BNN bekerja sama memerangi narkotika melalui kampanye terbaru yaitu pemasangan logo khusus di badan pesawat. Begini potretnya.
Ilustrasi Citilink (Putu Intan/detikcom)
Lombok Tengah -

Penerbangan ke Lombok di saat pandemi melandai sebelum wabah melanda. Bedanya, penumpang wajib bermasker dan menunjukkan hasil negatif antigen dan PCR.

Pagi itu, Jumat (19/11/2021), Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta Barat, ramai. Ada beberapa penerbangan pagi yang dilayani oleh beberapa maskapai.

Saya menjadi salah satu calon penumpang pagi itu. Saya hendak bertolak ke Bandara Zainuddin Abdul Madjid, Lombok, Nusa Tenggara Barat saat itu. Ada gelaran akbar World Superbike (WSBK) 2021 mulai 19-21 November 2021, ajang pemanasan sebelum Sirkuit Mandalika di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, saya bertugas melakukan peliputan.

Counter self check in yang berjejer digilir oleh para calon penumpang untuk mencetak boarding pass.

Ada beberapa hal yang berubah untuk melakukan perjalanan udara sejak pandemi COVID-19 pada Maret 2020. Penumpang harus sudah divaksinasi dua kali, juga menyertakan hasil swab test antigen atau PCR sebagai syarat perjalanan.

Aplikasi PeduliLindungi juga menjadi syarat wajib untuk melakukan perjalanan. Data mengenai status vaksin COVID-19 dan tes yang sudah dilakukan akan dicek dari aplikasi itu.

Agar lebih mudah, pastikan klinik tempat melakukan tes Swab sudah memasukkan data ke PeduliLindungi. Kalau tidak, traveler akan sedikit repot untuk melakukan pengesahan ke klinik di bandara. Lebih repot lagi kalau harus mencetak hasil tes, meskipun di bandara ada stand untuk nge-print.

Disetujui terbangBkti persetujuan terbang di aplikasi PeduliLindungi. (Lucas Aditya/detikcom)

Satu yang menjadi perhatian saya, baggage drop maskapai yang saya tumpangi tidak memisah menurut tujuannya. Semua penerbangan dijadikan satu, meski counter yang dibuka banyak, calon penumpang tetap mengantre. Saya sendiri mesti menghabiskan waktu selama lebih dari satu jam untuk menaruh barang ke bagasi.

Sebelum masuk gate, ada pemeriksaan lagi. Mekanisme-nya mirip dengan seperti saat di Imigrasi. Tapi, untuk penerbangan domestik, yakni memeriksa kelayakan terbang calon penumpang. Setelah semua beres, traveler disilakan masuk ke gate.

Kapasitas pesawat ke Lombok saat itu sudah terisi penuh. Memang, sebagian besar penumpang pergi ke sana ada kaitannya dengan WSBK 2021 di Mandalika. Dari row bagian belakang, nomor 26, saya bisa melihat dengan jelas semua kursi terisi, tak ada jeda sama sekali.

Perjalanan ke Lombok dari Jakarta ditempuh dengan durasi 2 jam. Ada perbedaan waktu sejam antara Jakarta dengan Lombok. Selama penerbangan, penumpang tak boleh melepas masker, hanya boleh saat makan atau minum saja.

Soal pengalaman naik pesawat, sama saja sebelum dan saat pandemi. Persamaan lain, masih ada saja penumpang yang sampai harus ditegur cabin crew untuk mematikan telepon genggam menjelang take-off. Kesadaran ini yang masih kurang pada penumpang pesawat di tanah air.

Saat tiba di bandara tujuan, jangan lupa mengisi e-HAC. Form-nya ada di PeduliLindungi. Kondisi kesehatan, asal penumpang, tujuan penumpang, dan maksud perjalanan yang diisi. Ada juga nomor penerbangan dan nomor kursi. Saat akan keluar pintu kedatangan akan ada petugas yang memeriksa form e-Hac.



Simak Video "Kagumi Sirkuit Mandalika, Pembalap Ducati Berterima Kasih ke Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA