Hari Primata Indonesia: Menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari Krisis Batang Toru

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hari Primata Indonesia: Menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari Krisis Batang Toru

Femi Diah - detikTravel
Jumat, 30 Jan 2026 12:32 WIB
Hari Primata Indonesia: Menyelamatkan Orangutan Tapanuli dari Krisis Batang Toru
Orangutan tapanuli (DW Soft News)
Jakarta -

Bencana ekologis di Batang Toru pada akhir November 2025 menjadi peringatan keras bagi masa depan orangutan tapanuli dan ekosistem Sumatra. Momentum Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap 30 Januari menegaskan pentingnya penyelamatan Batang Toru melalui perlindungan hutan dan pengembangan wisata alam berbasis konservasi.

Banjir bandang dan longsor yang dipicu curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar pada 27-28 November 2025 merusak ribuan hektar hutan di jantung ekosistem Batang Toru. Kawasan itu merupakan satu-satunya habitat orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar paling langka di dunia.

Bencana tersebut tidak hanya mengancam keselamatan satwa dilindungi itu, tetapi juga melemahkan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Hilangnya tutupan hutan memperbesar risiko bencana lanjutan, mengganggu sumber air, serta mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada ekosistem Batang Toru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, orangutan tapanuli baru secara resmi diidentifikasi sebagai spesies baru pada 3 November 2017 dan dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Spesies ini hanya ditemukan di Batang Toru dan tidak memiliki habitat alternatif lain.

Dengan populasi yang diperkirakan hanya sekitar 800 individu dan status kritis (critically endangered) dalam Daftar Merah IUCN, orangutan tapanuli kini berada di titik yang sangat genting. Ancaman fragmentasi habitat yang telah berlangsung lama kini diperparah oleh bencana ekologis berskala besar.

ADVERTISEMENT

Ekosistem Batang Toru sendiri merupakan lanskap hidrologis penting di Sumatra Utara yang mencakup sembilan sub-daerah aliran sungai (Sub-DAS), dengan Sub-DAS Batang Toru sebagai yang terluas. Namun, kawasan itu telah terfragmentasi oleh aliran Sungai Batang Toru dan pembangunan infrastruktur, yang memisahkan habitat orangutan tapanuli ke dalam Blok Barat dan Blok Timur. Kondisi ini melemahkan daya lenting ekosistem dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Kajian ilmiah berbasis analisis satelit yang dirilis Erik Meijaard dan tim pada 15 Desember 2025 menunjukkan bahwa dampak bencana paling parah terjadi di Blok Barat.

Sekitar 3.964 hingga 6.451 hektar hutan mengalami kerusakan, yang diperkirakan akan menghilangkan sumber pakan alami orangutan hingga lima tahun ke depan. Studi tersebut juga memproyeksikan sekitar 33 individu terdampak langsung, dengan potensi kematian atau cedera berat mencapai 6,2 hingga 10,5 persen dari total populasi Blok Barat.

Dalam konservasi spesies yang terisolasi secara genetik, kehilangan lebih dari satu persen populasi per tahun sudah dikategorikan sebagai jalur cepat menuju kepunahan permanen. Artinya, dampak bencana itu bukan sekadar kerugian sementara, melainkan ancaman serius bagi kelangsungan spesies.

Analisis citra satelit Sentinel 2025 juga mengungkap bahwa perubahan tutupan lahan di lanskap Batang Toru turut memperparah dampak bencana. Hilangnya hutan meningkatkan kerentanan terhadap longsor dan banjir, sekaligus mengubah bencana alam menjadi bencana ekologis yang mengancam kehidupan manusia dan satwa liar di Sumatra.

Nah, Hari Primata Indonesia, 30 Januari, menjadi panggilan mendesak untuk bertindak. Penyelamatan orangutan tapanuli tidak bisa ditunda dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

"Bencana ekologis di Batang Toru adalah alarm keras bagi kita semua, tetapi juga momentum untuk berbenah. Orangutan tapanuli masih bisa diselamatkan jika pemulihan ekosistem dilakukan secara serius dan kolaboratif," ujar Direktur Program TFCA Sumatera Semedi seperti dikutip dari rilis kepada detikTravel, Jumat (30/1/2026).

"TFCA Sumatera melihat krisis ini sebagai titik balik untuk memperkuat perlindungan hutan, memperbaiki tata kelola lanskap, dan memastikan pembangunan tidak lagi mengorbankan masa depan keanekaragaman hayati," keterangan ditambahkan.

Pemerintah didorong untuk menetapkan moratorium terhadap aktivitas yang merusak ekosistem Batang Toru, memperluas koridor hijau penghubung habitat, serta menetapkan kawasan ini sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Langkah pencabutan sejumlah izin usaha di Batang Toru, termasuk PT Agrincourt dan NSHE, menjadi awal yang patut diapresiasi dan perlu diperkuat.

Di saat yang sama, peneliti dan praktisi konservasi perlu terus melakukan penilaian usai bencana untuk memastikan restorasi habitat berjalan berbasis sains. Dukungan publik juga sangat krusial, baik melalui kampanye edukasi, suara di media sosial, maupun dorongan kebijakan agar penyelamatan Batang Toru menjadi prioritas nasional.

"Kita tidak sedang bicara tentang satu spesies semata. Menyelamatkan orangutan tapanuli berarti menjaga fungsi ekologis Batang Toru sebagai penyangga kehidupan, pengendali bencana, dan sumber penghidupan masyarakat Sumatra. Dengan komitmen pemerintah, dukungan ilmuwan, dan suara publik yang kuat, harapan itu masih nyata," ujar Samedi.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Studi: 7% Orangutan Tapanuli Mati Akibat Banjir-Longsor Sumatera"
[Gambas:Video 20detik] (fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads