Makam Pemilik Ajian Pancasona yang Tidak Biasa, 'Tergantung' di Atas Tanah
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Berita Terpopuler detikTravel

Makam Pemilik Ajian Pancasona yang Tidak Biasa, 'Tergantung' di Atas Tanah

Tim detikTravel - detikTravel
Sabtu, 31 Jan 2026 10:15 WIB
Makam Pemilik Ajian Pancasona yang Tidak Biasa, Tergantung di Atas Tanah
Makam gantung di Blitar (Erliana Riady/detikcom)
Jakarta -

Ada sebuah makam berbentuk tidak biasa di Blitar. Makam itu seperti 'tergantung' di atas tanah. Konon, itu makam pemilik ajian Pancasona.

Di balik hiruk-pikuk kota Blitar yang terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir Proklamator Bung Karno, tersimpan sebuah legenda mistis yang menyelimuti sebuah rumah tua di Jalan Melati, Kepanjenkidul.

Tempat tersebut dikenal sebagai Pesanggrahan Djojodigdo, atau lebih populer di telinga masyarakat dengan sebutan 'Makam Gantung'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kompleks ini bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu kisah Patih Djojodigdo. Ia merupakan seorang tokoh sakti yang dipercaya menguasai ilmu Ajian Pancasona.

Di film-film pendekar zaman dulu, ajian Pancasona adalah sebuah ilmu kesaktian yang sering disamakan dengan Aji Rawa Rontek dalam cerita rakyat.

ADVERTISEMENT

Pemilik ajian ini diyakini tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah. Kepercayaannya, selagi tubuh sang pemilik ajian menyentuh tanah, maka dia tidak akan bisa mati dan akan hidup kembali.

Sosok utama di balik legenda ini adalah Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, atau akrab disapa Eyang Digdo. Ia bukan orang sembarangan. Eyang Digdo disebut memiliki darah bangsawan Yogyakarta.

Ia merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang kemudian melarikan diri ke arah timur hingga sampai di Blitar. Di Kota Proklamator ini, Eyang Digdo diangkat menjadi Patih pada 8 September 1877.

Kesaktiannya menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena kemampuannya mengalahkan Belanda menggunakan kecerdikan dan kesaktian yang didapat dari laku tirakat. Mitos yang paling kuat beredar adalah mengenai kematiannya.

Karena menguasai Ajian Pancasona, konon jika jasadnya menyentuh tanah, ia akan hidup kembali. Hal inilah yang memicu kepercayaan bahwa jasad Eyang Digdo tidak dikuburkan di dalam tanah, melainkan "digantung" agar tidak bangkit lagi.

Namun, realitas fisik makam tersebut sebenarnya tidaklah benar-benar melayang di udara, karena tidak mungkin untuk dilakukan secara fisika.

Meskipun disebut Makam Gantung, peziarah yang datang tidak akan menemukan peti mati yang bergelantungan dengan tali. Makam Eyang Digdo sebenarnya berada di atas tanah, namun dengan posisi nisan yang dibangun lebih tinggi dibandingkan makam pada umumnya.

Pondasi lantainya setinggi 50 cm dengan bangunan dasar berundak setinggi 1 meter. Juru kunci makam Lasiman menjelaskan sebutan 'Makam Gantung' sebenarnya merujuk pada benda-benda pusaka milik Eyang Digdo.

Karena kesaktiannya, baju kebesaran dan senjata-senjata pusakanya lah yang digantung di atas pusaranya, bukan jasadnya.

Meski demikian, aura mistis tetap terasa kental. Struktur cungkup makam yang unik seringkali menciptakan ilusi visual seolah-olah makam tersebut menggantung.

Memasuki area Pesanggrahan Djojodigdo, pengunjung akan disambut suasana yang wingit. Kompleks ini terdiri dari pekarangan luas yang di dalamnya terdapat rumah induk, makam, sumur tua, dan pepohonan rimbun seperti pohon dewandaru dan nagasari yang dipercaya memiliki tuah.

Dikutip jurnal "Legenda Pertempuran Patih Djojodigdo di Kota Blitar (Studi Cerita Rakyat)" yang ditulis oleh Desinta Ningtyas dan Sri Wahyu Widayati, ada aturan ketat bagi siapa saja yang ingin berziarah.

Pengunjung diwajibkan melepas alas kaki (sandal atau sepatu) sebagai bentuk penghormatan kepada Eyang Digdo. Selain itu, terdapat larangan membakar dupa.

Sebagai gantinya, peziarah disarankan membawa kembang telon wangi dan telur ayam kampung. Masyarakat percaya pelanggaran terhadap aturan ini mendatangkan bala, seperti kisah seorang pencuri pagar besi makam yang konon mengalami kelumpuhan hingga akhir hayatnya.

Namun, warisan Eyang Digdo bukan hanya soal klenik. Ia mewariskan filosofi hidup yang disebut Ta Pitu kepada keturunannya dan masyarakat Blitar. Ketujuh ajaran tersebut adalah sebagai berikut.

Tata: Mengetahui aturan dan sopan santun.
Titi: Teliti dan hati-hati dalam bertindak.
Tatag: Berani dan bertanggung jawab (mental baja).
Titis: Tepat dalam analisa dan perkiraan.
Temen: Bersungguh-sungguh dan jujur (gemi).
Taberi: Rajin dan tidak malas.
Tlaten: Sabar dan tekun dalam berusaha.
Hingga kini, setiap tanggal 1 bulan Ruwah, diadakan tradisi Haul Eyang Patih Djojodigdo yang melibatkan masyarakat sekitar dengan sajian wajib berupa ingkung ayam jago utuh dan sega gurih.

Tradisi ini menjaga nama Eyang Digdo tetap hidup, bukan sekadar sebagai pemilik Ajian Pancasona atau Rawa Rontek, tetapi sebagai leluhur yang dihormati di tanah Blitar.

Itulah berita terpopuler detikTravel, Jumat (30/1) kemarin. Selain itu, ada juga berita tentang peluang hidup macan tutul pincang di gunung Sanggabuana yang sangat tipis hingga heboh pemilik hotel di Lombok mengajak 3 warlok (warga lokal) untuk berhubungan seks secara Threesome.

Berikut Daftar Berita Terpopuler detikTravel, Jumat (30/1/2026):

1. Makam Tak Biasa Pemilik Ajian Pancasona, 'Tergantung' di Atas Tanah

2. Tipis, Peluang Hidup Macan Tutul Pincang di Gunung Sanggabuana

3. PN Solo Sahkan Nama KGPH Purbaya Jadi PB XIV, Begini Respons Keluarga

4. Foto Liburan Keluarga Wulan Guritno di Gili Meno

5. Ada Syuting Film yang Dibintangi Lisa BLACKPINK, Jalanan Jakarta-Kota Tua Ditutup

6. Penduduk Tinggal 14 Orang, Desa Ini Minta Status Warisan Dunia UNESCO Dicabut

7. Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara

8. Pertemuan Hangat Antara PB XIV Mangkubumi dan Mangkunegara X

9. Tembok Besar China Membeku, Jadi Tempat Seluncuran

10. Heboh WN Selandia Baru Pemilik Hotel di Lombok Ajak 3 Warlok Threesome




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads