Kawasan Glodok Chinatown menyimpan kisah-kisah terkait budaya yang tak bisa diabaikan. Kisah melegenda uga dimiliki Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio yang ada di kawasan pecinan di ibu kota itu.
Dalam tur jalan kaki Jakarta Good Guide, pemandu Dyansti Ara memaparkan berbagai wawasan menarik mengenai sejarah, toleransi, dan mitos yang terkait dengan kuil itu.
Kuil Toasebio memiliki altar yang didedikasikan untuk berbagai dewa, masing-masing dengan fokus doa yang unik. Di antara tokoh yang paling terkenal adalah Fat Cu Kung, yang secara umum dikenal oleh masyarakat sebagai Dewa Judi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namanya Fat Cu Kung. Nah, itu Dewa Kemenangan, tapi orang-orang kenalnya Dewa Judi. Beberapa ada yang percaya makanya kalau harus menang, harus ke situ dulu," ujar Dynasti kepada detikTravel bersama wisatawan, Rabu (7/1/2026).
Selain itu, terdapat sebuah altar yang didedikasikan untuk Cheng Goan Cheng Kun, seorang panglima militer yang ditunjuk oleh Kaisar China untuk melindungi para pedagang.
Kuil itu terus berfungsi sebagai tempat ibadah utama bagi para profesional bisnis, termasuk anggota keluarga Tan yang terkenal, seperti tokoh nasional terkemuka Hary Tanoesoedibjo.
Kisah Dewa Jodoh
Salah satu hal menarik dari Toasebio adalah adanya Dewa Jodoh, seperti yang disebutkan oleh Ara, jarang ditemui di kawasan Chinatown lainnya. Ara menjelaskan bahwa terdapat ritual unik bagi mereka yang ingin segera menemukan jodohnya di masa depan.
"Cuma di sini, di wilayah Chinatown yang ada dewa jodohnya. Itu ada sembahyangan bersama, ya biar enteng jodoh katanya. Ya pokoknya mereka lucu-lucu, deh," kata Ara.
Viharaini menjadi bukti nyata akan keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan. Di dalam kompleks ini, altar yang didedikasikan untuk Siddhartha Gautama, Konghucu, dan prinsip-prinsip Taoisme berpadu harmonis di bawah satu atap.
Situs ini memiliki nilai historis yang penting, karena diresmikan sebagai bagian dari desa wisata oleh Sandiaga Uno selama menjabat sebagai Menteri Pariwisata.
"Ini tempat Bapak Sandiaga Uno meresmikan Glodok menjadi kota atau desa wisata, ketika beliau menjadi Menteri Pariwisata Republik Indonesia. Jadi, resminya di sini waktu itu," ujarnya.
Belajar dari insiden kebakaran di masa lalu yang menimpa Vihara Cen Tek Yen (Dharma Bhakti) pada 2015, menurut Ara, Toasebio menerapkan protokol keamanan ketat.
Di sini nggak ada lilin besar yang banyak. Kalau kalian lihat lilin di dalam, itu bukan lilin ya, itu dari tong, pakai sumbu doang, bawahnya minyak. Bukan lilin asli," kata dia.
"Nanti kalau ada perayaan atau penyalaan lilin, mereka taruh lilin di depan, ini ditendain. Nyalain lilinnya malam tadi, malam Imlek mereka akan nyalain lilin di dalam sampai Cap Go Meh nanti dipindahin ke belakang. Ya jadi nggak ada risiko itu karena mereka tetap takut, ini kan padat penduduk ya jadi takutnya terjadi kebakaran," kata Ara.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?