Tay Seng Hoo, Toko Obat Legendaris di Glodok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tay Seng Hoo, Toko Obat Legendaris di Glodok

Hans Wilhem - detikTravel
Senin, 02 Feb 2026 12:39 WIB
Tay Seng Hoo, Toko Obat Legendaris di Glodok
Tay Seng Hoo, toko obat legendaris di Glodok (Hans Wilhem/detikcom)
Jakarta -

Di tengah keramaian yang ramai di kawasan Glodok, Jakarta Barat, sebuah toko obat tradisional Tionghoa berdiri kokoh, seolah-olah tak tersentuh oleh perjalanan waktu. Toko tersebut dikenal dengan nama Tay Seng Hoo.

Tempat ini bukan hanya sekadar apotek herbal, tetapi menjadi saksi bisu akan sejarah kaya Jakarta yang bermula sejak 1920-an. Tay Seng Hoo bukan sekadar nama seseorang, toko ini dimulai era kolonial Jepang di Indonesia.

Saat tim detikTravel mengikuti tur jalan kaki Jakarta Good Guide, yang dipandu oleh Dyansti Ara, keunikan bangunan ini langsung terasa saat pengunjung tiba. Level lantai toko berada lebih rendah dari jalan raya, sehingga pengunjung harus turun tangga untuk masuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau teman-teman perhatikan, kita harus turun tangga ke bawah karena penurunan tanah di Jakarta ini sangat luar biasa, jadi bangunannya lebih rendah daripada jalanan," ujar Ara kepada detikTravel bersama wisatawan lainnya, Rabu (7/1/2026).

Tay Seng Hoo, toko obat legendaris di GlodokTay Seng Hoo, toko obat legendaris di Glodok (Hans Wilhem/detikcom)

ADVERTISEMENT

Meski zaman sudah modern, Tay Seng Hoo tetap mempertahankan jasa sinse, dokter tradisional yang mendiagnosis penyakit melalui denyut nadi dan pemeriksaan telapak tangan.

Di dalamnya, deretan lemari laci obat kayu yang sudah berusia seabad masih kokoh berdiri, menyimpan ribuan jenis herbal yang mayoritas didatangkan langsung dari China Selatan.

"Barang-barang atau obat-obatan di sini didatangkan langsung dari China Selatan, makanya harganya agak pricey. Nanti setelah teman-teman konsultasi, dikasih resep, lalu di sebelah kanan itu ada bapak-bapak yang sudah sepuh, itu yang meracik obatnya," ujar Ara.

Vincent, generasi keempat, salah satu yang ikut mengelola toko ini, mengungkapkan bahwa penyakit yang paling sering dicari pengobatannya adalah diabetes, wasir, hingga stroke.

"Diabetes, wasir, itu yang paling banyak. Belakangan lagi banyak yang stroke juga, tapi nggak cuma orang tua, anak muda juga ada yang mulai kena, tapi paling banyak yang sudah 40 tahun ke atas. Sama kista juga banyak," kata Vincent.

Tay Seng Hoo, toko obat legendaris di GlodokTay Seng Hoo, toko obat legendaris di Glodok (Hans Wilhem/detikcom)

Salah satu primadona di sini adalah Pien Tze Huang, sebuah obat premium berbentuk pil yang dibanderol Rp 2,2 juta.

"Ada yang cukup banyak orang pakai, namanya Pien Tze Huang. Itu harganya sekarang Rp2,2 juta untuk satu pil. Nanti ditumbuk jadi enam kapsul. Biasanya buat obat setelah operasi, kayak sesar gitu, buat bantu keringin luka sama pereda nyeri," kata dia.

Tay Seng Hoo menunjukkan integrasi yang mulus antara tradisi dan teknologi. Saat ini, mereka telah memperluas kehadiran mereka di platform media sosial seperti Instagram @taysenghoo untuk berinteraksi dengan generasi muda. Memang, konsultasi kini dapat dilakukan melalui WhatsApp bagi individu yang mungkin merasa terlalu malu untuk bertemu langsung dengan seorang Sinse.

Selama pandemi COVID-19, Dyansti mengungkapkan toko ini menjadi sumber untuk membantu pelanggan yang mencari obat herbal guna mencegah penyebaran virus.

"Waktu COVID di sini ramai banget jualan obat anti-corona. Jual satu pil Rp 150.000, sehari minum tiga. Waktu Covid, mereka akan kasih meja di sini terus kasih catatan. Kalau mau beli tinggal nanti taruh kertas, nanti mereka ambil kertasnya, mereka taruh di meja obatnya. Jadi tidak ada bersentuhan," kata dia.

Tay Seng Hoo telah beralih dari sekadar menyediakan layanan medis menjadi juga menjadi objek wisata. Vincent mencatat bahwa banyak pengunjung internasional, terutama dari Belanda, sengaja datang dengan bus wisata untuk melihat koleksi foto historis dan merasakan suasana toko tersebut.

"Banyak turis-turis, kadang ada yang spesial turis Belanda sampai bawa bus parkir di ujung, itu sudah rutin datang ke sini. Tapi mereka biasanya nggak belanja, cuma lihat-lihat saja, sudah dianggap kayak museum," Vincent.




(fem/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads